Ceferin TrumpCeferin Trump

Manuver Donald Trump: UEFA Tunda Voting Pelarangan Israel Dari Sepakbola Usai Rencana Damai Gaza Diumumkan

Sebuah drama geopolitik tingkat tinggi secara tak terduga telah menunda salah satu keputusan paling krusial dalam dunia sepakbola modern. Rencana pemungutan suara (voting) oleh Komite Eksekutif UEFA untuk menentukan nasib partisipasi Israel di kompetisi Eropa kini resmi ditunda.

Penundaan ini datang sebagai respons langsung terhadap perkembangan politik besar di panggung dunia: peluncuran inisiatif perdamaian baru oleh presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang bertujuan untuk mengakhiri perang selama dua tahun di Gaza.

Menurut berbagai sumber, para petinggi sepakbola Eropa kini merasa tidak pantas untuk menjatuhkan sanksi olahraga kepada Israel di saat proses pembicaraan damai yang sensitif sedang diupayakan. Sikap ini mengubah total dinamika yang ada dalam sepekan terakhir.

Padahal sebelumnya, tekanan terhadap UEFA untuk segera bertindak telah mencapai puncaknya. Desakan ini dimotori oleh laporan komisi PBB, tuntutan dari beberapa federasi nasional, serta petisi dari para atlet. Intervensi dari presiden AS ini telah secara efektif menghentikan momentum tersebut, setidaknya untuk sementara waktu.

  • Donald TrumpGetty

    Plot Twist: Voting Ditunda Berkat Manuver Trump

    Rencana UEFA untuk menggelar pemungutan suara krusial yang dapat berujung pada penangguhan Israel dari seluruh kompetisi sepakbola Eropa telah secara resmi ditunda. Keputusan ini datang secara tiba-tiba, tepat di saat tekanan publik dan internal untuk menggelar voting tersebut justru sedang berada di puncaknya.

    Alasan utama di balik penundaan ini adalah sebuah manuver diplomatik tingkat tinggi dari presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia baru saja mengumumkan sebuah "rencana damai 20 poin" yang baru untuk mengakhiri perang di Gaza dan dilaporkan telah memberikan ultimatum "tiga atau empat hari" kepada Hamas untuk memberikan respons.

    Inisiatif perdamaian ini langsung mengubah sentimen di kalangan para petinggi sepakbola Eropa. Sumber-sumber internal UEFA menyebutkan bahwa para pemimpin kini merasa "tidak pantas untuk menjatuhkan sanksi olahraga kepada Israel di tengah-tengah pembicaraan damai" yang sedang berlangsung.

    Penundaan ini juga sejalan dengan janji yang telah diutarakan oleh pemerintahan Trump sebelumnya. Mereka menegaskan akan turun tangan untuk mencegah segala bentuk upaya pelarangan terhadap Israel. Intervensi diplomatik ini terbukti efektif dalam mengubah agenda jangka pendek UEFA dan menunda keputusan yang sangat dinanti-nantikan.

  • Iklan
  • NORWAY-ISRAEL-PALESTINIAN-CONFLICT-FBL-WC-2026-NOR-ISRAFP

    Tekanan Intens yang Hampir Membuahkan Hasil

    Sebelum adanya intervensi dari Trump, tekanan terhadap UEFA untuk mengambil tindakan tegas terhadap Israel telah mencapai level yang sangat tinggi. Desakan ini semakin kuat setelah komisi penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menyatakan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza.

    Laporan PBB tersebut menjadi amunisi bagi pihak-pihak yang menuntut sanksi. Federasi Sepakbola Turki menjadi anggota UEFA pertama yang secara terbuka menuntut agar Israel segera dilarang dari semua kompetisi. Hal ini diikuti oleh petisi yang ditandatangani oleh puluhan atlet profesional di bawah bendera "Athletes for Peace".

    Tekanan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Laporan dari media Inggris, The Times, bahkan menyebutkan bahwa "sebagian besar anggota komite eksekutif dan federasi telah mendukung penangguhan." Hal ini mengindikasikan bahwa jika voting jadi digelar, kemungkinan besar hasilnya adalah sanksi untuk Israel.

    Dengan adanya penundaan ini, momentum yang telah dibangun dengan susah payah oleh para penentang partisipasi Israel kini terhenti secara tiba-tiba. Nasib dari kampanye mereka kini sangat bergantung pada hasil dari inisiatif perdamaian yang digagas oleh Trump.

  • FBL-POR-NOR-UEFA-CONGRESSAFP

    Suara-Suara Kritis di Internal UEFA

    Meski voting secara keseluruhan ditunda, suara-suara kritis terhadap partisipasi Israel di internal UEFA tetap terdengar nyaring. Salah satu yang paling vokal adalah presiden Federasi Sepakbola Norwegia, Lise Klaveness, yang juga merupakan salah satu dari 20 anggota Komite Eksekutif UEFA.

    Klaveness secara pribadi meyakini bahwa Israel seharusnya sudah ditangguhkan dari kompetisi, sama seperti sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia. "Secara pribadi, saya percaya bahwa karena Rusia sudah keluar, Israel juga seharusnya keluar," ujarnya dalam sebuah podcast, menyoroti pentingnya penegakan aturan yang setara dan berprinsip.

    Namun, ia juga menjelaskan adanya dilema strategis yang rumit. Klaveness menentang ide boikot sepihak dari Norwegia karena hal itu justru akan merugikan mereka sendiri. "Boikot (sepihak) hanya akan membuat Israel lolos ke Piala Dunia, bukan kami," jelasnya. Ia menegaskan bahwa sanksi harus datang dari UEFA secara kolektif agar efektif.

    Sikap hati-hati juga ditunjukkan oleh manajer timnas Norwegia Stale Solbakken. Menjelang pertandingan krusial melawan Israel bulan ini, ia menolak untuk membahas konflik tersebut dan menyatakan baru akan memberikan pandangannya setelah pertandingan selesai. Ini menunjukkan betapa sensitifnya isu ini bahkan di level teknis.

  • Israel v Belgium - UEFA Nations League 2024/25 League A Group A2Getty Images Sport

    Kompleksitas Sanksi: Beda Yurisdiksi UEFA dan FIFA

    Sebuah detail hukum yang sangat penting dan sering terlewatkan dalam perdebatan ini adalah perbedaan yurisdiksi antara sanksi yang dijatuhkan oleh UEFA dan FIFA. Laporan dari media Inggris, The Guardian, mengklarifikasi bahwa sanksi dari UEFA tidak serta-merta berlaku untuk semua kompetisi sepakbola di dunia.

    Jika UEFA pada akhirnya memutuskan untuk menangguhkan Israel, sanksi tersebut hanya akan berlaku untuk kompetisi-kompetisi yang berada di bawah kendali mereka. Ini berarti tim nasional Israel akan dilarang tampil di Kejuaraan Eropa (Euro) dan UEFA Nations League, sementara klub seperti Maccabi Tel Aviv akan dikeluarkan dari Liga Europa.

    Namun, sanksi dari UEFA ini tidak akan secara otomatis melarang Israel dari Piala Dunia. Karena Piala Dunia adalah kompetisi yang diselenggarakan oleh FIFA, Israel secara teori akan tetap diizinkan bermain di putaran final 2026 jika mereka berhasil lolos dari babak kualifikasi.

    Hal ini menciptakan potensi kebingungan dan bahkan konflik antara kedua badan sepakbola tersebut. Skenario di mana UEFA menjatuhkan sanksi tetapi FIFA (yang berada di bawah pengaruh lobi AS) menolak untuk mengikutinya adalah sebuah kemungkinan yang sangat nyata dan dapat memicu krisis tata kelola sepakbola global.

  • FBL-WC-2026-EUR-QUALIFIER-ISR-ITAAFP

    Status Quo & Pertarungan di Balik Layar

    Dengan ditundanya voting, status quo untuk sementara waktu tetap berlaku. Ini berarti jadwal pertandingan internasional yang telah ditetapkan akan terus berjalan. Israel dijadwalkan akan tetap melakoni laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang sangat penting melawan Norwegia dan Italia pada Oktober.

    Di balik layar, pertarungan tidak hanya terjadi di ranah diplomasi, tetapi juga di ranah komersial. Asosiasi Sepakbola Israel (IFA) baru-baru ini mengklaim bahwa mereka telah berhasil meyakinkan produsen apparel Reebok untuk tidak mengakhiri kontrak sponsor seragam mereka, sebuah kemenangan kecil dalam perang narasi.

    Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Reebok. Perusahaan apparel tersebut menyatakan bahwa laporan tersebut "tidak benar" dan menegaskan kembali posisi mereka yang netral. "Kami tidak berurusan dengan politik; kami berurusan dengan olahraga," kata juru bicara Reebok, menunjukkan adanya perang klaim di antara kedua belah pihak.

    Pada akhirnya, nasib jangka pendek partisipasi Israel di sepakbola Eropa kini bergantung sepenuhnya pada hasil dari pembicaraan damai yang diinisiasi oleh Donald Trump. Dunia sepakbola, yang biasanya berjalan dengan agendanya sendiri, kini harus menunggu perkembangan politik global sebelum bisa mengambil langkah selanjutnya.

0