Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Real Madrid v AS Roma - UEFA Champions LeagueGetty Images Sport
Diterjemahkan oleh

Roma vs Real Madrid: Laga klasik, malam ketika Giallorossi menaklukkan Bernabeu

Ada keheningan khas yang menyelimuti Santiago Bernabeu ketika hal yang tak terbayangkan mulai menjadi kenyataan. Itu bukan keheningan karena sikap tak peduli, melainkan karena sulit percaya, saat panggung termegah sepakbola Eropa menjadi latar kemenangan tim tamu. Pada Maret 2008, AS Roma berjaya di ibu kota Spanyol lewat penampilan penuh kegigihan dan kecerdasan taktis yang hingga kini menjadi tolok ukur tertinggi bagi kiprah tim Italia di tanah Iberia.


  • Real Madrid v AS Roma - UEFA Champions LeagueGetty Images Sport

    Beban sejarah di Madrid

    Memasuki leg kedua babak 16 besar, atmosfer dipenuhi ekspektasi khas Madridista. Real Madrid, yang menobatkan diri sebagai raja kompetisi ini, tertinggal 1-2 dari leg pertama di Italia, tetapi tetap menjadi favorit kuat untuk membalikkan keadaan. Bernabeu dipenuhi lautan warna putih, dengan atmosfer yang dimaksudkan untuk melumat anak asuh Luciano Spalletti. Namun, Roma yang dipimpin Francesco Totti menolak mengikuti skenario itu. Mereka mengimbangi keanggunan permainan Madrid dengan ketangguhan dan ritme permainan yang membuat pemain seperti Raul dan Fabio Cannavaro frustrasi.

    Babak pertama berlangsung menegangkan, seperti pertandingan catur yang dimainkan dengan kecepatan tinggi. Madrid terus mencari celah, memburu gol tandang yang akan mengubah keadaan, tetapi lini belakang Roma tetap kokoh. Kedua tim beradu kegigihan, sementara tim tamu menyerap tekanan dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Peluit turun minum berbunyi saat skor masih 0-0, hasil yang menguntungkan tim tamu tetapi membuat pendukung tuan rumah semakin gelisah seiring ancaman tersingkir lebih awal membayangi raksasa Spanyol itu.


  • FBL-EUR-C1-REAL MADRID-ROMAROMAAFP

    Rentetan gol yang kacau pada babak kedua

    Pertandingan memanas dalam 20 menit terakhir. Kebuntuan pecah pada menit ke-73 ketika Rodrigo Taddei menyambut umpan silang dengan sundulan yang melewati Iker Casillas dan membawa Roma unggul dalam laga tersebut. Bernabeu sempat terdiam, tetapi respons tuan rumah datang seketika. Hanya dua menit berselang, Raul, sosok kapten Madrid sejati, mencetak gol penyama kedudukan dan kembali membangkitkan harapan para pendukung tuan rumah. Saat skor 1-1, Roma unggul agregat 3-2, membuat persaingan tetap berada di titik genting.

    Madrid mengerahkan semua pemainnya untuk menyerang dan mengesampingkan kehati-hatian dalam bertahan demi mencari gol yang akan memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Tekanan mereka tak henti-hentinya, tetapi organisasi permainan Roma tetap kokoh. Mereka bertahan dengan semangat kolektif yang melampaui kemampuan individu, mengadang tembakan dan memenangi setiap perebutan bola kedua. Ketika laga memasuki masa tambahan waktu, tuan rumah berada dalam posisi rentan karena terlalu banyak pemain mereka maju ke depan dalam upaya putus asa menjaga harapan di Eropa tetap hidup.


  • Roma's Mirko Vucinic (R) celebrates withAFP

    Mirko Vucinic memastikan kemenangan bersejarah

    Pukulan penentu datang pada menit ke-92. Mirko Vucinic, penyerang asal Montenegro yang kerap menampilkan permainan terbaiknya pada laga-laga paling bergengsi, menyelinap ke kotak penalti untuk menyambut tendangan bebas. Sundulannya terarah dan mematikan, bersarang di sudut gawang untuk membawa Roma unggul 2-1. Saat itulah Bernabeu akhirnya menerima kenyataan. Gol tersebut menegaskan keunggulan Roma dalam dua leg, memastikan kemenangan agregat 4-2 dan tiket ke perempat-final.

    Peluit akhir memicu luapan kegembiraan di sektor pendukung tim tamu, sepetak kecil warna merah dan emas di tengah hamparan putih yang luas. Bagi Roma, ini lebih dari sekadar kemenangan; ini adalah penegasan bahwa mereka patut diperhitungkan di kancah Eropa. Mereka datang ke markas tim yang saat itu telah sembilan kali menjadi juara Eropa dan pulang sebagai pemenang, membuktikan bahwa disiplin taktik dan semangat mampu mengatasi barisan pemain bintang paling mentereng sekalipun. Laga itu tetap menjadi salah satu malam yang paling dikenang dalam sejarah modern klub.


  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Real Madrid v AS Roma - UEFA Champions LeagueGetty Images Sport

    Warisan dari liburan di Roma

    Sejak saat itu, Real Madrid dan Roma telah bertemu berkali-kali, dengan tim Spanyol tersebut kerap menunjukkan dominasinya. Namun, kenangan tahun 2008 tetap membekas, mengingatkan pada masa ketika Roma merasa tak terkalahkan di bawah sorot lampu stadion. Malam itu, Spalletti berhasil mengungguli kekuatan mapan, sementara Totti memimpin rekan-rekannya dengan ketenangan seorang gladiator. Meski Liga Champions terus berkembang, sosok Vucinic yang berlari menjauh untuk merayakan golnya tetap terpatri dalam ingatan mereka yang menyaksikannya.

    Ketika kedua tim bersiap kembali bertemu, bayang-bayang tahun 2008 pasti akan terasa. Bagi para pendukung Roma, kenangan itu menjadi sumber kebanggaan abadi, sekaligus pengingat bahwa saat sedang tampil maksimal, tim mereka mampu menaklukkan benteng mana pun. Bagi Madrid, itu menjadi pelajaran tentang apa yang bisa terjadi ketika tim raksasa meremehkan lawan yang disiplin. Pertemuan klasik itu menangkap dengan sempurna drama, kepedihan, dan ketidakpastian sepakbola Eropa saat berada di puncaknya.