Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

Manchester Cityai

Diterjemahkan oleh

"Segitiga Bermuda" lengkap dengan absennya Rodri: City menghadapi skenario mengerikan ala Manchester United

Dalam satu malam, dan setelah kekalahan telak dari Arsenal di Community Shield, Stadion Etihad seolah mengucapkan selamat tinggal pada era emasnya dalam sunyi. Kekalahan 0-3 dari Arsenal di laga Community Shield Inggris bukan sekadar hasil sesaat dalam pertandingan yang bersifat persahabatan, melainkan sinyal jelas pertama bahwa proyek yang dibangun selama lebih dari satu dekade mulai retak dari akarnya.

Kepergian Txiki Begiristain, direktur olahraga Manchester City, dan pelatih Spanyol jenius Pep Guardiola, bersamaan dengan mendekatnya perpisahan dengan Rodri, mengubah tim biru langit itu dari mesin dominasi yang tak terkalahkan menjadi tim yang mencari identitas baru di tanah yang tak dikenal.

Hari ini klub Inggris tersebut berdiri di hadapan sebuah pertanyaan menentukan yang bergema di lorong-lorong sepak bola Inggris: mampukah City menghindari nasib yang dialami rival mereka, Manchester United, setelah kepergian Sir Alex Ferguson? Ataukah kepergian tiga pilar sekaligus akan memaksa mereka memulai hampir dari nol, di tengah tekanan hasil dan tingginya ekspektasi? Jawabannya bukan lagi sekadar teori, tetapi mulai terbentuk di atas lapangan.

Siapa pun yang mengambil alih kendali City menggantikan para tokoh yang menciptakan era emas — para pemain, manajemen, dan tim kepelatihan — akan mendapati dirinya menghadapi tantangan yang luar biasa besar. Enzo Maresca, yang menggantikan Pep Guardiola, menyadari hal itu dengan cepat. 

Pelatih cakap yang sukses bersama Leicester City dan Chelsea serta meraih gelar, namun ia membentur tembok Arsenal pada ujian resmi pertamanya, hingga timnya keluar dengan kekalahan menggemparkan dan perasaan bahwa hari-hari sulit benar-benar telah dimulai di Stadion Etihad.

  • Runtuhnya Pilar-Pilar yang Menciptakan Sang Legenda Mengubah Arah Kompas

    Meski kepemilikan tetap stabil dan Ferran Soriano bertahan di posisinya sebagai otak finansial dan operasional, Manchester City telah kehilangan pilar utama yang mengubahnya menjadi klub legendaris dalam waktu kurang dari setahun. Ia adalah Txiki Begiristain, direktur olahraga terbaik di era modern, yang memutuskan mundur secara diam-diam lebih dari setahun lalu.

    Begiristain membantu proses transisi dan memberikan nasihat kepada penggantinya, Hugo Viana, pada bulan-bulan pertama. Namun perbedaannya semakin jelas seiring berjalannya waktu. Ia adalah sosok yang mendatangkan Haaland seharga 60 juta dan Rodri seharga 70 juta, serta membangun tim bernilai mahal yang ia kompensasi dengan penjualan-penjualan cerdas. Adapun Viana, ia justru telah melampaui angka 130 juta hanya dalam dua transfer musim panas ini.

    Perubahan pendekatan pembelian ini bukan sekadar rincian administratif, melainkan indikasi bahwa visi jangka panjang yang menciptakan City mulai berubah, persis seperti yang terjadi pada Manchester United setelah kepergian Sir Alex Ferguson.

  • Iklan
  • Pep Guardiola: Sang Legenda yang Tak Tergantikan

    Guardiola merupakan pilar kedua yang runtuh dari sistem City. Selain kejeniusan taktiknya dan kemampuannya meraih kesuksesan secara berulang, ia memiliki pengaruh mutlak di dalam klub.

    Pep adalah sosok yang "tak tersentuh", baik saat menang maupun kalah, sebuah posisi yang tidak bisa dicapai oleh pelatih lain mana pun, termasuk Maresca.

    Perbedaan antara seseorang yang menyadari dirinya abadi dengan para pelatih lainnya tercermin langsung pada hasil dan penampilan. Ketika Guardiola pergi, yang pergi bersamanya bukan hanya gaya bermain, melainkan juga rasa kepastian dan dominasi psikologis yang ia paksakan kepada para lawan selama bertahun-tahun.

    Kekosongan ini juga sangat mirip dengan apa yang dialami Manchester United setelah Ferguson, di mana berbagai eksperimen kepelatihan datang silih berganti tanpa mampu mengembalikan wibawa klub seperti sebelumnya selama bertahun-tahun.

  • Rodri: Tulang Punggung yang Kepergiannya Mengancam Kehancuran City

    Pilar ketiga dan paling berbahaya, Rodri, hampir dipastikan akan meninggalkan klub. Hanya sedikit pemain lini tengah yang memiliki kemampuan untuk mengubah level sebuah tim secara keseluruhan, tetapi bersama Rodri, City adalah tim juara, dan tanpanya, City menjadi tim yang benar-benar berbeda.

    Selama periode cederanya yang lalu, muncul kerapuhan yang nyata di lini tengah, dan tampak bahwa tim kehilangan keseimbangan serta kedisiplinan yang selama ini diberikan oleh sang kapten asal Spanyol itu. Karena itu, kepergiannya yang sudah dekat tampak sebagai pukulan berat yang sulit ditutupi dalam jangka pendek.

    Sejarah sepak bola dipenuhi contoh klub-klub yang kehilangan pemain kunci mereka hingga level permainannya runtuh, dan City bukanlah pengecualian yang mustahil dalam persamaan ini.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Apakah Manchester City memulai sebuah proyek dari nol?

    Jawabannya tidak sederhana. Di satu sisi, klub masih memiliki sumber daya finansial yang sangat besar, infrastruktur modern, dan kepemilikan yang stabil. Namun di sisi lain, kehilangan tiga otak yang membangun proyek ini berarti tim memasuki fase pembangunan ulang yang sesungguhnya.

    Maresca menghadapi tugas membangun identitas baru di tengah tekanan hasil instan, sesuatu yang belum pernah ia uji di level klub sebesar City. Kekalahan dari Arsenal di Community Shield bukanlah tolok ukur final, tetapi laga itu mengungkap kekurangan dalam keseimbangan dan ketangguhan yang menjadi ciri khas tim dalam beberapa tahun terakhir.

    Jika hasil mengecewakan terus berlanjut di awal musim, klub bisa saja terpaksa melakukan pembangunan ulang yang nyaris menyeluruh, persis seperti yang terjadi pada United setelah berakhirnya era Ferguson.

  • Bayang-bayang Manchester United mengintai di depan mata

    Apa yang dialami Manchester United setelah 2013 dianggap sebagai pelajaran pahit bagi klub mana pun yang kehilangan pilar-pilar utamanya sekaligus. Bertahun-tahun kekacauan dalam manajemen, kepelatihan, dan pengeluaran besar-besaran tanpa hasil yang nyata. City saat ini memiliki peluang untuk menghindari skenario yang sama berkat keberlanjutan kepemilikan dan perencanaan finansial.

    Namun sinyal pertama muncul kemarin, dan kekhawatiran akan terulangnya pengalaman itu kini menjadi beralasan. Tim yang keberhasilannya berlandaskan pada sosok Txiki, Pep, dan Rodri mungkin tidak akan terulang dengan kekuatan yang sama sekali lagi.

    Bulan-bulan mendatang akan menentukan apakah Manchester City mampu melewati fase ini dengan kerugian sekecil mungkin, ataukah ia akan memasuki terowongan panjang pembangunan ulang yang serupa dengan yang dijalani rival abadinya selama bertahun-tahun.