Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Dominik Szoboszlai Liverpool 1:1Getty/GOAL

Dominik Szoboszlai membuat gol spektakuler kembali keren

Gelandang asal Hungaria itu menambahkan satu lagi gol luar biasa ke dalam koleksi highlight-nya saat kemenangan di Carabao Cup pekan lalu, seiring ia terus menghidupkan kembali seni gol jarak jauh yang mulai terlupakan.

James Westwood
Diterjemahkan oleh
  • Liverpool memulai era Andoni Iraola dengan lambat, hanya memenangi satu dari empat pertandingan pertama mereka di Premier League. Para suporter sangat membutuhkan suntikan semangat setelah hasil imbang tanpa gol yang suram melawan Fulham di Anfield, tetapi mereka kembali dibuat tegang saat Liverpool menghadapi Tottenham pada putaran ketiga Carabao Cup.

    Gol dari Alexis Mac Allister dan Cody Gakpo memberi Liverpool keunggulan 2-0, tetapi Conor Gallagher menipiskan ketertinggalan untuk Tottenham pada menit ke-69, dan tim tamu kemudian terus menekan demi mencari gol penyeimbang. Liverpool mampu bertahan, namun, dan akhirnya memastikan kemenangan pada masa injury time lewat momen jenius yang menakjubkan dari Dominic Szoboszlai.

    Gakpo menguasai bola di sisi kiri dan mencungkilnya melewati seorang bek ke arah Szoboszlai, yang mengontrolnya dengan dada sebelum melepaskan tembakan keras yang melengkung melewati kiper Tottenham Martin Dubravka, yang sudah membentang penuh, dan masuk ke sudut atas gawang. Roket dari jarak 35 yard itu membuat publik tuan rumah bergemuruh, tetapi tak ada ekspresi terkejut; Szoboszlai memang sudah lama dikenal sebagai spesialis tembakan jarak jauh.

    Memang, tidak ada pemain Premier League yang mencetak lebih banyak gol dari luar kotak penalti (13) di semua kompetisi daripada Szoboszlai sejak ia bergabung dengan Liverpool dari RB Leipzig pada musim panas 2023. "Saya akan bilang itu masuk lima besar," kata pemain internasional Hungaria itu saat ditanya di mana ia menempatkan gol terbarunya. "Anda tahu ketika melepaskan tembakan yang bagus, Anda bisa merasakannya. Saya kira bola akan masuk ke tengah, tetapi saya melihatnya bergerak ke kanan. Semuanya sempurna."

    Selama bertahun-tahun, ada kekhawatiran luas bahwa aliran pemikiran Pep Guardiola yang populer, yang berfokus pada pola permainan rumit untuk kurang lebih mengalirkan bola ke gawang, sedang membunuh seni gol spektakuler. Namun, Szoboszlai nyaris sendirian membuatnya keren lagi.

  • Gol-gol spektakuler

    WIMBLEDON V LEEDS
    Getty Images Sport

    Era awal Premier League dipenuhi gol-gol spektakuler dari jarak jauh ketika lini pertahanan mundur sangat dalam

    Tembakan jarak jauh menjadi bagian penting dari permainan pada 1990-an dan awal 2000-an karena pertahanan tidak sekompak sekarang. Banyak tim bertahan sangat dalam di area penalti untuk melindungi gawang mereka, sehingga menyisakan ruang sangat luas bagi lawan untuk ancang-ancang dan melepaskan tembakan.

    Suporter dan manajer secara aktif mendorong mentalitas 'coba peruntungan' atau 'uji kiper', dan meski banyak tembakan melambung tinggi atau melebar, gol-gol spektakuler adalah hal yang lazim. Kebanyakan suporter akan menunjuk gol spesial Matt Le Tissier dari jarak 35 yard untuk Southampton melawan Blackburn pada 1994, atau voli klasik Tony Yeboah untuk Leeds United melawan Liverpool pada Agustus 1995 sebagai contoh paling awal dari gol roket sejati di Premier League. Yeboah nyaris melampauinya pada bulan berikutnya juga, menghujamkan bola lewat pantulan mistar dari tepi kotak penalti setelah mengecoh bek Wimbledon dengan sebuah gerakan tipu yang sempurna.

    Pada 1996, legenda Manchester United David Beckham terkenal mencetak gol dari dalam wilayah pertahanannya sendiri melawan lawan yang sama. Empat tahun kemudian, Beckham memberi umpan kepada Paul Scholes lewat skema sepak pojok hasil latihan melawan Bradford City, dan pesulap berambut merah milik United itu melepaskan voli first-time keras ke sudut bawah gawang.

    Scholes memenangi kontes Goal of the Month Match of the Day versi BBC pada Desember 2006 untuk upaya serupa melawan Aston Villa, tetapi setiap kandidat benar-benar layak mendapatkan hadiah itu. Matt Taylor dari Portsmouth menaklukkan kiper utama Everton Tim Howard dari jarak 55 yard, roket melengkung dengan kaki bagian luar dari Michael Essien memberi Chelsea hasil imbang melawan Arsenal, dan Morten Gamst Pedersen mengoyak atap gawang untuk Blackburn melawan Newcastle dengan tembakan tajam yang luar biasa.

    Ada jauh lebih banyak gol roket tak terlupakan lainnya, terlalu banyak untuk diingat sepenuhnya di sini, dan itulah intinya. Kita dimanjakan oleh gol-gol seperti itu. Sayangnya, seiring evolusi sepakbola pada 2010-an, momen seperti itu menjadi jauh lebih langka.

  • Taktik berbasis data

    Pep Guardiola

    Pesatnya perkembangan analitik telah memicu evolusi yang secara alami mengurangi tembakan jarak jauh

    Menurut informasi dari Opta yang disediakan pada Desember 2025, rata-rata 85,7 persen gol Premier League (sejak 2003-04) dicetak dari dalam kotak penalti, dengan rata-rata tingkat konversi 15%. Pengenalan data sepakbola mengubah segalanya, dan bukan hanya di sepakbola Inggris, tetapi di seluruh Eropa.

    Pelatih yang teliti seperti Guardiola mulai memprioritaskan penciptaan peluang bernilai lebih tinggi dari jarak dekat. Expected goals (xG) menjadi metrik utama untuk mengukur kualitas sebuah peluang mencetak gol, dengan setiap tembakan diberi nilai antara 0 dan 1 untuk merepresentasikan kemungkinan bahwa tembakan itu akan berbuah gol. Analis dan ilmuwan data menghitung bahwa tembakan dari jarak 30 yard biasanya memiliki peluang kurang dari 3% untuk masuk, sehingga tim-tim papan atas memandangnya sebagai pemborosan penguasaan bola yang berharga.

    Pertahanan yang bermain terlalu dalam juga menjadi usang, digantikan oleh garis pertahanan tinggi. Sepakbola modern berkaitan dengan intensitas pressing dan menyakiti tim lawan dalam transisi. Ketika itu berhasil, para penyerang dan striker mendapat umpan terobosan langsung ke gawang, sehingga jauh lebih kecil alasannya untuk melepaskan tembakan dari jarak jauh.

  • 'Di mana cintanya?'

    Jamie Redknapp penalty
    Getty Images Sport

    Banyak kaum puris meyakini bahwa obsesi terhadap analisis statistik telah merugikan permainan dari sudut pandang hiburan

    Perkembangan ini tidak diterima dengan baik oleh para mantan pemain yang dicintai karena kegemaran mereka mencetak tembakan-tembakan ajaib, termasuk eks gelandang Liverpool dan England Jamie Redknapp, yang angkat bicara soal isu ini pada 2024. "Pemain sekarang dilatih hampir sampai mereka tak punya ruang untuk bernapas. Rasanya seperti mereka tidak lagi berpikir untuk diri mereka sendiri," kata Redknapp kepada iPaper.

    "Kalau kita membiarkan akademisi dan ahli statistik menjalankan permainan ini, di mana kemurniannya? Di mana cintanya? Di mana momen-momen besar yang tercatat dalam sejarah? Coba katakan kepada Bobby Charlton, 'Jangan menembak dari jarak 25 yard karena xG-nya 0,1. Anda adalah penendang bola terbaik yang pernah dilihat dunia, tapi jangan menembak dari sana karena ada beberapa pelatih yang bilang peluang Anda lebih kecil.'

    "Saya banyak berlatih tembakan jarak jauh. Tapi sekarang itu adalah sesuatu yang lebih jarang Anda lihat karena para pemain mungkin tidak cukup sering melakukannya. Di sinilah Anda harus punya feeling, Anda harus menjauhkan hal-hal itu dari akademisi, pelatih, dan statistik, lalu berkata, 'Tahu tidak, saya akan melepaskan tembakan di sini.' Statistik seharusnya tidak pernah menghalangi feeling itu."

    Pada musim 2005-06, 48,2% dari seluruh tembakan di Premier League dilepaskan dari luar kotak 18 yard, yang masih menjadi rekor tertinggi sepanjang masa. Pada 2011-12, angka itu turun menjadi 44%, dan rata-ratanya sejauh ini berada di kisaran 31,7% hingga 33,1% berdasarkan data yang dikumpulkan sepanjang 2020-an.

    Itu jelas membuktikan bahwa "cinta" tersebut telah berkurang dan para pemain beroperasi dengan cara yang lebih mekanis ketimbang mengandalkan "feeling". Namun, itu tidak berlaku secara universal. Akan selalu ada mereka yang melawan norma yang diterima, seperti Szoboszlai, dan para manajer yang bukan hanya sependapat dengan pandangan Redknapp, tetapi juga berperan aktif dalam membantu menghadirkan kembali 'masa-masa indah dulu'.

  • Meneladani Gerrard

    Steven Gerrard Liverpool
    Getty Images

    Szoboszlai mengikuti jejak seorang legenda Liverpool dengan pencapaiannya yang luar biasa dari jarak jauh

    Liverpool sempat kekurangan spesialis tembakan jarak jauh sejak kepergian ikon klub Steven Gerrard, yang mencetak 33 gol Premier League dari luar kotak penalti sepanjang kariernya, sebuah total yang hanya dilampaui oleh Frank Lampard dan Beckham. Szoboszlai dibanding-bandingkan dengan Gerrard sejak pertama kali tiba di Anfield karena ia mewarisi jersey No.8 miliknya, dan ia juga secara terbuka mengakui memiliki tato yang terinspirasi oleh mantan pemain internasional Inggris itu.

    Setiap kali Gerrard melihat celah untuk menembak, tak peduli seberapa jauh posisinya, para penggemar Liverpool selalu mendesaknya untuk melepaskan tendangan. Ia memiliki kaki kanan sekeras meriam dan tekniknya nyaris sempurna. Dari roket 30 yard ke gawang Manchester United pada 2001 dan gol spektakuler pada menit-menit akhir yang menyelamatkan Liverpool dalam laga penentuan Liga Champions melawan Olympiacos, hingga tembakan melengkung luar biasa dari jarak 40 yard ke gawang Middlesbrough serta half-volley indahnya dalam kemenangan dramatis Liverpool di final Piala FA 2006 atas West Ham, Gerrard punya segudang gol yang sulit dipercaya.

    Hebatnya, Szoboszlai sudah mulai menyaingi Gerrard dalam aspek itu, meski bermain di lingkungan Premier League yang sangat berbeda dan lebih dirancang untuk memberi ganjaran kepada pemain sistem ketimbang sosok maverick. Ia bisa menghasilkan kekuatan tembakan yang sama seperti Gerrard dan mengendalikan bola sesuka hati, sementara ia juga selalu percaya diri untuk mengarahkan bola ke sasaran dari sudut dan jarak yang berani.

    Faktanya, 42% dari 31 gol Liverpool yang ia cetak sejauh ini lahir dari jarak jauh. Szoboszlai membuka rekening golnya dengan seragam merah legendaris itu lewat half-volley brilian dari tepi kotak penalti saat menghadapi Aston Villa, yang menjadi pertanda akan apa yang datang kemudian. Mantan bintang Leipzig itu tidak diprogram untuk selalu mengambil opsi aman; ia tahu bahwa dirinya bisa menjadi pembeda utama ketika peluang muncul, yang membuatnya menjadi senjata unik bagi Liverpool.

  • ahli bola mati

    Liverpool v Arsenal - Premier League
    Getty Images Sport

    Szoboszlai telah menjadi pemain yang paling ditakuti di Premier League dalam situasi bola mati

    Liverpool mungkin tidak akan berada di Liga Champions saat ini jika bukan karena kepercayaan diri Szoboszlai yang tak pernah goyah. Mereka menyerahkan gelar dengan begitu mudah sambil finis di posisi kelima Premier League pada tahun terakhir Arne Slot memimpin tim, dan Szoboszlai menyumbang 13 gol penting di semua kompetisi, dengan delapan di antaranya lahir dari luar kotak penalti.

    Ini juga menjadi tahun ketika ia memantapkan diri sebagai spesialis bola mati. Szoboszlai mencetak lima gol dari tendangan bebas, termasuk empat di Premier League untuk mencatat rekor baru klub dalam satu musim.

    Gol pertamanya memberi Liverpool kemenangan kandang 1-0 pada menit-menit akhir atas Arsenal, yang kemudian menjadi juara, saat ia menjebol sudut atas gawang dari jarak 29,7 meter dengan tembakan melengkung keras yang benar-benar memperdaya David Raya, dengan bola sempat mengenai tiang sebelum masuk. Gol itu kemudian dinobatkan sebagai Goal of the Season, dan layak disejajarkan dengan yang terbaik sepanjang sejarah Premier League.

    Szoboszlai juga melepaskan tembakan melengkung indah dalam kekalahan Liverpool 3-2 di markas Bournemouth, dan menyamai aksinya melawan Arsenal dengan sepakan 'knuckleball' yang tak terbendung saat Liverpool kalah 2-1 di kandang dari Man City. Ia melengkapi kuartetnya dalam hasil imbang 1-1 melawan Spurs, meski pada momen itu ia terbantu oleh penampilan kiper yang buruk dari Guglielmo Vicario.

    Dalam sesi masterclass tendangan bebas bersama Redknapp untuk Sky Sports pada Mei, Szoboszlai mengungkapkan bahwa ia "hanya fokus pada bola" dan berusaha mengenai katupnya, teknik yang pertama kali dibawa ke perhatian publik oleh Cristiano Ronaldo pada periode pertamanya di Manchester United. Szoboszlai biasanya memakai pendekatan yang sama ketika ia mendapat sedikit ruang dalam permainan terbuka, dengan menendang tepat di bagian tengah bola untuk meminimalkan putaran rotasi dan menjaga gerakan lanjutan kakinya tetap pendek demi menciptakan gerakan meliuk di udara.

  • Selalu ada ruang untuk mengekspresikan diri

    Dominik Szoboszlai Liverpool 2026-27 Newcastle
    Getty

    Aksi-aksi Szoboszlai tampaknya telah menginspirasi rekan-rekannya, dengan Premier League mengalami peningkatan gol dari luar kotak penalti pada 2026-27

    Tampaknya Iraola ingin memaksimalkan lagi kelebihan Szoboszlai musim ini dengan mendorong Liverpool agar lebih sering melepaskan tembakan dari jarak jauh. "Kami banyak berlatih menembak," kata Mac Allister kepada kanal media Liverpool setelah kemenangan atas Tottenham pekan lalu. "Dom memilikinya, itu alami baginya."

    Kini, pemain lain mulai mengikuti contoh yang ditetapkan pemain nomor 8 andalan Liverpool tersebut, tentu saja di Premier League. Hanya 13,9% gol yang tercipta di kompetisi itu musim lalu berasal dari luar kotak penalti, tetapi angkanya naik menjadi 17,2% setelah lima pekan pertama musim baru, sementara gol dari dalam kotak turun dari 25,1% menjadi 18,7%, menurut The Guardian.

    Kejutan musim ini Brighton memainkan peran besar, dengan Lewis Dunk mencetak gol indah dari jarak 27 meter dan Yasin Ayari juga mencetak gol dari luar kotak penalti dalam kemenangan telak 5-0 atas Coventry City. Pascal Gross dan Charalampos Kostoulas juga melakukan hal yang sama saat Brighton menaklukkan Arsenal dengan kemenangan mengejutkan 3-0 pada Sabtu, sementara Emiliano Buendia melepaskan gol ketiga Aston Villa dari jarak 23 meter dalam kemenangan 3-2 atas Tottenham.

    Blok pertahanan rendah kembali sering diterapkan ketika klub-klub yang disebut lebih kecil mencoba meredam tim elite, sementara tim papan menengah kian berani. Godaan untuk melepaskan tembakan dari jarak jauh pun kembali membesar sebagai akibatnya, dengan Guardiola tidak lagi berada di sekitar untuk terus mengajarkan pentingnya terus-menerus mengalirkan ulang bola.

    Szoboszlai layak mendapat banyak pujian atas pergeseran romantis ini. Dia telah menunjukkan bahwa harus selalu ada ruang untuk ekspresi diri dan pengambilan risiko yang sesungguhnya. Insting murni masih bisa mengalahkan algoritma, dan mengingatkan orang-orang mengapa mereka jatuh cinta pada permainan indah ini sejak awal.