Seko Fofana Lens Marseille Ligue 1 06052023Getty

Perjalanan Fenomenal 'Underdog' RC Lens Tembus UCL: Nyaris Akhiri Hegemoni PSG & Finis Runner-Up Ligue 1!

Ada banyak kisah yang perlu untuk diceritakan dalam sepakbola, namun mungkin hanya sedikit yang menginspirasi layaknya Racing Club de Lens atau dikenal dengan RC Lens.

Perjalanan klub yang dewasa ini tak lebih berstatus antah berantah ini di musim 2022/23 benar-benar fenomenal. Siapa sangka, musim depan mereka akan berada di antara para raksasa Eropa untuk bermain di ajang sekaliber Liga Champions!

Malang melintang di berbagai kompetisi kasta bawah sepakbola Prancis, ledakan Lens di musim ini bisa dibilang di luar nalar. Mereka punya sejarah bagus di masa silam, tapi selama bertahun-tahun terkubur bak ditelan bumi.

Kebangkitan mereka di musim ini merupakan manifestasi dari sebuah tekad kuat, ketahanan dan kerja keras tim.

  • Les Sang et Or

    Berbasis di utara Prancis, RC Lens dibentuk pada 1906. Untuk benar-benar memahami klub ini, perlu untuk mengetahui sejarah industri kota yang kaya ini. Lens adalah pusat penambangan selama lebih dari satu abad setelah penemuan batu bara pada pertengahan abad ke-19, sampai penutupan tambang terakhir pada tahun 1980.

    Setelah Perang Dunia 1, di mana sebagian besar Lens dihancurkan, tim sepakbola sebagian besar terdiri dari imigran Polandia yang datang untuk bekerja di pertambangan. Bahkan hari ini, klub mempertahankan hubungan kuat dengan komunitas kelas pekerja yang memainkan peran penting dalam pembentukan dan pengembangannya.

    Selama tahun 60, 70 dan 80-an, klub mengalami pasang surut dan mendekam di luar kasta teratas sepakbola Prancis, sampai pebisnis lokal Gervais Martel menjadi presiden pada 1988 untuk mengubah takdir.

    Lens kembali ke kompetisi kasta tertinggi pada 1991 dan dekade berikutnya adalah era emas klub. Di tahun 90-an, kebangkitan signifikan Lens ditandai dengan kesuksesan mengunci gelar Ligue 1 edisi 1997/98, satu-satunya kesuksesan mereka dalam sejarah, diraih dengan cara yang luar biasa tanpa nama-nama besar di dalam tim.

  • Iklan
  • Kampanye Eropa yang tak terlupakan

    Gelar juara Ligue 1 itu diikuti dengan dua gebrakan mengesankan di Liga Champions, menandai kemunculan pertama dan terakhir mereka di kompetisi tertinggi Eropa hingga hari ini.

    Lens menghadapi tantangan berat di masing-masing babak grup, menghadapi Arsenal di edisi 1998/99 dan berjumpa raksasa Eropa Bayern Munich dan AC Milan di kampanye 2002/03. Meski begitu, Lens menunjukkan performa tak tergoyahkan hingga mencuri perhatian fans dunia.

    Kemenangan paling dikenang saat menaklukkan Arsenal-nya Arsene Wenger 1-0 di Wembley pada 1998 dan comeback 2-1 atas tim yang akhirnya juara, AC Milan, di Stade Bollaert, menjadi pembicaraan hangat selama hari-hari emas mereka. Di luar dua petualangan UCL nan memorable itu, kampanye Piala UEFA pada 1999/00 juga tak kalah menakjubkan, di mana Lens berhasil menembus semi-final sebelum kalah dari Arsenal [yang pada akhirnya juga dikalahkan Galatasaray di babak puncak].

  • Musim roller coaster dan bangkit

    Masalah keuangan ditambah prahara kepemilikan klub membuat Lens kemudian jadi tak tentu arah. Selama 15 tahun berikutnya, mereka mondar-mandir di dua strata teratas sepakbola Prancis.

    Namun, masuknya owner sekaligus presiden klub saat ini, Joseph Oughourlian, memainkan peran krusial dalam transformasi dan mengembalikan masa-masa indah klub dulu. Setelah mengambilalih Lens pada 2016, Oughourlian menghadapi tantangan-tantangan berat, termasuk instabilitas finansial dan minimnya kesuksesan di lapangan.

    Kendati demikian, berkat keahliannya di bidang keuangan dan pengambilan keputusan strategisnya, dia menstabilkan klub dan mengarahkan mereka ke pintu kesuksesan. Kepemimpinan Oughourlian, dipadukan dengan dedikasi dan kerja keras dari seluruh organisasi yang telah melejitkan perjalanan Lens untuk sampai ke Liga Champions. Promosi ke Ligue 1 diamankan pada 2019/20 dan klub secara bertahap terus membangun skuad kompetitif.

  • Mulai disegani di Ligue 1

    2020/21 menandai kembalinya mereka ke Ligue 1 dan mereka telah meningkat pesat di bawah manajer Franck Haise, sosok mastermind yang membangun tim luar biasa tanpa satu pun pemain superstar.

    Setelah kembali ke Ligue 1, klub finis di posisi ketujuh di musim perdananya, dan mereplikasi kesuksesan itu di musim berikutnya. Menyudahi liga di peringkat ketujuh dua tahun secara beruntun di Ligue 1 mencuri perhatian deretan klub Eropa, karenanya klub harus merelakan kepergian figur kunci macam Cheick Doucoure ke Crystal Palace dan Jonathan Clauss ke Marseille.

    Namun, kemampuan Lens beradaptasi dan menemukan pengganti yang cocok telah memastikan kesuksesan mereka berlanjut. Di bawah komando Haise, tim ini mempertahankan gaya bermainnya dan memaksimalklan potensi dari talenta yang tersedia.

    Di musim yang baru saja berlalu, Lens tidak hanya menyaingi juara abadi Paris Saint-Germain, tapi juga mengamankan finis runner-up di Ligue 1 setelah kemenangan 3-0 atas Ajaccio beberapa waktu lalu. Artinya, musim depan mereka akan tampil di Liga Champions!

    Para pemain seperti Seko Fofana dan Lois Openda haidr sebagai figur kunci, sementara mantan kiper Nottingham Forest Brice Samba dan Kevin Danso telah menjadi pemain penting di jantung pertahanan. Faktanya, empat pemain ini masuk dalam tim terbaik Ligue 1 2022/23.

    Dan tentu saja, kampanye menakjubkan mereka tak lepas dari tangan dingin manajer Haise, yang meraih penghargaan sebagai manajer terbaik Ligue 1!

    Pertahanan kuat juga jadi salah satu kunci keberhasilan mereka, dengan fakta lainnya mencatat bahwa hanya Barcelona [20] yang kebobolan lebih sedikit dibanding Lens [29] dari seluruh lima liga top Eropa di edisi 2022/23.

  • Menatap ke depan dengan optimisme

    Perjalanan Lens mencapai Liga Champions adalah sebuah kisah epik, dan mereka akan berharap bisa memaksimalkan hari-hari ini untuk menjadi kekuatan yang konsisten baik di kancah domestik dan Eropa.

    Kelolosan ke Liga Champions adalah ganjaran dari kerja keras, pengorbanan dan dedikasi. Mereka sepenuhnya layak untuk mendapat kesempatan menguji diri mereka menghadapi para kontestan kelas kakap di ajang Eropa musim depan.

0