Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Colo-Colo - 1:1Getty/GOAL

Colo-Colo: Bagaimana klub Cile ini menjadi simbol bagi sesuatu yang jauh lebih besar

James Westwood
Diterjemahkan oleh
  • "Colo-Colo sejauh ini merupakan klub paling populer di Cile. Sekitar 42 persen penduduk mengaku sebagai pendukung klub ini," kata kepala bidang komersial dan pemasaran Colo-Colo, Samuel Perez, kepada Football Business Inside pada 2022. "Kami memiliki basis pendukung terbesar di setiap wilayah di seluruh negeri, di setiap kelompok sosial ekonomi dan usia. Segala hal terkait klub ini diberitakan media setiap hari. Ada dua ungkapan yang sangat terkenal: 'Colo-Colo adalah Cile' dan 'Ketika Colo-Colo menang, roti terasa lebih renyah dan teh terasa lebih manis keesokan harinya'."

    Memang, Colo-Colo memiliki ikatan erat dengan masyarakat kelas pekerja Cile. Roti dan teh pun hampir selalu terasa nikmat, karena tim ini terus meraih kemenangan sepanjang sebagian besar sejarahnya yang telah berusia 101 tahun. Colo-Colo telah memenangi rekor 34 gelar Primera Division de Chile, jauh mengungguli rivalnya, Universidad de Chile (18) dan Universidad Catolica (16). Tidak ada pula yang mampu melampaui koleksi 14 gelar Copa Chile mereka.

    Colo-Colo juga menjadi satu-satunya klub Cile yang pernah menjuarai Copa Libertadores, kompetisi antarklub utama Amerika Selatan yang setara dengan Liga Champions. Mereka pun satu-satunya tim Cile yang tampil di setiap musim divisi tertinggi tanpa pernah terdegradasi. Semua itu menjelaskan mengapa Colo-Colo dikenal sebagai 'Eterno Campeon' ('Sang Juara Abadi') oleh para pendukung colocolino yang sangat setia. Klub ini melampaui sepakbola itu sendiri dan menjadi cermin kegembiraan serta perjuangan kolektif Cile.

  • Awal mula

    Colo-Colo
    Getty Images

    Klub itu meraih kesuksesan hampir seketika, tetapi juga harus menghadapi tragedi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Colo-Colo didirikan pada 1925 setelah pemain tim nasional Chile, David Arellano, dan 10 pemain lainnya memisahkan diri dari Deportes Magallanes, salah satu klub tertua di negara itu yang didirikan pada akhir abad ke-19. Mereka memilih nama tim baru tersebut sebagai penghormatan kepada Colocolo, seorang kepala suku pribumi legendaris yang memimpin masyarakat Mapuche dalam Perang Arauco pada abad ke-16 melawan penjajah Spanyol.

    Colocolo dikenal sebagai juara palin, olahraga tradisional masyarakat pribumi yang mirip hoki, dan dihormati sebagai pemimpin pemberani serta cerdik dengan semangat pantang menyerah. Arellano dan rekan-rekannya berharap sifat-sifat itu menular kepada para pemain yang bertanding atas namanya.

    Tragisnya, Arellano tidak sempat menyaksikan Colo-Colo menjadi klub nomor satu di Chile. Ia meninggal akibat peritonitis yang disebabkan oleh hantaman keras di perut dari seorang pemain Real Valladolid saat Colo-Colo berkeliling Eropa untuk menjalani pertandingan ekshibisi. Kabar kepergian Arellano mengguncang Chile dan Amerika Selatan secara keseluruhan. Ribuan orang memberikan penghormatan terakhir di pemakamannya, sementara Colo-Colo menempatkan garis hitam horizontal di atas lambang klub sebagai simbol duka dan rasa terima kasih yang abadi.

    Meski kehilangan salah satu pendiri sekaligus kapten tim yang mereka cintai, Colo-Colo terus berkembang. Pada 1933, mereka turut membentuk liga sepakbola profesional Chile bersama enam klub lain dari Santiago, ibu kota negara tersebut. Empat tahun kemudian, Colo-Colo meraih gelar juara nasional pertama mereka tanpa sekali pun kalah, lalu mengangkat trofi itu empat kali lagi dalam sepuluh musim berikutnya.

  • Simbol perlawanan

    FBL-LIBERTADORES-ATLAS-COLOCOLO
    AFP

    Setelah potret Colocolo dicantumkan pada lambang klub, lambang itu menjadi simbol harapan di masa-masa kelam.

    Lambang-lambang pertama Colo-Colo berupa perisai sederhana dengan nama klub tertulis secara diagonal di atasnya, tetapi hanya muncul di poster dan panji-panji, bukan di jersey resmi. Namun, desain baru dibuat khusus untuk jersey pada 1950, dengan potret Colocolo ditambahkan ke perisai.

    Rambut hitam dan ikat kepala putihnya mewakili warna klub. Perisai yang diberi warna biru dan merah untuk menyertakan warna bendera Chile ditempatkan di belakang nama Colo-Colo dalam sebuah bidang persegi panjang untuk menyempurnakan lambang tersebut. Desain baru ini mengukuhkan julukan terkenal klub, 'El Cacique' ('Sang Kepala Suku').

    Pada 1970-an dan 1980-an, lambang itu memiliki makna yang semakin besar. Selama kediktatoran militer Augusto Pinochet, masyarakat Mapuche menghadapi penindasan politik dan penghapusan budaya. Colo-Colo meraih10 trofi selama periode tersebut dengan sosok pejuang Mapuche terpampang di bagian dada jersey mereka, dan menjadi simbol perlawanan bagi masyarakat adat di Chile.

    Secara keseluruhan, lambang Colo-Colo memiliki delapan versi berbeda. Sebuah bintang ditambahkan di atas pita berkabung hitam Arellano pada 1992 untuk menandai keberhasilan klub di Copa Libertadores. Lambang ini merupakan salah satu yang paling khas dan paling kuat secara historis dalam sepakbola dunia, serta dapat dipandang sebagai surat cinta bagi jiwa seluruh bangsa.

  • Rumah ikonis

    FBL-LIBERTADORES-COLOCOLO-CERROPORTEÑO
    AFP

    Kedekatan Colo-Colo dengan Pegunungan Andes menghadirkan latar yang menakjubkan bagi pertandingan kandang mereka.

    Colo-Colo awalnya bermain di Estadio El Llano sebelum pindah ke Campos de Sports de Nunoa pada 1928. Sejak 1939, mereka terutama menggelar pertandingan kandang di stadion nasional Cile, Estadio Nacional. Sementara itu, pada 1946, mereka membeli Fortin Mapocho, lapangan milik Carabineros de Chile yang telah ditutup karena alasan keamanan, dengan tujuan membangun stadion berkapasitas 30.000 tempat duduk. Namun, mereka menjualnya setelah peraturan pemerintah kota menghalangi pembangunan.

    Pada 1956, Antonio Laban, yang saat itu menjabat presiden klub, memaparkan rencana yang jauh lebih besar untuk stadion berkapasitas 120.000 penonton. Ia membeli lahan seluas 28 hektare di Macul dengan harapan stadion itu selesai tepat waktu saat Cile menjadi tuan rumah Piala Dunia 1962. Namun, keadaan berubah secara tragis dan menggagalkan segalanya.

    Ketika pembangunan telah mencapai 75% dua tahun sebelum turnamen dimulai, gempa bumi mengguncang kota Valdivia di Cile selatan. Pemerintah pun mencoret lokasi yang belum selesai dibangun itu dari rencana Piala Dunia.

    Selama 15 tahun berikutnya, Colo-Colo berjuang mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan. Stadion itu dibuka sebagian pada 20 April 1975, dan tim merayakannya dengan kemenangan 1-0 atas Aviacion. Namun, terlalu banyak fasilitas dasar yang belum tersedia sehingga stadion tersebut dinilai tidak layak digunakan setelah hanya empat pertandingan lagi. Klub pun terpaksa kembali ke Estadio Nacional.

    Penantian berlanjut hingga 1989, ketika stadion yang dinamai Estadio Monumental David Arellano untuk menghormati pendiri klub itu akhirnya rampung. Pendanaannya terutama berasal dari anggota klub di tingkat akar rumput dan para sponsor, ditambah biaya transfer sebesar $1 juta yang diterima Colo-Colo dari Bologna untuk penyerang Hugo Rubio. Stadion itu dirancang berbentuk mangkuk beton dengan tribun curam agar suporter berada dekat dengan aksi di lapangan.

    Dengan begitu banyak area untuk penonton berdiri, stadion tersebut menampung antara 62,5000 dan 65.000 penonton saat peresmian kembali. Namun, pemasangan kursi individual secara bertahap dan peningkatan infrastruktur untuk memenuhi peraturan keselamatan modern membuat kapasitasnya berkurang selama bertahun-tahun. Kini kapasitasnya sekitar 47.000 penonton. Tahun lalu, Colo-Colo mengumumkan rencana renovasi untuk kembali meningkatkan kapasitas itu menjadi 60.000 penonton, dengan pembangunan dijadwalkan dimulai pada akhir 2027.

    Rencana itu memicu antusiasme besar, tetapi Monumental sudah sangat istimewa dalam kondisinya saat ini. Tribun tingkat bawah berada di bawah permukaan tanah, sehingga stadion itu terasa seperti koloseum yang terbenam. Cekungan yang dalam tersebut juga memerangkap suara dengan baik, menciptakan atmosfer yang mengintimidasi tim lawan.

    Stadion itu juga memiliki latar pemandangan yang menakjubkan. Puncak Pegunungan Andes yang tertutup salju menjulang di belakang tribun timur dan tampak nyaris bisa disentuh saat langit musim dingin cerah. Dalam pertandingan malam, cahaya matahari terbenam menyinari pegunungan dengan rona jingga, mengubah stadion itu menjadi pemandangan indah yang oleh warga setempat dikenal sebagai 'cielo en llama' (langit yang terbakar).

  • Garra Blanca

    Colo Colo v Union Española - Copa Chile
    Getty Images Sport

    Kelompok ultras Colo-Colo telah menjadi bagian dari mitologi klub, baik karena alasan positif maupun negatif.

    Kelompok ultras barra brava Colo-Colo, 'Garra Blanca' (Cakar Putih), berperan penting dalam menjadikan Monumental stadion yang begitu unik. Kelompok ini resmi dibentuk di wilayah Santiago pada 1985 dan terinspirasi oleh budaya Inggris serta Eropa, dengan wajah yang dicat dan nyanyian terkoordinasi sambil bertelanjang dada.

    Garra Blanca menjadi wadah bagi anak-anak muda yang terpinggirkan oleh rezim Pinochet untuk meluapkan frustrasi dan mengekspresikan identitas mereka. Sebagai balasannya, mereka menunjukkan kesetiaan yang kuat kepada Colo-Colo, terutama ketika memelopori gerakan penggalangan dana ala telethon 'Coloton' setelah klub bangkrut pada 2002. Gerakan itu membantu klub tetap bertahan sebelum restrukturisasi perusahaan dilakukan.

    Komitmen mereka yang tak pernah padam kepada klub juga terbukti di tribun. Hanya sedikit stadion di Amerika Selatan yang atmosfernya lebih mengintimidasi daripada Monumental Arellano saat Garra Blanca bersorak lantang. Salah satu ciri utama mereka adalah penggunaan spanduk kain raksasa yang dilukis dengan tangan dan menutupi seluruh tribune utara, sementara suar dan bom asap yang kerap dinyalakan menciptakan dinding kabut dengan latar Pegunungan Andes.

    Namun, kisah mereka juga memiliki sisi kelam. Garra Blanca banyak dikaitkan dengan kekerasan berskala luas di stadion, bentrokan dengan polisi militer, dan perkelahian di jalanan dengan kelompok rival, khususnya 'Los de Abajo' (Orang-orang dari Bawah) milik Universidad de Chiles. Pertemuan Superclasico antara kedua klub selalu membutuhkan pengamanan ketat, meski terkadang itu pun tidak cukup.

    Pada 2003, sebuah pertandingan derbi dihentikan setelah pemain Universidad de Chile terkena benda yang dilempar suporter Colo-Colo. Enam tahun kemudian, kekerasan suporter menyebabkan leg kedua semifinal kejuaraan Chile antara kedua klub dihentikan. Colo-Colo dinyatakan menang setelah Los de Abajo melemparkan batu dan kursi plastik ke lapangan. Pada Maret tahun ini, seorang suporter tewas dalam konfrontasi antarkelompok yang terjadi bermil-mil dari stadion dan berujung pada baku tembak.

    Namun, kekerasan itu tidak hanya terjadi dalam Superclasico. Korban jiwa kembali berjatuhan pada April 2025 menjelang laga Colo-Colo melawan Fortaleza di Copa Libertadores, ketika dua suporter remaja tewas dalam desak-desakan massa yang merobohkan salah satu pagar pengaman di luar stadion. Suporter Colo-Colo menyerbu lapangan pada menit ke-72 sebagai bentuk protes, sehingga pertandingan dihentikan.

    Garra Blanca juga pernah mengancam skuad Colo-Colo saat klub terancam degradasi pada 2021. Mereka membentangkan spanduk di pusat latihan bertuliskan, "Kalian menang atau kami bunuh kalian". Meski demikian, kelompok ini secara umum dipandang sebagai perwujudan nilai-nilai kelas pekerja yang melekat pada klub.

    Mereka menggunakan stadion untuk memprotes kesetaraan ekonomi selama pergolakan sosial di Chile pada 2018, serta kerap menggelar turnamen sepakbola dan dapur umum bagi keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Garra Blanca juga menentang pemilik korporat Colo-Colo, Blanco y Negro S.A., yang mereka tuduh memperlakukan klub semata-mata sebagai aset bisnis. Tujuan utama mereka adalah mengembalikan Colo-Colo ke masa ketika klub dijalankan secara demokratis oleh para anggotanya, dan mereka tak segan menyampaikan tuntutan itu langsung kepada pihak korporasi.

  • Kejayaan di Copa dan generasi emas Chile

    Alexis Sanchez (L) of Chile's Colo Colo
    AFP

    Colo-Colo mencuri perhatian besar di kancah internasional pada awal 1990-an dan meraih kesuksesan domestik yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pertengahan 2000-an.

    Pada 1973, Colo-Colo menjadi klub Chile pertama yang mencapai final Copa Libertadores. Namun, mereka kalah 2-1 dari Independiente asal Argentina setelah perpanjangan waktu dalam laga penentuan, menyusul hasil imbang pada dua leg sebelumnya. Mereka akhirnya menghapus kenangan pahit kekalahan itu ketika kembali mencapai final 18 tahun kemudian, pada 1991.

    Setelah bermain imbang 0-0 di kandang Olimpia asal Paraguay, Colo-Colo menang telak 3-0 pada leg kedua untuk akhirnya membawa trofi bergengsi itu ke Chile. Penyerang andalan Luis Perez mencetak dua gol, sementara pemain pengganti Leonel Herrera menyumbang satu gol. Komentator ternama Vladimiro Mimic mengucapkan kalimat yang menggetarkan saat peluit akhir berbunyi dalam siaran langsung radionya: "Pergilah ke jalan, genggam benderamu, dan ketahuilah bahwa Colo-Colo adalah juara Copa Libertadores."

    Besarnya arti pencapaian itu juga dirasakan pelatih Colo-Colo asal Kroasia, Mirko Jozic: "Copa Libertadores bukan hanya milik mereka yang memenanginya, melainkan milik semua colocolinos... Kami membuktikan bahwa Colo-Colo bisa berhadapan dengan tim mana pun di benua ini sebagai lawan yang setara."

    Colo-Colo kembali membuktikannya pada tahun berikutnya. Mereka mengalahkan klub raksasa Brasil, Cruzeiro, lewat adu penalti dalam final Recopa Sudamericana di Jepang, sebelum menghantam Club Puebla asal Meksiko dengan agregat 7-2 untuk merebut Copa InterAmericana. Dengan koleksi tiga gelar internasional dan sembilan trofi domestik, dekade 1990-an menjadi periode paling sukses dalam sejarah panjang Colo-Colo.

    Colo-Colo juga menikmati era kejayaan lain antara 2006 dan 2008, ketika pelatih asal Argentina Claudio Borghi memulihkan kebanggaan klub setelah krisis keuangan yang mengancam keberadaannya. Borghi membawa Colo-Colo meraih pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni 'Tetracampeonato', dengan menjuarai liga nasional empat kali berturut-turut. Puncaknya adalah kemenangan emosional lewat adu penalti atas Universidad de Chile di final Torneo de Apertura.

    Di bawah asuhannya, Colo-Colo juga mencapai final Copa Sudamericana 2006, tetapi kalah tipis dari Pachuca dengan agregat 2-1. Borghi pun layak dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Amerika Selatan berkat penerapan formasi 3-4-2-1 yang berani.

    Namun, warisan Borghi yang paling bertahan lama adalah kemampuannya mengembangkan bakat. Ia membuka jalan bagi generasi emas Chile dengan mengorbitkan gelandang tangguh Arturo Vidal (lebih lanjut tentangnya nanti) dan mantan kiper Barcelona serta Manchester City Claudio Bravo. Ia juga memberi kesempatan kepada mantan pengatur serangan Arsenal dan Manchester United, Alexis Sanchez, untuk bersinar saat dipinjam dari Udinese.

  • Ikon klub

    SOC COLO COLO-U. CATOLICA
    AFP

    Colo-Colo telah menjadi rumah bagi begitu banyak pesepakbola hebat selama bertahun-tahun, dan segelintir di antaranya masih dikenang hingga kini.

    Dengan 208 gol dalam 374 pertandingan resmi, Carlos Caszely adalah pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Colo-Colo dan secara luas dianggap sebagai pemain terhebat yang pernah mengenakan seragam klub tersebut. Ia membawa tim ke final Copa 1973 sebagai pencetak gol terbanyak kompetisi itu dan meraih delapan gelar bergengsi selama dua periode membela Colo-Colo di Monumental. Kemampuan menguasai bola di ruang sempit dan penyelesaiannya yang mematikan juga membuatnya dijuluki 'Rey del metro cuadrado' (Raja meter persegi).

    Pengaruh Caszely di luar lapangan bahkan lebih besar. Ia berpihak pada kubu kiri dan terang-terangan mengkritik Pinochet. Menjelang Piala Dunia 1974, ia bahkan menolak berjabat tangan dengannya. Bagi para penggemar Colo-Colo, Caszely adalah teladan utama sosok pemberontak. Sebuah patung dirinya didirikan di luar Monumental pada 2022 untuk mengabadikan sosoknya.

    Pada Hari Anggota Colo-Colo yang pertama di Monumental pada April, Caszely menjelaskan dengan fasih arti klub itu bagi dirinya dan para pendukungnya. Ia berkata: "Artinya, jantung Anda selalu berdebar, Anda saling mendukung, dan Anda memahami bahwa Colo-Colo lebih dari sekadar tim sepakbola. Colo-Colo punya makna sosial, sebuah hati yang membentang dari Arica hingga Punta Arenas. Colo-Colo adalah segalanya, hal terhebat yang ada."

    Tepat di samping patung Caszely berdiri patung ikon Colo-Colo lainnya, Francisco 'Chamaco' Valdes. Gelandang serang itu merupakan pelengkap sempurna bagi Caszely, baik di tim nasional Chile maupun Colo-Colo. Ia juga dua kali membela klub tersebut dan memberi teladan sebagai kapten. Valdes adalah pemain dengan teknik luar biasa dan ahli dalam situasi bola mati. Ia mencetak 180 gol untuk Colo-Colo, banyak di antaranya spektakuler.

    Valdes meninggal dunia pada 2009 dalam usia 66 tahun. Sebuah acara peringatan digelar di Mausoleum Colo-Colo awal tahun ini, dan Caszely turut memberikan penghormatan. "Dalam sepakbola, saya tidak akan menjadi seperti dulu tanpa Chamaco. Di mana pun di dunia ini, saya belum pernah melihat pemain dengan kecerdasan seperti Chamaco," katanya.

    Mungkin tidak akan ada yang mampu menyamai warisan Caszely dan Valdes, tetapi seorang anggota skuad Colo-Colo yang menjuarai Copa Libertadores 1991 nyaris melakukannya. Marcelo Barticciotto (foto di atas) mencetak tiga gol penting sepanjang perjalanan bersejarah tim tersebut dan menyumbang dua assist di final. Ia juga mencetak gol pertama di Monumental setelah stadion itu kembali diresmikan pada 1989.

    Dengan sapaan akrab 'Barti' atau 'El 7 del Pueblo' (Nomor 7 Rakyat) dari para penggemar, pemain sayap yang eksplosif itu juga menjadi sosok penting dalam tiga keberhasilan menjuarai liga Chile. Ia memegang rekor penampilan terbanyak bagi Colo-Colo di kompetisi tingkat benua (86).

    Seolah semua itu belum cukup untuk mengukuhkan statusnya sebagai legenda, Barticciotto menunjukkan kesetiaannya kepada Colo-Colo saat membela rival klub tersebut, Universidad Catolica, dengan status pinjaman dari Club America pada 1995. Ia mencetak gol dalam kemenangan 2-1 Catolica, tetapi menolak merayakannya. Sebagai gantinya, ia menundukkan kepala untuk menghormati Colo-Colo, klub yang kembali ia bela pada tahun berikutnya.

    "Saya tidak berencana untuk tidak merayakannya atau semacamnya. Saat itu, tindakan tersebut datang dari hati. Saya tidak bisa merayakan gol ke gawang tim yang didukung orang-orang yang pernah bertepuk tangan untuk saya, yang menyapa saya di jalan dan menunjukkan begitu banyak kasih sayang kepada saya. Saya tidak bisa," kenang Barticciotto kepada Vamos a Recordar.

    "Saya menyadari betapa besar kasih sayang orang-orang kepada saya. Sambutan meriah itu tidak akan pernah saya lupakan. Saat itulah saya bertanya kepada diri sendiri, 'Apa yang saya lakukan di sini dengan mengenakan seragam ini?' Rasanya sangat aneh bagi saya, terutama ketika saya tiba untuk pertandingan itu. Di sisi seberang ada rekan-rekan setim saya selama bertahun-tahun, yang telah melewati begitu banyak perjuangan bersama. Saya tidak pernah merasakan hal seperti itu lagi. Saya berusaha bersikap seprofesional mungkin, tetapi saya terus memandang ke arah lain, dengan hati saya tetap di Colo-Colo."

    Ketika Barticciotto mengumumkan pensiun pada 2003, sebanyak 50.000 penggemar datang ke Monumental untuk mengucapkan selamat tinggal kepada idola mereka. Ia kembali sebagai pelatih lima tahun kemudian dan membawa klub itu meraih trofi Clausura, yang semakin mempererat ikatannya dengan Garra Blanca.

  • Pahlawan modern

    FBL-LIBERTADORES-COLOCOLO-ATLMINEIRO
    AFP

    Sejak pergantian abad, Colo-Colo tak pernah kekurangan daya gedor di lini serang maupun pemain kesayangan suporter.

    Di antara para pahlawan Colo-Colo era modern, tak ada yang melebihi Luis Mena, yang dikenal sebagai 'El Historico'. Bek tengah yang bisa diandalkan itu menghabiskan hampir seluruh karier profesionalnya bersama Colo-Colo (1996-2014), menjadi kapten dalam dua tahun terakhirnya di klub, dan memenangi 11 gelar liga bersama mereka, sebuah rekor sepanjang masa dalam sepak bola Cile.

    Menurut pengakuannya sendiri, Mena bukan pemain paling berbakat. Namun, etos kerjanya yang luar biasa dan kecintaannya kepada Colo-Colo menutupi kekurangan tersebut. Menjadi kapten merupakan kehormatan yang sangat besar bagi sang bek. Ia mengatakan kepada El Cancha: "Menjadi kapten Colo-Colo adalah impian seumur hidup. Itu tanggung jawab yang berat untuk diemban, tetapi ketika Anda tahu cara mengelola dan menyalurkannya, hal itu menjadi sesuatu yang sangat berarti."

    Mena adalah jantung skuad, dan kerja kerasnya saat tidak menguasai bola memungkinkan pemain lain bersinar, terutama ketika Borghi menangani tim. Lulusan akademi Colo-Colo, Matias Fernandez, meraih penghargaan Pemain Sepak Bola Terbaik Amerika Selatan pada 2006 berkat penampilan gemilangnya di bawah asuhan Borghi. Ia memukau lewat kemampuan atletik, keterampilan teknik, dan kepiawaiannya mengeksekusi tendangan bebas.

    Fernandez mencetak 20 gol dalam 30 penampilan di kompetisi domestik dari lini tengah pada musim itu dan membentuk duet yang tak terbendung bersama Humberto Suazo. Penyerang asal Cile tersebut menyumbang 34 gol di Apertura dan Clausera pada 2006, ditambah 13 gol di kompetisi internasional, sehingga totalnya mencapai 47 gol hanya dalam 49 penampilan. Suazo adalah penyerang dengan gaya tak lazim dan kekuatan tubuh bagian atas yang luar biasa. Ia juga tampak sangat tenang dalam situasi satu lawan satu.

    Setelah Suazo hengkang pada akhir musim 2007, Colo-Colo kesulitan mengisi kekosongan yang ditinggalkannya. Keadaan itu berubah ketika mereka merekrut Esteban Paredes (foto di atas) dari Santiago Morning dengan biaya transfer yang relatif kecil, €350.000, pada 2009. Paredes mencetak 50 gol liga dalam tiga musim pertamanya di klub, sehingga mendapat julukan 'El Tanque' (Si Tank) berkat kemampuannya sebagai penyerang tumpuan dan tembakannya yang keras. Para suporter juga mendukungnya karena ia berasal dari keluarga sederhana di Santiago dan tumbuh sebagai penggemar berat Colo-Colo. Ia kerap bernyanyi bersama Garra Blanca.

    Paredes meninggalkan Colo-Colo pada 2012, tetapi kembali dua tahun kemudian ketika tim tengah mengalami periode panjang tanpa konsistensi. Ia langsung membawa mereka meraih gelar liga ke-30 lewat gol-golnya. Paredes tetap menjadi tumpuan utama tim hingga 2021 dan mengakhiri kiprahnya dengan 198 gol untuk Colo-Colo, menempatkannya di urutan kedua daftar pencetak gol sepanjang masa klub di belakang Caszely. Sebanyak 16 golnya tercipta dalam laga Superclasico melawan Universidad de Chile, sebuah rekor.

  • Kembalinya El Rey

    FBL-CHI-COLOCOLO-VIDAL
    AFP

    Arturo Vidal mungkin pemain paling terkenal yang pernah membela Colo-Colo, dan ia masih tampil gemilang bersama tim tersebut pada usia 39 tahun.

    Dari semua pemain yang mencuat di bawah asuhan Borghi, Vidal bisa dibilang meninggalkan jejak paling besar di Colo-Colo. Setelah lima tahun mengasah kemampuan di tim muda klub, ia menjalani debut pada 2005 saat berusia 18 tahun. Ia kemudian berperan penting dalam keberhasilan Colo-Colo menjuarai Clausura 2006 dan Apertura 2007, dengan Borghi memainkannya sebagai bek tengah sisi kiri maupun gelandang bertahan.

    Rekan-rekan setim menjuluki Vidal 'Celia Cruz', mengikuti nama penyanyi legendaris asal Kuba itu, karena gaya rambutnya yang eksentrik dan kepribadiannya yang mencolok. Di lapangan, ia menunjukkan alasan julukan 'Cometierra' (Pemakan Tanah) melekat padanya sejak di akademi: ia terus melancarkan tekel geser tanpa berpikir dua kali.

    Kegigihan Vidal membuatnya disukai, sementara kemampuan menempatkan diri dan membaca permainan yang ia miliki luar biasa untuk pemain seusianya. Ia kerap memenangi duel udara melawan lawan yang jauh lebih tinggi berkat ketepatan waktunya saat melompat. Staminanya yang seolah tak habis pun langsung membuatnya menjadi pujaan suporter. Sayangnya bagi Colo-Colo, ia terlalu bagus untuk tidak dilirik klub-klub elite Eropa.

    Bayer Leverkusen membeli Vidal seharga €10 juta pada 2007. Ia menghabiskan empat tahun di Jerman sebelum bergabung dengan Juventus, tempat ia menjadi salah satu gelandang terbaik di generasinya. Permainannya berkembang sebagai gelandang nomor 8 yang aktif di kedua sisi lapangan, dan para suporter menjulukinya 'El Rey' (Sang Raja). Vidal juga menjalani periode sukses di Bayern Munich, Barcelona, dan Inter, tetapi tak pernah melupakan asal-usulnya. Ia rutin menyampaikan dukungannya untuk Colo-Colo di media sosial dan berbicara terbuka tentang keinginannya untuk pulang suatu hari nanti.

    Kepulangan itu akhirnya terwujud pada 2024, ketika ia kembali ke Monumental dengan status bebas transfer. Colo-Colo menggelar upacara penyambutan meriah yang menjadi berita utama di berbagai penjuru dunia. Vidal tiba di stadion dengan helikopter yang mendarat langsung di lapangan. Mengenakan jubah dan mahkota sambil memegang pedang, ia kemudian menunggang kuda mengelilingi lapangan untuk menyapa 35.000 suporter yang mengelu-elukannya.

    "Di mana pun saya berada, saya selalu mengutamakan Colo Colo. Dan sekarang semua orang akan mengikuti Colo Colo," katanya dalam konferensi pers setelah itu. "Saya ingin mereka mengenalnya sebagai salah satu tim terkuat di Amerika Selatan. Ada pemain-pemain yang sangat bagus dan basis suporter yang sangat besar. Colo Colo adalah sebuah negara. Orang-orang akan semakin memperhatikannya. Saya ingin dunia mengenalnya."

    Vidal telah mengerahkan segala kemampuannya untuk mewujudkan hal itu. Pada musim pertamanya setelah kembali, ia menginspirasi Colo-Colo meraih gelar liga Chile ke-34. Ia bahkan mencetak gol penyeimbang yang menentukan dalam hasil imbang melawan Deportes Copiapo pada laga terakhir musim tersebut untuk memastikan gelar juara. Colo-Colo juga mencapai perempat-final Copa Libertadores, pencapaian terbaik mereka dalam beberapa tahun.

    Kini, Colo-Colo kembali memuncaki kasta tertinggi liga Chile, unggul 12 poin atas Catolica. Pada usia 39 tahun, Vidal telah terlibat langsung dalam tujuh gol di semua kompetisi. Ia bukan hanya terus menunjukkan kemampuan meski usianya bertambah, tetapi juga menjadi teladan profesionalisme bagi para pemain muda klub.

    "Arturo tidak hanya membawa sejarah ke lapangan; ia juga menghadirkan wibawa yang tak tertandingi," kata manajer Colo-Colo saat ini, Fernando Ortiz. "Memiliki pemain yang pernah meraih gelar di level tertinggi Eropa berarti para pemain muda memiliki contoh nyata sosok pemenang. Perkataannya memiliki pengaruh tersendiri."

  • Gairah manusia

    FBL-CHI-COLOCOLO-UNIONESPANOLA
    AFP

    Selain proyek sepakbola yang menarik, Colo-Colo dapat menawarkan kepada para pemain rasa memiliki yang khas.

    Kehadiran megabintang seperti Vidal juga mengangkat pamor Colo-Colo di panggung dunia. Kini, posisi klub itu lebih kuat daripada sebelumnya untuk menarik pemain-pemain top lainnya. Colo-Colo membuktikan kekuatannya di bursa transfer musim panas dengan memenangkan persaingan mendapatkan Vozihna, salah satu pemain yang mencuri perhatian di Piala Dunia 2026.

    Kiper veteran itu menjadi salah satu pemain paling menonjol di turnamen tersebut ketika Tanjung Verde melampaui segala perkiraan dengan mencapai babak 32 besar. Ia tampil luar biasa dalam hasil imbang 0-0 melawan Spanyol, yang kemudian menjadi juara, pada fase grup. Ia mencatatkan tujuh penyelamatan, jumlah terbanyak kedua bagi kiper berusia 40 tahun atau lebih dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak statistik pertama kali dicatat pada 1966.

    Vozinha dikabarkan menarik perhatian Inter Miami, klub Lionel Messi, tetapi memilih bergabung dengan Colo-Colo setelah kontraknya bersama klub divisi kedua Portugal, Chaves, berakhir. “Jauh di lubuk hati, saya selalu mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya adalah pemain untuk ‘klub besar’,” kata Vozinha saat diperkenalkan secara resmi. “Jadi, ketika Colo-Colo menghubungi saya, tidak ada keraguan. Saya menerima banyak tawaran, tetapi Colo-Colo selalu menjadi prioritas.”

    Tekad seorang kiper yang masuk nominasi Trofi Yashin untuk bergabung menunjukkan betapa tingginya reputasi Colo-Colo. Klub itu menjadi satu-satunya wakil Chile di 20 besar klasemen resmi klub CONMEBOL saat ini, berada di atas klub-klub kuat Brasil seperti Internacional, Fluminense, dan Corinthians.

    Colo-Colo bersaing memperebutkan gelar-gelar domestik terbesar hampir setiap tahun dan memiliki rekam jejak cemerlang di Copa Libertadores. Saat kembali, Vidal berjanji membawa pulang trofi kontinental ke Monumental, sebuah target yang bukan tidak realistis.

    Namun, yang lebih penting daripada segala pencapaian mereka di lapangan adalah gairah tulus yang melekat pada Colo-Colo. Mereka yang beruntung mengenakan seragam klub ini mewakili kenangan akan Colocolo dan Arellano, sekaligus menjadi tumpuan emosional jutaan keluarga kelas pekerja.

    Tahun lalu, figur media Chile Pedro Ruminot membagikan kutipan Jozic di Zapping TV yang segera viral di media sosial karena merangkum keistimewaan klub ini. Mantan pelatih itu berkata: “Bagi saya sekarang, Colo-Colo adalah sesuatu yang tidak bisa saya sentuh, rasakan, ataupun lihat karena saya berada jauh. Namun, Colo-Colo lebih besar daripada cinta.”