(Sepakbola) Jerman Yang Tidak Henti Bikin Kagum

Komentar()
Faraby Firdausi
Prinsip hidup dari orang Jerman benar-benar diterapkan dalam cara mereka membangun sepakbola dan kompetisinya.

OLEH   FARABI FIRDAUSY     DARI     JERMAN

"Besok bus akan berangkat jam 11 dan kita pergi ke stadion, semua harus kumpul 10.30. Harus on time, karena kami orang Jerman," ucap Loredana Heggen kepada rombongan jurnalis yang diundang Bundesliga International ke Jerman.

Goal Indonesia menjadi salah satu media Asia Tenggara yang beruntung bisa mendapat undangan tersebut. Agenda berlangsung selama empat hari, 14-16 April termasuk perjalanan, dengan sajian utama Ruhr Derby antara Schalke 04 menjamu Borussia Dortmund pada hari ketiga.

Loredana sendiri menjadi salah satu pendamping kami, dia merupakan asisten direktur Bundesliga International. Selain dia, Maurice Görges yang merupakan direktur marketing dan komunikasi Bundesliga untuk Asia Pasifik juga setia mendampingi rombongan Jurnalis yang berasal dari Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam dan tentu Indonesia.

Saya pribadi langsung merasa jatuh cinta dengan suasana Jerman ketika kami tiba di Düsseldorf. Kebetulan kota tersebut indentik dengan fashion dan seni, segala bangunan terlihat minimalis dan modern. Orang-orang yang hilir mudik dengan berjalan kaki atau naik sepeda juga nampak memerhatikan gaya pakaian mereka. Sampai stadion dari klub profesional setempat, Fortuna Düsseldorf, bernama Esprit Stadion. Esprit merupakan brand fashion dari Amerika Serikat.

Tak bisa beristirahat lama setelah perjalanan hampir 14 jam, kami pun langsung mengikuti workshop dari Bundesliga yang dipimpin oleh Maurice. Segala hal dan ambisi Bundesliga di kawasan Asia dijelaskan dengan data dan rombongan pun menikmati workshop yang berlangsung empat jam tersbebut.

"Kami sadar saat ini popularitas dari Liga Primer [Inggris] sangat tinggi di kawasan Asia, tapi secara kenyataan industri kami benar-benar hidup dan Bundesliga [secara popularitas] sangat bersaing dengan LaLiga [Spanyol] atau Serie A [Italia]," ucap Maurice sambil menunjukkan sejumlah data.

Tingkat kedatangan suporter ke stadion untuk laga Bundesliga memang yang tertinggi di antara liga-liga lain di seluruh dunia, tercatat persentasenya 41 persen, sementara Inggris di posisi kedua dengan 36 persen. Maurice juga menjelaskan, akan sangat sulit mendapatkan tiket tim besar seperti Borussia Dortmund atau Bayern München karena umumnya suporter sudah memegang tiket musiman.

"Kami juga tidak mematok tiket dengan harga mahal, setiap klub berbeda-beda. Tapi bisa dipastikan bahwa sepakbola di sini adalah milik semua, suporter dari semua kalangan," singkatnya.

Yang unik dan luar biasa lagi dari Bundesliga adalah mayoritas klub separuh sahamnya adalah milik suporter, dengan keberadaan aturan 50+1. "Kami benar-benar hidup dari suporter, semua pendapatan mayoritas didapat karena suporter [lokal] kami. Mereka adalah keluarga dan juga pemegang saham, mereka selalu akan terlibat dalam pengambilan keputusan klub," urai Maurice.

"Saya pikir kami tidak perlu takut untuk kehilangan figur bos yang berasal dari kilang minyak, yang bisa tiba-tiba pergi lalu membuat klub bangkrut. Kami mencetak pemain dan tidak akan mungkin belanja pemain seharga ratusan juta. Suporter kami tidak akan setuju dan suka melihat pemain [semahal itu] pergi naik jet pribadi hanya untuk belanja," bebernya.

Apa yang disampaikan Maurice memang ada benarnya jika mendalami segala fakta soal prestasi Jerman di level internasional, serta pemain-pemain hebat yang terus bermunculan. Posisi suporter di klub Bundesliga juga membuktikan bahwa sepakbola modern masih bisa dipertahankan kesuciannya.

Bundesliga sendiri tak ada habisnya mencetak inovasi dari tahun ke tahun, seperti layaknya Jerman sebagai negara yang selalu inovatif dan terdepan soal teknologi dan hal itu mereka terapkan dalam sepakbola. Beberapa terobosan dari Bundesliga antara lain Video Assistant Referee (VAR), Goal Line Technologyspidercam, serta menjadi satu-satunya liga yang sudah disiarkan dengan penyiaran beresolusi 4K.

"Kami harus terus mencoba berinvovasi dan membuat terobosan, dan DFL [Deutsche Fußball Liga, operator kompetisi profesional Jerman] sejauh ini terus membuat hal itu di Bundesliga. Ada konsentrasi dan batasan yang jelas antara DFL dan DFB [federasi sepakbola Jerman] dalam mengelola sepakbola di sini."

Kini tiba di hari kedua, di mana kami berkesempatan untuk menyaksikan partai penting antara Bayer Leverkusen menjamu Eintracht Frankfurt di BayArena. Kedua tim dalam perebutan tempat untuk lolos ke Liga Champions musim depan, namun yang jadi incaran awak media adalah Niko Kovač -- yang sehari sebelumnya diumumkan sebagai pelatih Bayer München musim depan.

BayArena

Lagi-lagi saya dibikin kagum dengan Jerman. Setelah Düsseldorf yang ramah dan tentram, kami tiba di Leverkusen dengan kemegahan dari BayArena dan atmosfer matchday yang sangat terasa. Bar-bar di kawasan perumahan dekat stadion dipenuhi suporter Leverkusen yang siap menyerbu BayArena.

Suporter Frankfurt tak kalah banyak dan berisik di jalanan, kadang coba memancing suporter Leverkusen, namun dipastikan tidak akan ada yang berani untuk baku hantam. Kami juga diajak ke akademi milik Leverkusen yang jaraknya 10 menit dari BayArena, dari situ saya langsung memahami alasan di balik kesuksesan Jerman mencetak pemain-pemain hebat.

Pertandingan berjalan seru, Leverkusen menang 4-1 dengan hattrick dari Kevin Volland. Suporter kedua tim berisik, ditambah MC stadion yang seru dan musik yang muncul setiap kali ada gol. Sajian dari tuan rumah kepada awak media juga luar biasa -- yang sudah menjadi standar untuk setiap partai Bundesliga.

"Kami orang Jerman, jika melakukan sesuatu kami melakukan dengan selayaknya," begitu kata Maurice, menjelaskan bagaimana Bundesliga memerhatikan secara detail dan melakukan semuanya dengan serius dan benar, termasuk dalam mengemas pertandingan di stadion atau pun secara penyiaran.

Niko Kovač - Eintracht Frankfurt

 

Tutup