Jeda internasional tak lagi menjadi sarana untuk menyatukan kembali para suporter yang terpecah-belah di antara klub-klub yang mereka dukung, di bawah satu tim nasional yang menjadi milik mereka semua. Sebaliknya, ia justru berubah menjadi ajang di mana persaingan berpindah dari keunggulan tim ke keunggulan pemain.
Di dunia Arab kita, hal ini telah menjadi sesuatu yang lazim, terutama di timnas Arab Saudi, di mana para suporter berbagai klub, khususnya Al Hilal dan Al Nassr, saling berlomba membuktikan keunggulan para pemain mereka atas para pesaingnya.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada pembuktian keunggulan para pemain klub di dalam timnas saja, melainkan meluas hingga upaya menjatuhkan para pemain klub rival dan membebankan kepada mereka tanggung jawab atas semua masalah yang dialami timnas.



