Menyongsong Kerajaan Baru AS Monaco

Komentar()
Gettyimages
Runtuh sudah dinasti Paris Saint-Germain. Kini klub kerajaan AS Monaco siap memulai era keemasan di Prancis, bahkan Eropa!


OLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti di twitter

Era hegemoni Paris Saint-Germain runtuh sudah. Trofi Ligue 1 Prancis musim ini resmi berada dalam genggaman AS Monaco.

Kemenangan 2-0 atas AS Saint-Etienne tadi malam melalui sebuah gol manis dari Kylian Mbappe dan tambahan di menit akhir oleh Valere Germain membuat pasukan Leonardo Jardim tak bisa lagi dikejar di klasemen. Trofi liga ini merupakan yang pertama kalinya bagi The Red And Whites sejak millennium.

Terbayar lunas sudah proyek senilai €144 juta yang dibangun klub empat tahun silam dengan direbutnya singgasana domestik dan nyaris pula menguasai kancah Eropa -- keluar sebagai semi-finalis Liga Champions.

Mungkin akan terngiang di benak publik betapa Monaco terhitung "anak bawang" yang baru promosi ke kasta teratas beberapa musim lalu. Namun, kehadiran miliarder Rusia Dmitry Rybolovlev seakan membangkitkan kembali spirit kemakmuran yang telah lama sirna. Ya, 2016/17 bisa dibilang sebagai pencapaian awal bagi Monaco untuk menyongsong kerajaan baru!



Gebrakan pertama pebisnis tajir itu dengan mendatangkan duo bintang dunia, James Rodriguez dan Radamel Falcao. Kala itu, Monaco mengakhiri musim di posisi runner-up. Prestasi ini cukup membuat fans puas sembari terus memupuk asa mengejar gap dengan PSG, yang berada di bawah kendali kekayaan penguasa Qatar.

Proyek Monaco sendiri bukannya berjalan tanpa pasang-surut. Kebijakan "Galaticos" ala klub kerajaan terbilang tidak berkelanjutan dan justru membuat mereka berada dalam potensi kerugian dengan hengkangnya satu per satu superstar.

Sementara di kubu sebrang, PSG terus mempersenjatai skuat mereka dengan menarik pemain-pemain terbaik dunia ke ibu kota dengan ditandai gelar juara kali kesekian tepat musim lalu.

Les Parisiens mungkin tak pernah menyangka bila musim ini mereka harus merelakan titel liga jatuh ke pangkuan Monaco mengingat kedua tim memiliki kesenjangan yang teramat jomplang di musim 2015/16: lebih dari 30 poin!

Namun, di jaman para super agen bertebaran dengan kemampuannya menjual pemain seharga $100 juta [Baca: Paul Pogba ke Manchester United], Monaco punya rancangan strategi baru. Wakil presiden sekaligus CEO Vadim Vasilyev memilih untuk tak lagi larut dalam tren belanja masif.

"Pada mulanya, kami memerlukan investasi masif untuk meyakinkan para pemain top bergabung. Jika tidak, maka dibutuhkan waktu bertahun-tahun [untuk juara]," ujar Vasilyev, April lalu.

Dengan populasi 40.000 dan stadion berkapasitas 18.523, seketika pandangan sang mantan diplomat berubah dan menyadari, sepakbola tak melulu berjalan dengan kerangka rencana yang demikian.

"Kami memahami kelebihan dan kelemahan kami," jelas Vasilyev, merujuk pada terbatasnya pendapatan klub yang berarti dia harus mengubah taktik dan menerapkan kebijakan baru. Kebijakan yang dimaksud: mengembangkan pemain muda lalu membiarkan mereka hengkang di waktu yang tepat.

Efektif! Kebijakan baru yang mulai diterapkan pada 2013/14 itu membawa Moanco meraup €79 juta dari keuntungan bersih transfer. Di periode yang sama, Jardim menawarkan skuat yang lebih segar dan menarik.

Akademi klub, La Turbie, di bawah pengawasan direktur Bertrand Reuzeau, terus berkembang pesat. Suporter bagai mengalami deja vu, kembali terbawa masa-masa emas klub ketika menelurkan talenta terbaik macam Lilian Thuram, Emmanuel Petit dan Thierry Henry -- para pemain jawara Piala Dunia 1998. Hari ini, generasi baru hadir, melengkapi para penggawa berpengalaman. Di antaranya, sang permata klub berumur 18 tahun dengan total 26 gol dan 14 assist hanya dalam 2.570 menit penampilan sepanjang musim ini, dialah Mbappe.

Sang remaja menunjukkan bakat besar nan menjanjikan, faktor yang membuat Monaco dilaporkan tak sungkan membanderol sang pemain dengan harga €152 juta sebagai bentuk proteksi terhadap minat-minat raksasa Eropa.

Di seluruh kompetisi, sang youngster berkontribusi langsung dalam setiap 63 menit gol Monaco. Menariknya, angka ini tidak hanya menyaingi Lionel Messi versi masa remaja, tapi juga Messi hari ini!

Seorang striker yang memiliki keberanian serta ketenangan yang fantastis, Mbappe merupakan pemain termuda yang menggapai 15 gol domestik di lima liga top Eropa sejak mantan pemenang Ballon d'Or Michael Owen meraihnya di musim 1998. Selain itu, dia juga menjadi satu-satnya pemain yang mampu mencetak gol di empat pertandingan pertama babak grup Liga Champions.

Jangan abaikan pula sosok Bernardo Silva. Pemain 22 tahun ini adalah sosok yang kini paling diburu di belantika sepakbola Eropa. Talenta Portugal ini dengan rendah hati sempat mengaku segan bisa berlatih bareng sosok-sosok hebat dan berpengalaman macam Dimitar Berbatov, Ricardo Carvalho dan Joao Moutinho. Akan tetapi, Silva lekas menyemen posisinya di starting eleven Monaco, yang mewarnai perpaduan komposisi pemain muda dan berpengalaman.

"Di sini, saya belajar banyak hal yang saya tahu tentang sepakbola. Bermain dengan para pemain besar dengan intensitas, beserta kekuatan. Saya belajar jika ini semua bukan hanya soal teknik. Anda harus amat sangat kuat, berkonsentrasi sepanjang 90 menit," ungkap Silva.

Hanya Morgan Sanson, pilar Olympique Marseille, yang memiliki catatan assist melebihi dirinya. Maka, tak ada yang bisa menolak kehadiran Silva di deretan tim terbak Ligue 1 musim ini, bersanding dengan rekan setimnya Danijel Subasic, Djibril Sidibe, Kamil Glik, Benjamin Mendy dan Mbappe.

"Ini merupakan pengalaman pertama saya di level yang tinggi. Saya bersyukur bisa berada di Monaco," sambung gelandang berpostur kecil dan lincah tersebut.

Bernardo Silva, Kylian Mbappe dan Radamel Falcao, trio kunci juara Monaco


Kepiawaian Jardim dalam mengembalikan bentuk terbaik Falcao juga patut diperhitungkan sebagai salah satu faktor yang tak bisa dipisahkan dari keberhasilan Monaco menyabet Champions de France.

Bomber Kolombia ini sukses mengemas gol di setiap 89 menit di Ligue 1 sepanjang musim ini. Akan terasa mencolok ketika membandingkan dengan statistik dia di Chelsea [228 menit] dan Manchester United [322 menit].

catatan Falcao di atas dapat dikomparasikan dengan menit kreasi Messi di Barcelona, Edinson Cavani di PSG dan Robert Lewandowski di Bayern Munich dalam lima liga top Eropa 2016/17.

“Memenangkan liga bersama tim yang bukan favorit adalah hal yang hebat. Ini adalah trofi terpenting saya dalam karier saya sebagai pelatih. Kami telah bekerja keras selama 11 bulan terakhir. Monaco sekarang jadi juara, ini setara dengan empat gelar yang diraih Paris,” demikian ekspresi Jardim selepas merayakan momen juara.

Reformasi kebijakan di dalam manajemen Les Monégasques berbuah kejayaan. Tak selamanya kekuatan finansial merupakan langkah solutif untuk menghadirkan prestasi instan. Monaco kini telah membuktikannya.

Juara Ligue 1 dan berstatus semi-finalis Liga Champions adalah representasi kesiapan anak-anak Jardim menyongsong kerajaan baru untuk bertarung di musim-musim selanjutnya.

Artikel Selanjutnya:
Hasil Pertandingan: Oman 3-1 Turkmenistan
Artikel Selanjutnya:
Hasil Pertandingan: Jepang 2-1 Uzbekistan
Artikel Selanjutnya:
Fabinho Jawab Tantangan Jadi Bek Tengah
Artikel Selanjutnya:
Curahan Hati Atep Harus Pisah Dengan Persib Bandung
Artikel Selanjutnya:
Persija Jakarta Rencanakan Peluncuran Tim Digelar April
Tutup