Kendati sudah gantung sepatu, Noh Alam Shah masih ingin menambah koleksi penghargaan. Legendaris Singapura ini berambisi membawa The Lions menjuarai Piala AFF 2018 yang mulai bergulir bulan depan.
Alam Shah kini membantu pelatih Singapura Fandi Ahmad mempersiapkan tim menghadapi turnamen sepakbola Asia Tenggara dua tahunan tersebut. Ketika aktif sebagai pemain, Alam Shah sukses membantu Singapura mengangkat trofi Piala AFF dua kali pada tahun 2004 dan 2007.
Menurut Alam Shah, diperlukan sikap yang baik untuk mewujudkan ambisi menjadi juara. Ia tidak menginginkan pemain Singapura turut berkelakuan buruk seperti dirinya.
“Ketika Fandi ditunjuk menjadi pelatih tim nasional, bos saya [Teo Hock Seng] meminta saya untuk membantu dia. Awalnya saya tidak tahu harus berbuat apa. Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengerti tujuannya, yakni mengingatkan pemain tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak,” tutur Alam Shah dalam wawancaranya dengan Goal Singapura.
“Itu yang membuat saya dan Fandi bisa menciptakan kerja sama bagus, karena kami seperti polisi baik dan jakat. Dia [Fandi] mempunyai kepribadian lembut, sementara saya siap bersikap keras kepada pemain jika memang harus dilakukan.”
“Semua yang saya lakukan adalah bagian dari harapan membawa tim ke final Piala AFF, karena saya ingin publik Singapura memberikan dukungan penuh kepada kami. Saya tahu bagaimana kami bisa mewujudkan kesuksesan itu.”
“Terkait dengan tugas saya, saya merasa nyaman membimbing pemain muda. Saya datang dari keluarga berantakan, dan latar belakang saya itu membuat saya memahami setiap pemain, karena setiap individu berbeda.”
Dalam kesempatan yang sama, Alam Shah tak bisa melupakan kesuksesannya kala berkarir di Indonesia. Pria berusia 38 tahun ini sukses membantu Arema menjuarai Liga Super Indonesia (ISL) 2009/10.
“Sangat menyenangkan bisa menjadi juara di sana. Saya membangun hubungan baik dengan rekan-rekan satu tim, dan mereka sudah saya anggap seperti sepupu,” ucap topskor Piala AFF sepanjang masa ini.
“Menjadi juara merupakan raihan luar biasa. Ketika saya pulang ke Singapura, saya sempat berpikir merasa sudah cukup, karena telah mendapatkan segalanya.”
Goal Indonesia
