Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Halaman ini berisi tautan afiliasi. Ketika Anda melakukan pembelian melalui tautan yang disediakan, kami dapat memperoleh komisi.
Thomas TuchelGetty Images

Diterjemahkan oleh

Mengapa Inggris asuhan Thomas Tuchel gagal di Piala Dunia FIFA 2026

England memasuki turnamen sebagai salah satu favorit untuk melaju hingga akhir dan ekspektasi pun sangat tinggi setelah menunjuk Thomas Tuchel, yang dipandang sebagai salah satu pelatih terbaik untuk laga sistem gugur, namun mereka tetap gagal memaksimalkan talenta besar yang dimiliki.

England gagal memenuhi ekspektasi di Piala Dunia FIFA 2026 setelah tersingkir di babak semifinal oleh Argentina, yang kemudian menjadi runner-up. Kini, setelah euforia Piala Dunia sedikit mereda, tulisan ini menyoroti sejumlah faktor kunci di balik kegagalan England.

Pendekatan yang mengutamakan pemain atau sistem

Thomas Tuchel awalnya memicu tanda tanya ketika memutuskan mencoret pemain seperti Palmer, Foden, dan Trent Alexander-Arnold, yang dianggap sebagai talenta generasi, demi memberi tempat kepada pemain yang oleh banyak penggemar dianggap memiliki kualitas di bawah mereka.

Pilihan Tuchel menunjukkan preferensi pada kecocokan taktis ketimbang mengakomodasi sebanyak mungkin bintang kreatif. Ia lebih memilih winger direct seperti Saka, Rashford, Gordon, dan Madueke, yang secara alami lebih cenderung menjaga lebar permainan dan merentangkan lapangan, sehingga menciptakan ruang di area sentral bagi pemain seperti Kane, Bellingham, dan Rogers untuk menebar ancaman.

Gagasan ini masuk akal secara teori, tetapi sepanjang turnamen England kerap kesulitan saat menghadapi pertahanan rapat yang mampu menandingi mereka secara taktis, dan membutuhkan percikan kreativitas serta imajinasi yang akan membuat segalanya jauh lebih mudah.

England kesulitan mengendalikan momen-momen terbesar

Gelandang England yang diisi Rice dan Elliot Anderson kerap kesulitan menjaga penguasaan bola dan mengalirkan bola pada level elite, dan hal ini tidak mengejutkan mengingat profil alami serta temperamen mereka saat menguasai bola.

Pilihan lini tengah Tuchel condong kepada pemain yang menawarkan intensitas pressing, kekuatan lari, dan etos kerja defensif, yang berarti mereka kekurangan pemain yang mampu secara konsisten menerima bola di antara lini, keluar dari tekanan, dan mengontrol penguasaan bola saat menghadapi lawan elite.

Dalam sepakbola sistem gugur, keunggulan atletik cenderung berkurang karena margin perbedaannya sangat tipis. Kualitas teknis dan pengambilan keputusan menjadi lebih berharga. Kendali lini tengah England kalah dibandingkan tim seperti Spanyol dan Argentina, yang sangat mengandalkan pemain dengan teknik aman untuk mendominasi penguasaan bola dan mengelola momen bertekanan tinggi.

Ciri paling menonjol dari England racikan Tuchel bukanlah kurangnya talenta untuk meniru apa yang bisa dilakukan tim seperti Spanyol dan Argentina, melainkan jenis talenta yang diprioritaskan. Pilihan Tuchel dari belakang hingga depan secara konsisten lebih mengutamakan atletisme, intensitas, dan keandalan defensif ketimbang keamanan teknis dalam penguasaan bola. Meski kualitas-kualitas tersebut sangat berharga, Piala Dunia kerap dimenangi oleh tim yang mampu mengendalikan ritme pertandingan di bawah tekanan besar.

England memiliki pelari, perebut bola, dan pemain dengan energi tinggi untuk pressing di seluruh area lapangan, tetapi terlalu sering kekurangan pemain yang mampu menerima bola di bawah tekanan, memanipulasi ruang lewat sentuhan pertama, dan menentukan tempo ketika pertandingan menjadi kacau. Saat menghadapi lawan terkuat di turnamen, ketimpangan itu semakin terlihat jelas dan pada akhirnya terekspos.

Kesimpulan

Kampanye Piala Dunia 2026 milik England pada akhirnya akan dikenang sebagai satu lagi peluang yang terbuang. Meski memiliki salah satu skuad paling bertalenta di turnamen dan menunjuk salah satu ahli taktik paling dihormati di Eropa dalam diri Thomas Tuchel, England sekali lagi gagal mengangkat trofi terbesar di sepakbola.

Meski banyak pihak akan menunjuk kesalahan individu atau margin tipis sebagai penyebab, kekurangan England berakar pada persoalan taktis yang lebih dalam. Mulai dari identitas serangan yang tidak jelas hingga profil skuad yang kerap lebih mengutamakan atletisme daripada keamanan teknis, England kesulitan untuk secara konsisten mengontrol pertandingan melawan oposisi elite.

Analisis ini mengulas dua alasan terbesar di balik kegagalan England dan menelaah mengapa tim yang diberkahi talenta kelas dunia itu tidak pernah sepenuhnya mewujudkan potensinya saat momen paling menentukan tiba.

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google