Ada klub-klub yang tidak cukup hanya dengan menang, melainkan juga dituntut untuk memaksakan karakternya pada pertandingan, dan membuat lawan hidup di bawah tekanan sejak peluit awal dibunyikan.
Real Madrid di Spanyol, Al Hilal di Arab Saudi, dan Al Ahly di Mesir, tiga klub yang para pendukungnya sudah terbiasa menyaksikan sepakbola menyerang, tekanan yang terus-menerus, serta dominasi yang diterjemahkan menjadi peluang dan gol.
Namun, pemandangan saat ini tampak berbeda secara mencolok, setelah trio tersebut kini berada di bawah komando para pelatih yang cenderung mengutamakan organisasi sebelum petualangan, dan transisi sebelum penguasaan bola menyerang yang terus-menerus, dengan mengandalkan blok pertahanan menengah atau rendah pada beberapa fase pertandingan.
Hasilnya, pertanyaannya tidak lagi berkaitan dengan jumlah bintang di dalam lapangan, melainkan sejauh mana kemampuan tiap tim untuk mempertahankan identitas historisnya.
Baca juga: Video: Tatapan Ronaldo Merangkum Penampilan Perdana Jesus bersama Portugal




