Liverpool Yang Tak Berjodoh Dengan Liga Primer Inggris

Komentar()
Getty Images
Untuk ketiga kalinya dalam 10 tahun terakhir, Liverpool gagal memenangkan Liga Primer Inggris setelah persaingan yang sengit. Mungkin bukan jodoh?

Untuk ketiga kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, Liverpool kembali gagal memenangkan Liga Primer Inggris walau sempat memuncaki kompetisi di musim dingin. Sejujurnya, nyaris tidak ada yang salah dengan performa The Reds pada tiga periode itu. Mereka hanya kalah oleh satu faktor X dalam persaingan dan itu kembali terbukti pada musim ini.

Di musim 2008/09, Fernando Torres dan Steven Gerrard mungkin melakoni musim terbaiknya. El Nino mencetak 14 gol musim itu, sementara Gerrard membukukan 16 gol. Belum lagi, performa kemenangan 4-1 atas Manchester United menjadikan mereka kandidat juara terkuat. Hanya satu yang hal yang membuat mereka gagal juara kala itu: inkonsistensi.

Lima tahun kemudian, Laskar Anfield kembali menjadi pesaing gelar Liga Primer. Luis Suarez tampil impresif bersama dengan Daniel Sturridge. Gerrard pun kembali jadi aktor pendukung yang membawa tim ke persaingan pekan terakhir kontra Manchester City. Hanya satu hal yang membuat pasukan Anfield tergelincir saat itu: nirkonsentrasi.

Kini, di 2019, dua hal yang menggagalkan Liverpool di masa lalu berhasil dipangkas oleh Jurgen Klopp. Inkonsistensi? Sudah sirna bersama dengan performa impresif Mohamed Salah dkk. Konsentrasi? Virgil van Dijk sudah merevolusi lini belakang dan kelemahan itu sangat jarang terlihat. Namun lagi-lagi ada satu hal yang mengganjal. Tahun ini, faktor X itu adalah Manchester City bin Pep Guardiola.

Pep Guardiola Manchester City 2018-19

Mengantongi 97 poin dalam semusim adalah hal luar biasa di Liga Primer Inggris. Liverpool cuma kalah satu kali sepanjang satu musim (itu pun dari Man City) dan selalu tampil dominan pada setiap laganya. Dengan koleksi 97 poin, mereka hanya kalah dari Man City yang meraih 98 poin musim ini dan 100 poin musim lalu.

Prestasi ini merupakan buah dari kesabaran dan ketelatenan Klopp sebagai manajer. Dia mewarisi skuat setengah ambyar dari Brendan Rodgers, namun membangunnya pelan-pelan. Membangun mental jadi fokus utama, baru kemudian meningkatkan kualitas skuat. Hasilnya, dia berhasil mencapai final Piala Liga dan Liga Europa pada musim perdananya – walah harus kalah pada dua final tersebut.

Setelah mental (nyaris) juara terbangun, baru sang manajer membangun skuatnya. Dia mendatangkan Sadio Mane, Andrew Robertson, Gini Wijnaldum, dan deretan pemain top lainnya. Klopp sempat kehilangan Philippe Coutinho, namun itu terasa seperti gigitan nyamuk karena Virgil van Dijk datang. Mereka pun berhasil mencapai final Liga Champions musim lalu.

Usaha panjang itu mencapai puncaknya musim ini. Liverpool menghajar habis-habisan  tim-tim Liga Primer dan melangkah cepat ke tangga akhir persaingan gelar Liga Primer. Mereka sempat memuncaki kompetisi di tengah musim, walau harus terpeleset lagi ke peringkat kedua. Kemudian, mereka juga menaklukkan Barcelona dengan dramatis di semi-final – menang 4-0 di Anfield setelah takluk 3-0 di Camp Nou.

Jordan Henderson Liverpool Barcelona 2019

Adapun di pekan terakhir, ketika The Reds menang atas Wolverhampton di Anfield, gelar juara tetap tak jatuh ke pelukan mereka. Ini semua terjadi karena Guardiola tetap ngotot bersama Manchester City-nya. Dengan skuat bergelimang bintang, gaya bermain yang sudah matang, dan mental juara yang sudah terbangun sejak lama, The Citizens sukses mengklaim gelar juara dengan selisih satu poin.

Mungkin terasa pedih bagi Liverpool, tetapi mungkin memang itulah jalannya. The Reds tidak berjodoh dengan trofi Liga Primer Inggris. Selalu saja ada yang menggagalkan mereka di menit akhir, sekalipun dewi fortuna berulang kali tersenyum pada mereka. Siklus lima tahunan pun kembali terulang bagi pasukan Merah Merseyside.

Namun, tetap ada satu catatan positif yang bisa dipetik musim ini.

Jika pada dua kesempatan sebelumnya, mereka selalu kehilangan pemain terbaiknya setelah gagal juara, tampaknya musim ini akan berbeda. Di 2009, Liverpool kehilangan jangkar utamanya – Xabi Alonso. Di 2014, laskar Anfield kehilangan Luis Suarez. Kini di 2019, tidak ada tanda-tanda bagi Mo Salah, Mane, atau Van Dijk atau pindah.

Luis Garcia & Xabi Alonso Liverpool

Setidaknya dari segi karisma, Liverpool sudah tidak lagi menjadi sekadar batu lompatan bagi pemain untuk pindah ke Barcelona atau Real Madrid. Liverpool runtuh begitu ditinggal pemain utamanya pada 2009 dan 2014, namun tidak untuk tahun depan. Masih ada kesempatan bagi The Reds untuk juara jika berhasil mempertahan skuat – atau bahkan memperkuatnya.

Seperti dikatakan oleh Jurgen Klopp pada awal 2019: "Ini bukan kesempatan terakhir kami [untuk juara EPL] - itu hal yang sangat penting. Ini adalah kesempatan pertama kami. Ada perbedaan besar.”

"Apakah itu benar-benar satu-satunya kesempatan kita harus menjadi juara? Saya tidak yakin. Dengan kesempatan pertama, Anda melompat masuk dan kemudian melihat apakah akan berhasil. Kadang-kadang ya, kadang tidak. Ini bukan kesempatan yang terakhir, 100 persen tidak."

Dengan mempertahankan skuat atau bahkan memperkuatnya, selalu ada kesempatan bagi Liverpool untuk meraih gelar Liga Primer perdananya. Namun jika momen seperti musim ini kembali terulang dan The Reds kembali gagal juara, yah, mungkin mereka tak berjodoh dengan Liga Primer.

 

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI
1. Barcelona Tersingkir, Lionel Messi Juga Harus Disalahkan
2. Agen Paul Pogba & Matthijs De Ligt Dicekal Di Italia
3. Alasan Maurizio Sarri Ogah Lihat Penalti Terakhir Chelsea
4. Alexis Sanchez Ditawarkan Ke Inter Milan
5. Chelsea vs Arsenal & Deretan Final Satu Negara Di Liga Europa
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia

 

Footer Banner EPL

Tutup