Juventus yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Bukan soal apa yang terjadi di lapangan, karena sayangnya bagi pendukung Juventus, pertandingan seperti kekalahan dari Lazio sudah beberapa kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kita ingat, misalnya, dua kekalahan dari Atalanta dan Fiorentina yang membuat Thiago Motta kehilangan jabatannya sebagai pelatih. Yang justru, sejauh ingatan kami, belum pernah terjadi adalah situasi setelah pertandingan seperti yang berlangsung pada Minggu larut malam di Allianz Stadium: seorang pemain pinjaman yang baru tiga bulan berada di Turin (Guglielmo Vicario) menjadi orang pertama yang diminta berbicara dalam konferensi pers pada saat yang begitu genting; seorang kapten (Gleison Bremer) yang terang-terangan menyalahkan sebagian rekan setimnya, sikap yang tak akan pernah terpikir untuk ditunjukkan di depan publik oleh para kapten Juventus belakangan ini (dari Del Piero dan Buffon hingga Chiellini dan Locatelli); seorang pelatih (Luciano Spalletti) yang, setelah menegur Bremer, menyatakan tak lagi yakin tim mengikuti arahannya.
Hal-hal yang tidak mencerminkan Juventus. Atau setidaknya, tidak mencerminkan "Juve sejati", yang selalu tampil sebagai satu kesatuan, di dalam maupun di luar lapangan, saat menang ataupun kalah. Kita ingat, misalnya, ucapan Buffon yang menunjukkan rasa tanggung jawab dan jati diri klub di ruang ganti di Reggio Emilia pada musim 2015-16, setelah kekalahan yang membuat Juventus terpuruk ke posisi ke-12 klasemen. Ucapan itu menjadi awal kebangkitan luar biasa yang berujung pada gelar Scudetto.



