Kekecewaan Spanyol setelah kekalahan di final Kejuaraan Eropa musim panas lalu terasa begitu mendalam. Mungkin tidak ada cara yang lebih kejam untuk kalah selain melalui adu penalti, dan teori itu diperkuat oleh kesedihan yang ditunjukkan para pemain dan staf La Roja setelah Inggris bangkit dan membawa pertandingan di Basel ke babak perpanjangan waktu, lalu mengalahkan juara dunia itu 3-1 melalui adu penalti. "Sangat kejam," kata Aitana Bonmati, pemenang Ballon d'Or tiga kali. "Ini akan terasa sakit untuk beberapa waktu."
Dengan waktu kurang dari setahun lagi menjelang dimulainya Piala Dunia Wanita 2027, beberapa kandidat terkuat untuk merebut trofi sudah terlihat jelas. Spanyol, juara bertahan, dan Inggris, runner-up 2023 yang mengalahkan La Roja di final Kejuaraan Eropa musim panas lalu, berada di barisan terdepan. Kemenangan Olimpiade Amerika Serikat pada 2024 membuat mereka kembali menempati posisi teratas dalam kancah sepak bola internasional, sementara Brasil, sebagai tuan rumah dan juara Amerika Selatan, juga akan mengincar peluang mereka. Namun, Piala Asia bulan ini telah menjadi pengingat bahwa Jepang juga harus dipertimbangkan sebagai bagian dari persaingan tersebut.
Bulan lalu, ketika manajer tim Lionesses, Sarina Wiegman, ditanya apakah ada kekhawatiran bahwa situasi kontraknya bisa menjadi gangguan bagi Inggris menjelang Piala Dunia Wanita 2027, dia menjawab dengan sangat optimis. "Tidak ada gangguan sama sekali," katanya. "Semua orang benar-benar fokus pada kualifikasi ini. Saya belum mendengar ada orang di tim atau staf saya yang terpengaruh oleh hal itu."
Kapten timnas Inggris, Leah Williamson, sangat bertekad untuk memenangkan Piala Dunia 2027 guna melengkapi koleksi trofi besar yang ada di sepak bola wanita. Bek Arsenal ini telah meraih banyak penghargaan, namun satu trofi masih belum ada di lemarinya, dan ia telah mengungkapkan keinginannya untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh trofi terbesar dalam sepak bola internasional.
Pelatih tim Lionesses, Sarina Wiegman, yakin bahwa topik mengenai masa depannya bersama tim tidak akan menjadi gangguan saat Inggris memulai upaya mereka untuk lolos ke Piala Dunia Wanita 2027. Wiegman, yang telah memimpin Lionesses meraih dua gelar juara Eropa berturut-turut, masih terikat kontrak hingga akhir turnamen tahun depan dan mengatakan tidak ada "perkembangan" terkait perpanjangan kontrak, namun ia yakin situasi ini tidak menjadi perhatian staf atau pemainnya saat ini.
Dari lagu-lagu kebanggaan yang menggema di stadion hingga terik yang menyengat di tengah arena penuh sesak, musim panas 1994 menandai momen ketika sepakbola—atau soccer, sebagaimana orang Amerika menyebutnya—benar-benar menerobos benak masyarakat Amerika Serikat. Inilah Piala Dunia yang mengubah segalanya: titik temu gairah global dengan panggung hiburan khas Negeri Paman Sam, tempat dua budaya olahraga yang berbeda mulai menyatu.