Naim Beneddra

Koresponden sepak bola Prancis dan Eropa

📝 Bio: Redaktur di GOAL selama hampir dua puluh tahun, saya hidup mengikuti irama sepak bola dan menulis. Pecinta sepak bola Inggris dan ahli sepak bola Afrika, dengan perhatian khusus pada Fennecs Aljazair, tentu saja. Saya juga mengikuti sepak bola Rusia karena asal-usul saya. Penggemar Liverpool FC sejak era Finnan, Biscan, dan Djimi Traoré, saya mengikuti perkembangan Reds jauh sebelum mereka kembali ke puncak. Saat ini, saya beruntung memimpin edisi Prancis GOAL, sebuah peran yang menggabungkan keahlian, gairah, dan ketelitian editorial.

⚽ Cerita saya dengan sepak bola: Ketertarikan saya pada sepak bola dimulai pada Juni 1990, dengan sundulan terkenal Omam-Biyik melawan Argentina. Sebuah kejutan mendasar… dan bukti bahwa saya tidak lagi termasuk kategori “bakat muda”! Sejak itu, perjalanan saya sebagai penggemar membawa saya dari album Panini ke kolom GOAL, dengan obsesi yang utuh untuk menceritakan sepak bola. Sebelum Gerrard, idola saya adalah Pierre Littbarski, dengan kaki yang melengkung dan kejeniusan dalam mengontrol bola.

🎯 Bidang keahlian:

Premier League dan sepak bola Inggris (analisis, budaya, sejarah)

Sepak bola Afrika dan tim nasional Aljazair

Sepak bola Rusia dan konteks internasional

Turnamen internasional besar (Piala Dunia, Euro, Piala Afrika)

🌟 Momen sepak bola favorit:

Tembakan keras Anthar Yahia melawan Mesir di Oum-Dourman tahun 2009, sebuah momen yang memberi Aljazair tiket ke Piala Dunia.

📚 Artikel favorit:

Potret Virgil Van Dijk saat awal kariernya di Liverpool

Kisah mengharukan Ivan Klasnic

Cerita kemenangan Yunani di Euro 2004 bersama Karagounis dan Nikopolidis

Artikel oleh Naim Beneddra
  1. LEGACY: Setan Prancis Yang Dirukiah & Lahirnya Sebuah Legenda

    Ini Legacy, seri feature dan podcast GOAL yang menemani hitung mundur menuju Piala Dunia 2026. Setiap minggu, kami menyelami kisah-kisah dan warisan yang membentuk negara-negara sepakbola terbesar. Kali ini, kami menoleh ke Prancis 1998; dari patah hati di Seville dan luka di Bulgaria, sampai pada malam ketika Zinedine Zidane mengangkat trofi emas itu di Paris. Ini adalah kisah tentang bagaimana Prancis membebaskan diri dari setan yang membelenggu—dan menempa identitas juara yang hingga kini masih melekat di seragam Les Bleus.