Ismaila Sarr Rennes Arsenal UEFA Europa 07032018Getty

Lini Pertahanan Arsenal Yang Menjengkelkan

Fans Arsenal menggerutu seusai pertandingan kontra Rennes. Hasil akhir tidak terlalu dipersoalkan, para suporter justru lebih menyoroti bagaimana pertahanan tim yang begitu keropos dan mudah 'ditelanjangi' klub Ligue 1 Prancis itu.

The Gunners pun mesti puas pulang dari Prancis dengan kepala tertunduk lantaran kebobolan cukup telak, 3-1. Bila melihat permainan Arsenal sepanjang 90 menit, terkhusus lini belakang mereka, kalau tidak mau dibilang berstatus 'waspada', area itu paling tidak bisa dikatakan dalam situasi 'awas'. Jelang bentrok dengan Manchester United akhir pekan ini, Unai Emery punya PR besar.

Tak dinyana, Les Rouges et Noirs mendominasi pertandingan. Bukti lemahnya sektor defensif Arsenal terlihat dari total 20 percobaan berhasil dibuat tuan rumah di pertahanan sang tamu, dengan tiga di antaranya berbuah gol. 13 tembakan dimainkan dari situasi open play, sementara dari enam kali usaha melalui set piece, satu menghasilkan gol bagi Rennes. Hampir setengah dari keseluruhan serangan Rennes dibangun melalui manuver sayap kiri, namun toh mereka pada akhirnya sanggup pula menciptakan gol dari sektor kanan pertahanan Arsenal, yang mempertegas rapuhnya lini belakang klub London Utara.

Arsenal sempat unggul cepat melalui sepakan melengkung Alex Iwobi di sisi kanan pertahanan Rennes. Bukannya jadi momentum positif, malah setelahnya pemandangan 'horor' tampak di lini belakang Arsenal.

Sokratis Arsenal 2018-19

Dimulai dari kartu kuning kedua yang didapatkan Sokratis setelah gagal melakukan man marking terhadap Ismaila Sarr dan mengharuskan sang bek menarik pundak si winger dari belakang. Tendangan bebas yang dieksekusi Benjamin Bourigeaud di tepi kotak penalti Arsenal mengubah papan skor jadi seimbang.

Minus satu pemain, Unai Emery malah membuat rencana anti-mainstream. Dia lebih memilih Henrikh Mkhitaryan ditarik ke belakang untuk mengisi pos di sebelah kanan pertahanan dan mengembalikan Shkodran Mustafi ke posisi naturalnya sebagai bek tengah. Di paruh babak berikutnya lebih aneh, sebab Nacho Monreal yang tampil sebagai bek kiri, seperti diinstruksikan Emery untuk bermain condong ke jantung pertahanan atau dengan kata lain bermain dalam skema tiga bek dengan menumpuk gelandang. Walhasil kedua sisi pertahanan Arsenal dieksploitasi Rennes dengan gampangnya.

Gol kedua pasukan Julien Stephan berawal dari umpan terobosan manis ke area kiri pertahanan Arsenal, di mana Mehdi Zeffane berdisi bebas di sana. Monreal keluar dari posisinya dan lebih dekat ke Petr Cech. Crossing yang dikirim Zeffane lantas salah diantisipasi bek Spanyol itu di tiang dekat, membuat bola berbelok masuk gawang timnya sendiri.

Gol terakhir Rennes datang dari sisi berlawanan. Lagi-lagi area bek sayap Arsenal memperlihatkan kelemahannya. Mkhitaryan yang diplot sebagai bek kanan, tidak berada dalam zona dia --karena memang eks Manchester United ini tak memiliki naluri bertahan yang baik. Tanpa kawalan, pemain pengganti James Lea Siliki leluasa mengirim umpan diagonal untuk diselesaikan pemain pengganti Sarr dengan sundulan. 3-1!

Selain kopong di kedua wilayah bek sayap, pemain yang berada di pos jantung pertahanan juga tak dapat berbuat banyak kala meredam gol ketiga Rennes. Kemana Mustafi dan sang kapten Laurent Koscielny saat Sarr begitu nyamannya menanduk bola di depan gawang?

Barangkali timbul pertanyaan, mengapa Emery tidak memainkan Ainsley Maitland-Niles di sisi kanan pertahanan malah memaksakan Mkhitaryan? Jelas-jelas posisi itu adalah wilayah yang dikuasai sang youngster

Benar, Emery paham, Ainsley bukan padanan Hector Bellerin, yang bisa bergerak cepat menutup ruang di sayap kiri Rennes yang menjadi titik tumpu serangan mereka sepanjang 90 menit. 

Hatem Ben Arfa Rennes Arsenal Europa LeagueIsmaila Sarr Rennes Arsenal UEFA Europa 07032018Getty

Berondongan tiga gol yang dicetak anak-anak Rennes harusnya cukup untuk membuat Emery melek terhadap barisan belakang timnya. Persoalan cedera yang menimpa para defender di skuatnya sepanjang musim ini seyogianya jadi perhatian serius.

Emery terlalu naif. Januari lalu dia bilang "sudah cukup memiliki bek tengah di skuat". Dalihnya, bila membeli bek baru, para pemain lain yang jarang mendapatkan kesempatan bakal merengek jatah bermain dan hal ini dilihatnya sebagai satu problem di masa depan.

Alternatif yang kemudian ditawarkan Emery adalah mendatangkan gelandang baru, yakni Denis Suarez dari Barcelona, dengan maksud agar bisa mengakomodasi sistem 4-4-2 diamond racikannya. Seperti diketahui, di beberapa laga pada paruh pertama musim, Emery kerap memainkan taktik ini. Namun lucunya, di kesempatan lain, Emery pernah menyebut Arsenal perlu "winger yang bisa bermain di sebelah kanan dan kiri".

Faktanya, daerah yang paling sering bergonta-ganti wajah di setiap laga yang dilalui Arsenal adalah lini belakang mereka. Krisis pertahanan ini bukanlah masalah enteng. Nama-nama seperti Koscielny, Mustafi, Sokratis, Monreal, Sead Kolasinac, Ainsley, Bellerin dan Rob Holding, sudah sangat akrab dengan tim medis Arsenal. Dua nama terakhir malah tengah menjalani rehabilitasi dari cedera yang cukup parah. Sosok-sosok ini adalah tumpuan Emery di barisan belakang tim. Tidak terbayang betapa pusingnya sang manajer ketika sebagian besar dari mereka mengalami cedera dalam waktu bersamaan. Dan hal itu tak jarang terjadi di musim ini! Tidak mengherankan pula bila Emery kerap kali terlihat mengakali lini belakangnya: yang bek tengah dipaksa main melebar, begitu pun sebaliknya. Sekalinya ada pemain yang bugar, dia adalah Stephan Lichtsteiner. Masih masuk akalkah menjadikan bek veteran berusia 35 tahun ini sebagai andalan di level tertinggi?

GFX - ArsenalGFX - Arsenal

Suka tidak suka, Emery wajib mendatangkan bek anyar yang bukan sekadar bek. Tetapi dia adalah pemain yang memadukan ketangguhan, konsistensi, dan punya kualitas teknik mumpuni. Liverpool misalnya. Rival Arsenal ini berani mendatangkan Virgil van Dijk dengan memecahkan rekor transfer bek termahal dunia musim lalu. Hasilnya, peningkatan drastis terjadi di lini belakang The Reds dengan hanya kebobolan 15 gol di ajang Liga Primer Inggris sepanjang musim ini.

Bandingkan dengan Arsenal, di mana gawang mereka sudah dinodai 39 kali oleh lawan-lawannya. Bila urusan kebobolan ini mau di-ranking, Si Meraim London adalah yang terparah di antara top six. Lebih miris lagi bila melihat fakta bahwa Arsenal telah kejebolan 27 gol di seluruh laga tandangnya musim ini, cuma lebih sedikit dua angka dari Huddersfield Town, sang empunya dasar klasemen. Kalau ditotal, sudah 52 kali gawang Arsenal robek di seluruh kompetisi musim ini.

Seluruh loyalis Arsenal akan menantikan keberanian petinggi klub, Stan Kroenke, apakah dia rela berkorban menguras tabungannya dengan berinvestasi mendatangkan bek baru berkelas wahid. Namun, PR lainnya Emery saat ini adalah bagaimana menyiasati strategi transfer berikutnya klub setelah kepala rekrutmen Arsenal Sven Mislintat hengkang di pergantian tahun kemarin.

Yang jelas, jika Arsenal masih ingin mempertahankan statusnya sebagai big four, diperlukan terobosan di lini pertahanan mereka. Tentu, Gooners tak berharap episode di Prancis terulang saat menyambut United di Emirates Minggu ini.

ARTIKEL TOP PEKAN INI
1.Comeback Manchester United Ciptakan Sejarah
2.Real Madrid Pulangkan Zinedine Zidane?
3.McMenemy Mau Datangkan Pelatih Striker Untuk Indonesia
4.Barthez: Remehkan Man United, PSG Layak Tersingkir
5.Persib Tawarkan Kontrak, Beckham Tunggu Masukan Zola
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia


Footer Banner EPL
Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0