Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Tottenham WSL 1:1Getty/GOAL

Tottenham sudah 'berbenah', kini mampukah mereka menembus batas di WSL?

Ameé Ruszkai
Diterjemahkan oleh
  • Manchester City, Chelsea, Arsenal, dan Manchester United mengisi empat besar Women's Super League dalam tujuh dari delapan musim terakhir. Namun, menjelang setiap musim baru, selalu ada pembahasan tentang tim yang berpotensi mengusik dominasi mereka. Musim panas lalu, Tottenham menjadi tim yang banyak disorot.

    Sementara aktivitas transfer London City Lionesses mustahil diabaikan, Tottenham diam-diam memperkuat skuad yang finis kelima musim lalu, dengan keunggulan setidaknya sembilan poin atas setiap klub di luar empat besar tersebut. Mereka mendatangkan penyerang produktif Shekiera Martinez dan Kirsty Hanson, pengatur serangan berbakat Victoria Pelova, serta bek timnas Prancis Alice Sombath, di antara pemain lainnya. Itu merupakan bursa transfer musim panas yang mengesankan.

    Namun, setelah memulai musim tanpa kekalahan, mencetak 15 gol dan hanya kebobolan dua kali untuk mengumpulkan 10 poin dari empat pertandingan, pertanyaan lama kembali muncul menyusul dua kekalahan: 6-1 dari London City dan 6-2 dari Chelsea. Ini kali pertama Tottenham kebobolan enam gol dalam dua pertandingan WSL berturut-turut.

    Tottenham telah membuat kemajuan besar dalam beberapa tahun terakhir, baik di dalam maupun di luar lapangan, dan musim pertama mereka di bawah Martin Ho tahun lalu menghadirkan optimisme yang lebih besar. Namun, catatan mereka melawan tim-tim papan atas, yang mungkin juga mencakup London City musim ini, masih jauh dari memuaskan. Sejak promosi tujuh tahun lalu, mereka hanya meraih dua kemenangan dan enam hasil imbang, serta menelan 46 kekalahan saat menghadapi Chelsea, Arsenal, dan dua klub Manchester di WSL.

    Pada Sabtu, Tottenham menjamu Arsenal dalam derbi London utara, saat rival mereka itu tengah mengalami masa sulit. Ini menjadi peluang besar bagi tim asuhan Ho untuk menunjukkan bahwa mereka mampu belajar dari kekalahan-kekalahan telak tersebut dan meraih hasil yang membuktikan bahwa mereka bisa menembus batas yang selama ini menghambat mereka.

  • Banyak kemajuan

    Cathinka Tandberg Tottenham Women 2026-27
    Getty Images

    Tottenham telah mencatat banyak kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di luar lapangan dan dalam aspek-aspek seputar tim.

    Tak ada sosok yang lebih tepat untuk diajak bicara soal perkembangan Tottenham Hotspur dalam beberapa tahun terakhir daripada Drew Spence. Pemain dengan masa bakti terlama di klub ini ditunjuk sebagai kapten menjelang musim baru. Spence bergabung pada 2022, setelah tim finis di posisi kelima. Sejak itu, performa tim naik turun, dalam arti yang sebenarnya: mereka finis di posisi kesembilan, keenam, ke-11, dan kelima dalam empat musim Spence bersama klub. Namun, perkembangan di luar lapangan terus berlanjut.

    “Saat saya bergabung dengan klub ini, saya rasa salah satu alasan utamanya adalah adanya dorongan dari jajaran direksi, dan itu penting bagi saya,” kata Spence kepada GOAL menjelang musim ini. “Saya rasa, terutama sejak Martin datang, ada dorongan di semua aspek. Mulai dari bidang nutrisi, pelatih teknik yang bergabung, hingga cara kami berlatih di pusat kebugaran, begitu banyak unsur berbeda yang saling mendukung. Saya rasa lingkungan di Tottenham saat ini mungkin yang paling elite selama saya berada di sini.”

  • Membangun identitas

    Martin Ho Tottenham Women 2025-26
    Getty Images

    Ho telah memberikan pengaruh nyata pada tim Tottenham Hotspur ini dan membangun identitas yang kuat sejak tiba pada awal musim lalu.

    Dan ada keyakinan bahwa hal itu bisa mulai membuahkan kemajuan yang konsisten di lapangan. Ada momen-momen gemilang selama bertahun-tahun, terutama keberhasilan mencapai final Piala FA di bawah pelatih sebelumnya, Robert Vilahamn, pada 2024. Namun, kurangnya konsistensi terlihat dari posisi akhir mereka di liga pada setiap musim.

    Sebelum musim dimulai, Spence yakin tidak akan ada perubahan besar dalam hal itu tahun ini. Konsistensi Spurs saat menghadapi tim-tim di bawah mereka di klasemen memberi mereka landasan yang kuat. Identitas yang tengah dibangun di bawah Ho pun menumbuhkan keyakinan besar mengenai langkah mereka selanjutnya.

    “Martin datang dan kami mulai membereskan segala sesuatunya. Kami menunjukkan bahwa kami sebenarnya tim yang bagus, dengan pemain-pemain dan staf yang bagus, serta lingkungan yang baik di sekitar kami,” kata Olivia Holdt, pencetak gol terbanyak Spurs musim lalu, pada musim panas.

    Menurut Spence, Ho telah memastikan tim memiliki “identitas yang jelas tentang apa yang ingin kami lakukan”, hal yang juga disoroti Lize Kop. “Ada kerangka kerja yang jelas untuk kami jalankan dan saya pikir itu bisa membantu kami sebagai pemain,” kata kiper tersebut.

    Membentuk identitas itu juga menjadi salah satu pelajaran utama bagi Ho dari musim pertamanya. Ketika ditanya tentang pelajaran terbesarnya, ia mengatakan kepada para wartawan pada musim panas: “Mungkin ketangguhan tim dan mungkin perubahan identitas yang ingin kami lakukan agar selaras dengan klub secara keseluruhan. [Itu berarti] benar-benar menerapkan nilai-nilai dan keyakinan klub, lalu berusaha mengembangkan pola pikir dan mungkin mentalitas sehingga, ketika kami menghadapi pertandingan-pertandingan besar, kami bisa melihat kemajuan pada semua orang, sambil tetap mempertahankan sisi diri kami yang jelas, jujur, dan autentik, tanpa mengubah apa yang telah kami lakukan.”

  • Pertanyaan seputar laga besar

    Chelsea FC v Tottenham Hotspur - Barclays Women's Super League 2026/27
    Getty Images Sport

    Meski telah mencatat banyak kemajuan, Tottenham Hotspur masih kesulitan meraih hasil positif melawan empat tim besar tradisional WSL.

    Pertanyaan masih menyelimuti performa Spurs dalam laga-laga besar tersebut. Spurs telah memainkan 54 pertandingan WSL melawan ‘empat besar’ dan hanya menang dua kali. Kemenangan terakhir terjadi pada Desember 2023, sedangkan satu-satunya kemenangan lainnya diraih pada September 2021. Sepuluh dari pertandingan itu berlangsung di bawah Ho, dengan catatan tiga hasil imbang dan tujuh kekalahan bagi Tottenham.

    Tentu saja, tidak ada yang mengharapkan mantan pelatih Brann itu langsung meraih hasil secara konsisten melawan tim-tim terbaik di Inggris, terutama karena Spurs yang ia tangani baru saja finis di posisi kedua dari bawah di WSL. Ada pula penampilan bagus dalam laga-laga tersebut, terutama saat mereka sempat unggul 3-0 di kandang Manchester United, tetapi entah bagaimana akhirnya hanya membawa pulang satu poin.

    “Saya pikir bahkan ketika melawan Chelsea di kandang musim lalu, kami banyak menguasai bola dan, terutama pada babak pertama, saya pikir kami adalah tim yang lebih baik,” tambah Kop.

    Jelas ada keinginan kuat untuk mencatat kemajuan dalam laga-laga tersebut. Selain mempertahankan posisi di paruh atas klasemen WSL dan mencapai tahap akhir kompetisi piala, Ho menyatakan keinginannya “untuk meningkatkan performa” dan “lebih konsisten” dalam “laga-laga besar” menjelang musim ini.

    Kaptennya sependapat. “Kami menunjukkan beberapa penampilan bagus, tetapi belum berhasil menuntaskannya, dan saya pikir itulah yang harus kami lakukan tahun ini,” kata Spence kepada GOAL. “Jika kami tidak melakukannya tahun ini, menurut saya itu adalah kegagalan.”

  • Mencari kesuksesan

    Martin Ho Toko Koga Tottenham Women 2026-27
    Getty Images

    Tottenham tampil bagus dan sempat menguasai permainan dalam laga-laga besar tersebut, tetapi kebobolan banyak gol terbukti menjadi masalah.

    Perdebatan berikutnya adalah bagaimana Tottenham Hotspur harus melakukannya. Haruskah mereka menyimpang dari nilai dan gaya permainan yang sedang mereka terapkan demi menyulitkan lawan dan meraih hasil dengan cara lain? Atau tetap berpegang pada proses tersebut karena itulah yang ingin mereka bangun dan akan bermanfaat dalam jangka panjang? Ini dilema serba salah yang kerap muncul dalam sepakbola.

    Ho lebih memilih pendekatan kedua. Saat Tottenham mampu mengimbangi Chelsea pada Minggu sore, alasannya tampak jelas. “Saya pikir kami mampu bersaing dalam pertandingan, menciptakan peluang dan kesempatan, memaksa mereka mundur, serta menyulitkan mereka lewat tekanan yang kami berikan,” katanya seusai laga. Penilaiannya tepat.

    Namun, rentetan gol dari Chelsea yang tak kenal ampun membuat Tottenham pulang tanpa poin dan, untuk pertandingan kedua berturut-turut, kebobolan enam gol. Ini pun bukan hal baru bagi tim tersebut. Pada Maret, Tottenham untuk pertama kalinya kebobolan lima gol dalam dua laga WSL beruntun, saat kalah dari Man City dan Arsenal. Mereka juga kebobolan lima gol saat menghadapi Manchester City pada awal musim lalu.

  • Menyesuaikan dan menyempurnakan

    Drew Spence Tottenham Women 2026-27
    Getty Images

    Kapten Tottenham Hotspur, Spence, ingin timnya realistis dalam menetapkan target, tetapi ia tetap membidik peningkatan secara bertahap.

    Akankah ada yang berubah akhir pekan ini saat menghadapi Arsenal yang sangat kesulitan membongkar blok pertahanan rendah? Atau Tottenham akan kembali tampil dengan pendekatan yang mereka anggap tepat untuk mengalahkan tim besar? Kemungkinan besar pilihan kedua. Penampilan selama 60 menit pertama melawan Chelsea memberi Ho dan timnya lebih banyak alasan untuk meyakini bahwa pendekatan itu tepat.

    Namun, pendekatan tersebut harus dibarengi perbaikan di aspek lain. Pada Minggu, Ho menyesalkan “penurunan” level permainan, sejumlah “aksi yang kurang cermat”, serta kegagalan tim untuk “cukup cepat bangkit” secara mental setelah kebobolan. Semua itu membuat Chelsea mampu mencetak tiga gol dalam rentang sembilan menit dan menjauh hingga memenangi pertandingan.

    Tidak ada ekspektasi bahwa Tottenham akan, misalnya, melonjak ke posisi tiga besar musim ini. Banyak tim sebelumnya membuat prediksi berani tanpa memperhitungkan besarnya langkah yang diperlukan untuk mencapai target sebesar itu, lalu tampak gegabah seiring berjalannya musim.

    Ketika berbicara kepada GOAL pada pramusim, Spence pun menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam hal itu. “Saya rasa sangat penting bagi kami untuk bersikap realistis terhadap apa yang kami inginkan,” katanya. “Tentu saja, kami ingin bersaing di semua level dan semua kompetisi, tetapi langkah-langkah berikutnya harus diambil secara bertahap.”

    Kembali finis di paruh atas klasemen, tampil baik di kompetisi piala, dan terus mematangkan identitas permainan di bawah Ho merupakan sasaran penting, meski bukan target yang akan menyita perhatian. Namun, meraih hasil lebih baik melawan tim-tim yang lebih mapan di liga ini juga penting. “Intinya adalah bagaimana kami mengubah satu poin menjadi tiga poin, atau kekalahan menjadi hasil imbang,” kata Spence. “Hanya perlu sedikit penyesuaian seperti itu.”

    Antusiasme terhadap proyek ini sudah tinggi, tetapi akan meningkat pesat begitu Tottenham menemukan cara untuk melakukannya. Bagaimanapun, hal itu tampaknya menjadi unsur penting yang akan membantu Tottenham mengambil langkah besar berikutnya dalam perjalanan yang sudah menjanjikan.