Tepat di Hari Kartini, Goal Indonesia mencoba mengulik apa saja harapan dari para pelaku sepakbola wanita Indonesia. Seperti diketahui, sepakbola wanita Indonesia sedang mencoba untuk bangkit kembali.
Di antaranya, timnas sepakbola wanita Indonesia yang mulai kembali diikutkan ke berbagai event internasional. Terakhir, timnas wanita Indonesia berpartisipasi hingga putaran kedua Pra Olimpiade 2020.
Sayangnya, PSSI tidak jadi memberangkatkan timnas wanita U-15 ke Piala AFF U-15 tahun ini. Yang menjadi salah satu alasannya adalah, lantaran PSSI ingin fokus dalam menggelar kompetisi Liga 1 sepakbola wanita Indonesia pada tahun ini.
Memang, itu yang menjadi harapan dari para pesepakbola wanita. Pemain timnas wanita Indonesia, Safira Ika Putri, berpendapat kompetisi sangat penting untuk terus meregenerasi pesepakbola wanita di Tanah Air.
"Karena kalau nggak ada itu, nggak bakal nemu bibit-bibitnya dan pasti pemainnya bakal ini-ini saja. Pelatihnya saja sampai bingung. Kami juga sekarang latihannya terpacu sama TC (training centre) saja. Ika sekarang beruntung bisa latihan sama ayah di luar TC, tapi yang lain kan belum tentu. Nggak ada liga sih soalnya. Semoga ada dibentuk liga supaya berkembang dan bagus buat timnas putri Indonesianya," ucap Ika, kepada Goal Indonesia.

Hal senada juga dituturkan penggawa timnas wanita Indonesia lainnya, Zahra Muzdalifah. "Semoga itu bukan omong kosong (adanya Liga 1 wanita), karena kami mau banget. Kalau bisa sepakbola wanita tuh berjalan, nggak tahun ini doang, tapi tahun ke depan dan seterusnya," ujar Zahra.
Dia pun optimistis sepakbola wanita Indonesia bisa berprestasi dan akan bisa dijadikan sebagai jaminan untuk masa depan.
"Kalau pandangan saya untuk Indonesia insya Allah bisa, tapi asal jelas. PSSI jelas dan programnya juga jelas. Tapi ini akan memakan waktu yang cukup lama. Kayak setahun dua tahun itu nggak akan cukup. Itu bisa memakan waktu lima tahun atau lebih," tuturnya.
Bukan hanya itu, kendala untuk tempat berlatih juga dialami para pesepakbola wanita. Bahkan, mereka sampai harus rela berlatih dengan pesepakbola pria demi bisa mengasah kualitas di atas lapangan.
"Saya bingung mau latihan di mana. Dulu waktu kecil saya bisa latihan sama cowok, sekarang nggak boleh lagi. Dari FIFA juga sudah nggak ngebolehin lagi tim putri tanding sama cowok, karena postur udah beda, aku udah mau 18 tahun, udah nggak bisa dong sama cowok," keluhnya.
"Terus nyari tempat latihan sama tim cewek juga susah di sini, karena kita nggak ada kan. Karena di Indonesia nggak ada klub ceweknya," ujarnya.

Sementara itu, berbagai masukan juga disampaikan presiden klub Persijap Jepara, Esti Puji Lestari, terkait sepakbola wanita. Dia berharap, adanya perencanaan yang baik terutama dalam hal pembinaan sepakbola wanita.
"Jadi kita fokus saja kepada banyak sekali partisipasi. Jangan hanya kepada kapan kita juara? Kapan kita dapat sponsor besar? Atau kapan kita bisa mendapatkan pemain-pemain yang luar biasa unggul? Jangan dulu kita berpikir ke sana, tapi lebih ke step-by-step development-nya," kata Esti.
"Saya juga sudah mengirimkan surat kepada PSSI. Di mana menurut saya berdasarkan hasil kunjungan saya ke La Liga di Madrid, bahwa di sana pun mereka tidak mulai dengan Liga 1 (untuk kompetisi sepakbola wanita). Bahkan mereka memberikan kesempatan kepada tim-tim yang sudah bergerak mengelola sepakbola wanita. Misalnya, di Indonesia kita ada Persijap Kartini. Kami tidak di Liga 1, tapi kami sudah punya tim sepakbola wanita. Kemudian ada Putri Bemifa di Banten, ada Putri Surakarta, ada Putri Sleman. Mereka itu bukan tim Liga 1, tapi mereka setiap tahun selalu mengirimkan putri-putri terbaiknya untuk berlaga di Piala Pertiwi."
"Nah, kenapa kita harus fokus meminta klub Liga 1 untuk mengirimkan atau membentuk suatu tim putri? Kalau menurut saya ini akan menjadi beban untuk klub Liga 1 yang mungkin pada saat ini pekerjaan rumahnya banyak. Kenapa tidak berikan lisensi untuk liga ini, liga perempuan, liga wanita, atau liga apa saja yang mau disebut kepada tim-tim yang memang sudah mempunyai ready-to-play players. Jadi tidak usah grasak-grusuk atau tidak usah terlalu ngotot harus Liga 1 yang menjalankan," jelasnya.
Esti menyadari salah satu alasan dari PSSI untuk mewajibkan seluruh klub Liga 1 membentuk sebuah tim sepakbola wanita agar berkompetisi pada tahun ini adalah karena alasan komersial. Karena, masih menurut Esti, jika digelar dengan partisipasi klub-klub yang bukan dari Liga 1, PSSI sulit untuk mencari sponsor.
"Tapi menurut saya itu bukan harusnya menjadi alasan karena kita tidak seharusnya mencari sponsor pada saat ini, tetapi lebih disubsidi oleh pemerintah, oleh lembaga-lembaga sosial, kementerian misalnya. Jadi jangan terlalu fokus di sponsor atau komersial. Kita fokus di pembinaan dan jadikan Liga 1 ini adalah pembinaan, bukan untuk komersial atau prestasi," pungkasnya.
Goal Indonesia