Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Veron Man Utd 1:1Getty/GOAL

Juan Sebastian Veron: Mengapa playmaker Argentina yang 'hebat gila' gagal di Manchester United?

James Westwood
Diterjemahkan oleh
  • "Saya tidak pernah menyangka akan mengeluarkan uang sebanyak ini untuk seorang pesepakbola," kata Sir Alex Ferguson setelah Juan Sebastian Veron bergabung dengan Manchester United dari Lazio pada Juli 2001 dengan biaya transfer £28,1 juta, yang saat itu merupakan rekor Inggris. "Saya rasa dia memasuki tahun-tahun terbaik dalam kariernya dan akan mencapai puncak performa, sehingga kami akan merasakan manfaatnya. Dia pesepakbola kelas dunia yang luar biasa, dengan visi permainan yang bisa kami manfaatkan."

    Pandangan Ferguson tentang Veron dianut hampir semua orang, termasuk ikon Liverpool Mark Lawrenson, yang dengan berat hati mengatakan kepada BBC Sport bahwa pemain Argentina itu akan membuat United "tak terkalahkan" di Liga Primer Inggris. Mengingat Manchester United telah menjuarai liga dalam tiga musim sebelumnya, dan unggul 10 poin atas Arsenal pada musim terakhir, klaim itu terasa realistis.

    Reputasi Veron tentu tak diragukan. Ia mulai mencuri perhatian lewat penampilan gemilang bersama Argentina di Piala Dunia 1998, yang membawanya bergabung dengan klub Italia, Parma. Setelah memainkan peran penting saat Parma meraih gelar Coppa Italia dan Piala UEFA dalam satu-satunya musimnya di klub tersebut, Lazio merekrut Veron seharga £18,1 juta pada 1999.

    Menariknya, Veron menjalani debutnya bersama klub raksasa Serie A itu melawan United di Piala Super Eropa, dan penampilannya dalam kemenangan 1-0 tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Ferguson. Di bawah arahan Sven-Goran Eriksson, Lazio memenangi scudetto, Coppa Italia, dan Piala Super UEFA, dengan Veron sebagai pengatur serangan mereka. Dijuluki "Penyihir Kecil", merujuk kepada ayahnya yang merupakan legenda Estudiantes, Juan Ramon, Veron terus memukau lawan dan penggemar dari pekan ke pekan.

    Namun, ternyata Veron mencapai puncak performanya di Lazio, bukan United. Ia hanya mencetak 11 gol dalam 82 penampilan untuk Manchester United dan dicap sebagai salah satu rekrutan gagal terbesar dalam sejarah Liga Primer Inggris setelah dilepas ke Chelsea pada musim panas 2003.

    Meski demikian, dengan kedua klub Liga Primer Inggris yang pernah dibela Veron akan bertemu di Stamford Bridge pada Sabtu, ini tampaknya saat yang tepat untuk meninjau ulang penilaian terhadapnya. Ya, Veron memang gagal memenuhi ekspektasi di Old Trafford, tetapi sang pengatur serangan berjanggut kambing itu bukan gagal total; ia hanya mendahului zamannya.

  • “Salah satu yang terhebat sepanjang masa”

    Juan Sebastian Veron
    Getty Images Sport

    Veron langsung tancap gas pada awal kiprahnya di Old Trafford, membuat rekan-rekannya dan para pengamat sepak bola terpukau.

    Veron benar-benar tampil layaknya pemain seharga £28,1 juta selama beberapa pekan pertamanya di Manchester. Ia mencetak empat gol dalam delapan pertandingan pertamanya di Liga Primer Inggris. Gol perdananya lahir lewat kerja sama satu-dua yang apik dengan Roy Keane dalam kemenangan telak 4-1 atas Everton. Setelah itu, ia mencetak gol melalui tendangan voli tanpa kontrol yang brilian melawan Newcastle, penyelesaian mendatar dalam kemenangan dramatis 5-3 atas Tottenham setelah sempat tertinggal, serta tendangan bebas jarak jauh yang gemilang melawan Bolton Wanderers.

    "Saya terkena skorsing saat melawan Everton. Dia bermain, sementara saya duduk menonton dan berpikir: 'Saya tidak akan pernah bermain untuk United lagi. Karier saya di sini sudah selesai. Saya harus pindah.'" kata Nicky Butt dalam wawancara dengan The Times. "Veron adalah pemain terbaik yang pernah saya lihat, selain [Eric] Cantona. Saat latihan, kemampuannya belum pernah saya lihat sebelumnya."

    Veron dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Liga Primer Inggris untuk September. Ia juga tampil mengesankan di Liga Champions ketika United memenangi tiga dari lima pertandingan pembukanya. Penampilan terbaik Veron terjadi dalam kemenangan telak 3-0 atas Olympiacos di Old Trafford. Ia menyumbang dua assist, termasuk umpan istimewa yang membelah pertahanan lawan untuk Ryan Giggs dari posisi sedikit melewati garis tengah lapangan.

    Pada tahap itu, mantan manajer United Ron Atkinson telah melihat cukup banyak untuk menyebut Veron sebagai pemain dengan keterampilan terbaik kedua yang pernah mengenakan seragam merah United, setelah George Best. "Saya berani mengatakan sekarang bahwa, asalkan tidak terhalang cedera, dia akan menjadi salah satu pemain terhebat sepanjang masa di Old Trafford," kata Atkinson kepada The Guardian. "Visi, variasi umpan, dan kepekaannya terhadap situasi permainan sungguh fenomenal. Setiap kali melihat Veron bermain, saya terpukau."

  • Ketidakseimbangan taktik

    Man Utd v Chelsea X
    Getty Images Sport

    Tak lama kemudian, jelas bahwa kehadiran Veron justru menghambat United, yang sudah tak lagi bersaing memperebutkan gelar sebelum Natal.

    Dengan sanjungan sebesar itu, Veron sudah dibebani ekspektasi yang terlampau tinggi. Singkatnya, ia tak mampu memenuhinya.

    Meski mencetak gol spektakuler ke gawang Bolton di Old Trafford pada akhir Oktober, United kalah 2-1 dalam laga tersebut. Hasil itu menjadi awal kemerosotan besar mereka di Premier League. Tim asuhan Ferguson hanya memenangi satu dari enam pertandingan berikutnya, termasuk saat kalah 3-1 secara beruntun di kandang rival perebutan gelar, Liverpool dan Arsenal, sebelum takluk 3-0 di kandang sendiri dari Chelsea.

    Veron ditarik keluar sebelum menit ke-60 saat menghadapi Arsenal setelah kesulitan mengimbangi kombinasi permainan Patrick Vieira dan Robert Pires. Ia juga kewalahan dalam laga melawan Chelsea, sementara lawan-lawan mulai mengincarnya sebagai titik lemah United.

    Struktur taktik di Italia melindungi para pengatur serangan. Namun, di Inggris, kecenderungan Veron kehilangan penguasaan bola di area tengah membuat lini pertahanan United yang mulai menua rentan terhadap serangan balik cepat. Kehadirannya menimbulkan ketidakseimbangan karena Veron dan Keane sama-sama ingin turun ke belakang untuk menerima bola dari bek tengah. Akibatnya, Paul Scholes terpaksa bermain dalam peran yang tidak biasa baginya, sebagai penyerang kedua atau pemain nomor 10.

    Ferguson terus berganti antara formasi 4-5-1 untuk mengakomodasi Veron dan 4-4-2 yang menjadi fondasi kesuksesan tim pada tahun-tahun sebelumnya. Hal itu membuat United sulit menemukan ritme permainan. Setelah menelan kekalahan kandang ketiga secara beruntun saat menghadapi West Ham pada pertengahan Desember, dalam laga yang tidak dimainkan Veron karena diistirahatkan, Manchester United berada di peringkat kesembilan klasemen, tertinggal 11 poin dari pemuncak klasemen Liverpool.

  • Penampilan gemilang di Liga Champions

    SOCCER-MANCHESTER-DEPORTIVO
    AFP

    United bangkit pada paruh kedua musim 2001/02, tetapi kiprah Veron naik turun.

    Namun, ruang ganti United tidak kekurangan pemain bermental tangguh dan berpengalaman. Keane, Giggs, Scholes, David Beckham, dan Gary Neville menolak menyerah. Dengan Ruud van Nistelrooy, yang didatangkan pada musim panas yang sama dengan Veron, selalu siap memanfaatkan peluang sekecil apa pun, United bangkit dengan mengesankan.

    Manchester United memenangi 13 dari 15 pertandingan setelah kekalahan dari West Ham, lalu mengalahkan West Ham 5-3 di Upton Park untuk naik ke puncak klasemen Liga Primer. Namun, dua penampilan buruk melawan Middlesbrough pada akhirnya menentukan perjalanan United musim itu.

    United kalah 2-0 di Riverside pada putaran keempat Piala FA. Middlesbrough juga meraih kemenangan 1-0 di Old Trafford dalam pertandingan liga pada 23 Maret. Veron bertanggung jawab langsung atas gol penentu Alan Boksic pada menit kesembilan setelah bola direbut darinya oleh Benito Carbone. Ferguson kemudian menariknya keluar pada awal babak kedua.

    Keadaan makin buruk ketika cedera Achilles Veron kambuh dan membuatnya absen dalam tiga pertandingan, termasuk leg pertama perempat-final Liga Champions melawan Deportivo la Coruna. Manchester United menang 2-0 di Spanyol tanpa pemain tim nasional Argentina itu, tetapi Veron kembali tepat waktu untuk leg kedua. Tampil sejak awal karena Keane cedera dan Scholes terkena skorsing, Veron menunjukkan permainan terbaiknya sepanjang musim itu.

    Pertandingan ke-100 Ferguson sebagai pelatih United di kompetisi Eropa berakhir dengan kemenangan 3-2. Veron menciptakan kedua gol Ole Gunnar Solskjaer. Umpan gol keduanya malam itu sulit dipercaya. Setelah menguasai bola di dalam lingkaran tengah, Veron menemukan Solskjaer di kotak penalti lewat umpan luar kaki yang begitu indah dan sulit hingga kebanyakan pemain mungkin tidak akan mencoba melakukannya. Seperti banyak aksi terbaiknya, Veron membuatnya tampak mudah.

    Sayangnya bagi Veron, hasil itu tertutupi oleh cedera serius Beckham. Kapten Inggris tersebut mengalami patah tulang di kakinya, dan pembicaraan seusai pertandingan berpusat pada kemungkinan ia absen di Piala Dunia 2002, bukan pada kejeniusan teknik Veron yang membawa United ke semifinal Liga Champions.

  • “Semuanya idiot sialan”

    Man Utd Training X
    Getty Images Sport

    Ferguson tidak terima dengan kritik terhadap Veron dan meluapkan kemarahannya kepada media menjelang laga penentuan Manchester United melawan Arsenal.

    Veron gagal mengulangi penampilan gemilang itu pada babak berikutnya melawan Bayer Leverkusen, ketika United tersingkir karena aturan gol tandang. Hasil itu dipandang sebagai peluang besar yang terbuang bagi Ferguson untuk tampil di final Liga Champions di kota kelahirannya, Glasgow, tepatnya di Hampden Park. Banyak kritik diarahkan kepada Veron. Sebuah laporan di surat kabar Minggu bahkan mengklaim bahwa dua pemain United dengan marah mengonfrontasi mantan pemain Lazio itu setelah leg kedua.

    Veron juga dituduh kembali ke Roma lima hari kemudian untuk mengupayakan kepindahannya kembali ke Lazio. "Itu omong kosong belaka, kebohongan total," kata Ferguson. Ketika kembali didesak soal penampilan Veron yang tidak menentu, ia melontarkan pembelaan berapi-api yang sarat umpatan terhadap pemain yang direkrutnya dengan biaya memecahkan rekor klub itu.

    Manajer asal Skotlandia itu menyuruh para wartawan meninggalkan ruang pers. "Pergi kalian. Enyahlah dari hadapanku. Aku tak mau bicara dengan kalian lagi, sialan. Veron pemain yang hebat, sialan. Kalian semua bodoh, sialan." Ferguson memang kerap berbicara blak-blakan di hadapan media, tetapi luapan amarah setajam ini tidak terduga.

    Jelas, Ferguson sedang sangat mudah tersinggung menjelang laga penting timnya melawan Arsenal. United harus menghindari kekalahan agar tim asuhan Arsene Wenger tidak dinobatkan sebagai juara di Old Trafford. Sebagai pesan "persetan dengan kalian" terakhir kepada para pengkritiknya, Ferguson menurunkan Veron sejak awal. Namun, ia tidak bisa membungkam mereka: Veron tertatih-tatih meninggalkan lapangan karena cedera pada menit ke-58, beberapa saat setelah Sylvain Wiltord menyarangkan gol kemenangan melewati Fabian Barthez untuk memastikan gelar bagi Arsenal.

    Manchester United finis di posisi ketiga, pencapaian terburuknya di era Liga Primer, dan mengakhiri musim tanpa trofi untuk pertama kalinya sejak 1998-99. Veron kemudian menyebut musim debutnya sebagai "bencana" dan mengeluhkan perbedaan persiapan fisik antara sepakbola Italia dan Inggris.

    "Saya datang dari negara dengan latihan pramusim yang intens ke negara yang menggunakan pertandingan sepakbola sebagai cara untuk berlatih," kata Veron kepada FourFourTwo. "Setelah Desember, saya merasakan dampak dari kurangnya fondasi kebugaran dan mulai mengalami cedera."

    Meski mengalami kesulitan tersebut, Veron tetap mencatatkan kontribusi terhadap 13 gol dalam 40 penampilan, dan kualitasnya terlihat di kompetisi Eropa. Pertahanan United yang rapuh merupakan masalah terbesar mereka. Laurent Blanc, yang berusia 36 tahun, terbukti menjadi pengganti yang buruk bagi Jaap Stam. Ferguson mengatasi masalah itu dengan kembali memecahkan rekor transfer klub untuk merekrut Rio Ferdinand dari Leeds.

  • “Memukau dalam beberapa momen”

    Manchester United's Juan Veron celebrate
    AFP

    Manchester United mengerahkan segala upaya untuk memperkecil jarak dengan Arsenal, dan Veron semakin menjadi aset penting dalam laga-laga paling krusial.

    United dan Veron menunjukkan peningkatan signifikan pada musim 2002-03. Kehadiran Ferdinand membawa perubahan besar, begitu pula asisten manajer baru Carlos Quieroz, yang sangat mendukung formasi 4-5-1 karena memungkinkan Veron berperan sebagai pengatur serangan.

    Lini tengah bekerja lebih efektif dan Manchester United kembali mampu mengendalikan pertandingan, sementara ketajaman Van Nistelrooy semakin meningkat berkat tambahan dukungan di sepertiga akhir lapangan. Veron juga mendapat tanggung jawab lebih besar sejak awal musim karena Keane absen pada awal musim saat memulihkan diri dari operasi pinggul.

    Sekali lagi, pengaruhnya sangat terasa di Liga Champions. Ia mencatatkan empat gol dan tiga asis pada fase grup pertama. Setelah mencetak gol lewat tendangan cungkil yang menawan dalam kemenangan telak 4-0 atas Olympiacos, Veron mencetak gol lain yang layak menjadi kandidat gol terbaik turnamen saat United mengalahkan Bayer Leverkusen 2-0. Ia mengangkat umpan Van Nistelrooy hingga setinggi lutut sebelum melepaskan tendangan voli indah yang meluncur rendah ke gawang dari jarak sekitar 18 meter.

    "Juan tampaknya terinspirasi oleh sepakbola Eropa, ia terlihat sangat menikmatinya," kata Ferguson setelah pertandingan. "Itu bukan peluang yang mudah dimanfaatkan. Ketepatan waktu tembakannya luar biasa."

    Veron tentu bermain lebih leluasa saat Keane absen dan tampil menentukan dalam pertandingan-pertandingan terbesar. Pada Desember, ia mengusir bayang-bayang buruk dengan mencetak gol penting dalam kemenangan 2-0 atas Arsenal, lalu mencetak gol lewat tendangan bebas luar biasa dari jarak sekitar 27 meter dalam kemenangan 3-0 atas West Ham beberapa hari kemudian. Veron juga menambah koleksi asisnya yang mencengangkan saat United mengalahkan Birmingham City di Old Trafford, sebuah momen yang membekas dalam ingatan Ferguson.

    "Ia mengirim umpan kepada Beckham dengan sisi luar kakinya, tanpa mengayunkan kaki ke belakang, dan bola melengkung melewati barisan pertahanan," tulis Ferguson dalam autobiografinya pada 2013. "Beckham berlari menyambutnya dan mencungkil bola melewati kiper. Pada momen-momen tertentu, ia bisa tampil luar biasa." Menjelang akhir 2002, United kembali tampil penuh percaya diri layaknya penantang gelar sejati.

  • Medali yang layak diraih

    Veron
    Getty

    Musim kedua Veron di Old Trafford berakhir dengan gelar juara, meski keraguan soal kecocokannya dengan Liga Primer Inggris masih ada.

    Veron berperan penting saat United melaju ke final Piala Liga, meski akhirnya kalah 2-0 dari Liverpool di Stadion Millennium, Cardiff. Ferguson juga membawa timnya kembali ke perempat-final Liga Champions, dengan tiket ke fase itu dipastikan lewat kemenangan meyakinkan dalam lawatan ke Juventus pada fase grup kedua.

    Manchester United menang telak 3-0 di Turin berkat dua gol gemilang Giggs dan satu gol Van Nistelrooy, serta mendominasi raksasa Italia itu dari menit pertama hingga terakhir. Giggs pantas mendapat sebagian besar pujian, tetapi laga ini merupakan penampilan terbaik Veron selama membela United.

    Ia menyodorkan bola matang kepada Giggs untuk membawa United unggul setelah melewati Gianluca Zambrotta di sayap kanan. Secara keseluruhan, Veron juga mengendalikan tempo pertandingan, membuat mantan rekan setimnya di Lazio, Pavel Nedved, serta Edgar Davids kalah menonjol. Veron adalah seniman sepakbola sejati, dan malam itu Stadio delle Alpi menjadi Kapel Sistina baginya.

    Namun, sentuhan magisnya lebih jarang terlihat di Liga Primer. Selain sebuah umpan terobosan brilian yang memungkinkan Diego Forlan mencetak gol kemenangan pada saat-saat terakhir melawan Chelsea, kontribusi Veron minim setelah pergantian tahun. Musimnya pun praktis berakhir pada Maret ketika ia mengalami cedera pergelangan kaki saat menghadapi Leeds.

    Ferguson mempercepat kembalinya Veron untuk leg kedua perempat-final Liga Champions melawan Real Madrid karena Scholes terkena skorsing. Veron menunjukkan etos kerja tinggi saat United berjuang meraih kemenangan 4-3, tetapi Real Madrid tetap lolos dengan keunggulan agregat 6-5. Itu menjadi penampilan terakhirnya sebagai starter untuk klub.

    Veron absen dalam delapan dari sembilan pertandingan terakhir United di Liga Primer. Ia hanya bermain selama 21 menit dalam kemenangan 4-1 atas Charlton Athletic pada pekan sebelum pekan terakhir. Manchester United memenangi delapan pertandingan tersebut dan menahan Arsenal 2-2 di Highbury. Mereka menghapus defisit delapan poin hingga akhirnya merebut kembali trofi dari klub London Utara itu. Fakta bahwa United menuntaskan musim dengan begitu kuat ketika Veron menepi tentu tidak menguntungkan penilaian terhadapnya.

    Meski begitu, tidak diragukan lagi bahwa ia layak menerima medali juara. Veron terlibat dalam lima gol dari 25 penampilan di Liga Primer. Walaupun jelas tidak cocok dengan karakter sepakbola Inggris saat itu, Ferguson tidak pernah berhenti percaya pada kemampuannya untuk menjadi penentu kemenangan.

  • Berakhir mendadak

    Ruud Van Niselrooy of Man Utd celebrates
    Getty Images Sport

    Veron meninggalkan Manchester United untuk bergabung dengan Chelsea menjelang musim 2003/04, tetapi baru setelah menyuguhkan satu momen terakhir dengan kualitas luar biasa.

    Spekulasi mengenai masa depan Veron terus bergulir sepanjang musim panas 2023, ketika skuad United menjalani tur pramusim di Amerika Serikat. Setelah meraih kemenangan atas Celtic dan Club America, mereka kembali menghadapi Juventus di New Jersey.

    Menjelang pertandingan, perhatian tertuju pada rumor bahwa Veron hampir pindah ke Chelsea dengan nilai transfer £15 juta. Namun, ia sama sekali tidak tampak terganggu. Veron menyiapkan dua gol saat United menghajar Juventus 4-1. Assist trivela-nya untuk Van Nistlerooy menjadi momen terbaik pertandingan itu, sekali lagi memperlihatkan kemampuan sang maestro Argentina melihat peluang di lapangan yang luput dari pemain lain. Satu sentuhan sederhana dengan kaki kanannya membelah pertahanan Juve.

    "Seba adalah pemain terbaik di lapangan. Dia tidak kehilangan bola sekali pun, semua umpannya tepat sasaran, dan assist untuk gol saya benar-benar brilian," kata Van Nistelrooy setelah peluit akhir. "Tidak banyak pemain yang mampu melambungkan bola seperti yang dia lakukan."

    Ferguson menyuarakan pandangan serupa dengan pemain asal Belanda itu sekaligus mengisyaratkan bahwa Veron akan bertahan: "Orang-orang terus melihatnya dalam tur ini, tetapi mereka masih saja mengatakan dia akan pergi. Kecuali dia dibawa pergi tepat di depan hidung saya, mereka salah. Seba adalah pemain yang luar biasa. Dia punya imajinasi yang hebat, selalu menginginkan bola, dan memiliki stamina yang sangat baik. Dia tampil luar biasa malam ini."

    Namun, kurang dari sepekan kemudian, Veron terbang kembali ke London dan menandatangani kontrak empat tahun di Chelsea. Menurut lulusan akademi Estudiantes itu, Ferguson-lah yang mendorongnya pergi.

    "Ferguson tidak tulus kepada saya. Dua bulan lalu, beberapa klub menyatakan minat dan dia mengatakan saya tidak dijual," ungkap Veron. "Dia membuat saya merasa masih diinginkan. Namun, ketika ada uang yang ditawarkan, ucapannya berubah. Itu sulit saya terima. Kabar (bahwa dia akan bergabung dengan Chelsea) terus beredar dan tidak ada seorang pun di Manchester yang membantahnya, jadi saya bertanya kepada Ferguson, 'Apakah Anda menginginkan saya di skuad?'.

    "Lalu dia mengatakan bahwa tawaran Chelsea sangat bagus, menarik secara finansial, menggiurkan. Saya sadar semuanya soal uang. Saya bilang saya tidak tertarik pada uang, tetapi jika memang itu persoalannya... Saya rasa itulah titik balik bagi saya."

    Ferguson memberikan tanggapan tajam di Manchester Evening News: "Seba sudah tahu sejak awal apa yang terjadi, jadi mengatakan bahwa saya bermuka dua dalam hal ini sungguh keterlaluan." Sebaliknya, setelah merekrut Kleberson dan Eric Djemba-Djemba, sang manajer menegaskan bahwa ia memiliki pilihan gelandang yang "terlalu banyak", sehingga United menerima tawaran Chelsea.

  • Chelsea 'menyesal'

    Juan Sebastian Veron of Chelsea
    Getty Images Sport

    Kombinasi masalah di luar lapangan dan cedera membuat Veron gagal beradaptasi di Chelsea, dan ia kemudian mengungkapkan penyesalannya karena meninggalkan Old Trafford.

    Jika kiprah Veron di Old Trafford bisa disebut kurang memuaskan, masa baktinya di Stamford Bridge tergolong mimpi buruk. Ia hanya tampil 14 kali di semua kompetisi di bawah asuhan Claudio Ranieri pada musim 2003-04, mencetak satu gol (dalam debutnya melawan Liverpool), dan harus absen selama lima bulan akibat cedera punggung.

    Veron, yang saat itu berusia 28 tahun, juga mengalami peristiwa mengerikan di rumahnya di Barnes, London Selatan, ketika seorang perampok bersenjatakan parang meneror dirinya, kekasihnya, dan anak-anak mereka dalam perampokan senilai £60.000. Wajar jika ia tak pernah berhasil merasa betah di ibu kota Inggris itu, dan Chelsea meminjamkannya ke Inter setelah hanya satu musim.

    Mengenang keputusannya meninggalkan United demi Chelsea, Veron mengakui pada 2019, "Soal United, sejujurnya hanya sedikit hal, sangat sedikit, yang saya sesali. Namun, salah satunya adalah meninggalkan Manchester. Saya berbicara dengan mantan rekan-rekan saya kala itu, dan mereka mengatakan bahwa saya harus bertahan. Lalu, pada suatu titik, saya memutuskan pergi karena saya ingin bermain, karena saya tidak tahu... Seharusnya saya bertahan."

    Ia juga mengatakan kepada FourFourTwo pada 2021: "Sebenarnya saya merasa lebih sulit tinggal di London daripada di Manchester karena saya berasal dari La Plata, kota yang cukup kecil. Saya berharap bisa bertahan lebih lama di United karena saya yakin bisa melakukan banyak hal secara berbeda. Jika saya tetap di Manchester, saya rasa saya akan lebih sering bermain secara berkesinambungan."

  • Mendahului zamannya

    Juan Sebastian Veron of Manchester United
    Getty Images Sport

    Kegagalan Veron di Manchester bukan karena kurangnya usaha, melainkan karena ia tidak cocok dengan formula kesuksesan pada periode tersebut.

    Meski begitu, Veron tidak menyimpan perasaan buruk terhadap Ferguson. Sebaliknya, ia mengakui bahwa dirinya tidak berbuat cukup untuk menjadi pemain reguler di tim.

    “Pada beberapa kesempatan, saya tidak mampu secara konsisten memberikan semua yang ia harapkan dari saya,” kata Veron kepada FourFourTwo. “Saya bisa melakukannya dalam beberapa pertandingan, tetapi tidak dalam pertandingan lainnya. Jika ingin menjadi pemain hebat, Anda harus tampil stabil. Saya tidak mampu melakukannya di Old Trafford.”

    Sementara itu, Ferguson mengakui dalam autobiografinya bahwa ia tidak pernah menemukan cara terbaik untuk memanfaatkan Veron: “Meski ada sejumlah kontribusi spektakuler, Veron tidak bisa bermain dalam tim kami. Ia pemain yang individualistis. Ia tipe pemain yang, jika Anda menggelar latihan tim merah melawan tim kuning, Veron akan bermain untuk kedua tim. Ia bermain di mana-mana. Ia pergi ke mana pun ia mau. Jika saya melatihnya selama 100 tahun, saya tetap tidak akan tahu di mana harus memainkannya. Ia pemain yang sulit ditebak, sang joker.”

    Sejumlah bintang United yang pernah bermain bersama Veron menyampaikan pandangan serupa selama bertahun-tahun, termasuk Butt: “Veron memang sosok yang menyenangkan dan pesepakbola yang luar biasa, tetapi ia tidak tahu apa artinya menjadi pemain United. Ia tidak memahami karakter klub ini. Ia tidak bisa mengikuti tempo permainan. Para suporter tidak menginginkan gerakan-gerakan kecil menggulirkan bola dan umpan-umpan teknis. Mereka menginginkan permainan yang penuh semangat dan intensitas.”

    Dalam sesi siaran langsung Instagram pada 2022, Ferdinand mengemukakan teori lain: “Menurut saya, masalahnya adalah Roy Keane. Itu bukan salah Roy Keane, hanya saja kepribadiannya lebih besar dan lebih mendominasi.” Keane mengakui hal serupa kepada Sunday Times pada 2006: “Saya sangat keras terhadap Seba dan saya salah. Saat ia datang, saya mengharapkan keajaiban. Ketika itu tidak terjadi, saya selalu menyoroti dirinya.”

    United membutuhkan Veron untuk menjadi sosok yang bukan dirinya. Rancangan taktik disiplin yang menghasilkan begitu banyak kesuksesan bagi Ferguson dalam 11 tahun pertama Premier League tidak memberi ruang bagi seorang regista berjiwa bebas seperti Veron. Seandainya Veron bergabung dengan United beberapa tahun kemudian, ketika formasi 4-3-3 dan 4-2-3-1 mulai populer, ia hampir pasti akan berkembang pesat.

    “Cara Seba bermain, setelah datang dari Italia, sebenarnya mirip dengan cara bermain banyak gelandang sekarang, seperti Bruno Fernandes. Ia sangat mengingatkan saya kepada Veron,” kata Gary Neville kepada Sky Sports setelah Fernandes pindah ke United pada 2020. “Namun, sepakbola kini telah berkembang hingga para pemain bisa bergerak ke berbagai posisi. Sistem permainan jauh lebih cair, dan formasi 4-4-2 sudah tidak ada lagi.

    “Menurut saya, Veron datang dengan pola pikir untuk saling bertukar posisi dan cara pandang yang berbeda, lalu masuk ke tim yang pola permainannya sudah mapan. Bagi saya, itulah sebabnya ia tidak sepenuhnya berhasil. Itu sama sekali bukan karena dirinya sebagai pemain atau sebagai pribadi. Ia pemain yang brilian.”

    Dengan kata lain, Veron adalah sosok istimewa yang berbeda dari pemain lain. Ia tiba di Old Trafford dengan gaya bermain yang saat itu belum dipahami Premier League. Dengan keanggunan permainannya yang mengalir bak dalam film, Si Penyihir Kecil bermain di level yang lebih tinggi.