Comeback dramatis Manchester United menghadapi Aston Villa ternyata tidak cukup untuk menutupi kelemahan yang terus membayangi tim, bahkan mungkin justru mengungkap masalah yang lebih dalam yang kini mengancam ambisi mereka, setelah para pemain dalam beberapa kesempatan berubah menjadi penghalang terbesar bagi diri mereka sendiri, dan menyia-nyiakan segala upaya tim untuk memulihkan keseimbangan dan kembali ke persaingan lantaran kesalahan individu mereka.
Di saat Manchester United menunjukkan karakter yang kuat dan kemampuan untuk bangkit dari ketertinggalan, dalam hasil imbang dramatis (4-4) menghadapi Aston Villa, Minggu malam, di Stadion Old Trafford, pada penutup pekan kesepuluh Liga Primer Inggris, kesalahan-kesalahan konyol kembali memunculkan pertanyaan terpenting soal masa depan tim: apakah semangat juang cukup untuk menyelamatkan proyek Michael Carrick, ataukah perubahan telah menjadi kebutuhan yang tak bisa lagi ditunda?
Pepatah terkenal "bumerang yang membunuh tuannya" bisa dipinjam untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam Manchester United; tim ini memiliki potensi menyerang dan karakter yang memungkinkannya bersaing dengan lawan-lawannya dan bangkit dalam situasi tersulit, tetapi mereka justru menerima pukulan menyakitkan dari para pemainnya sendiri, akibat keputusan yang tidak diperhitungkan dan kesalahan individu yang mengubah kerja kolektif menjadi usaha yang sia-sia.
Masalahnya di sini bukan pada terjadinya kesalahan sebagai bagian wajar dari sepak bola, melainkan pada waktu, sifat, dan keberulangannya, selain juga cara sebagian pemain meruntuhkan apa yang coba dibangun rekan-rekan mereka di dalam lapangan.










