Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
spain - morChatGPT

Diterjemahkan oleh

Persaingan dengan Maroko sangat sengit: Mampukah Spanyol memecahkan kutukan Piala Dunia yang mengakar?

Spanyol nyaris belum sempat mengangkat trofi Piala Dunia 2026 usai kemenangannya atas Argentina di partai final, ketika pembicaraan mulai bergulir seputar kemampuan generasi menakjubkan saat ini untuk melewati tantangan bersejarah yang tak mampu dilalui banyak juara dunia.

Timnas Spanyol bermimpi mempertahankan gelar Piala Dunia dengan sukses, sebuah pencapaian yang belum pernah terwujud sejak lebih dari enam dekade silam, hal yang mungkin juga berkaitan dengan pertarungan lain melawan Maroko yang tak kalah penting.

  • Kutukan yang Bertahan Sejak 1962

    Melihat sejarah, kita menemukan bahwa hal itu tidak memberikan banyak ketenangan bagi Spanyol. Tim nasional terakhir yang berhasil mempertahankan gelar Piala Dunia adalah Brasil, setelah menjuarai edisi 1958 dan 1962. Sebelumnya, Italia menjadi yang pertama meraih pencapaian tersebut dengan memenangi gelar 1934 dan 1938.

    Sejak saat itu, misi mempertahankan gelar berubah menjadi salah satu tantangan tersulit dalam sepak bola dunia.

    Argentina nyaris melakukannya pada Piala Dunia 1990, setelah mencapai final dengan komando Diego Maradona sambil menyandang gelar 1986, tetapi mereka kalah dari Jerman Barat.

    Kemudian datang Brasil pada 1998, yang melaju ke final sebagai juara edisi 1994, sebelum akhirnya tumbang dari Prancis dengan tiga gol tanpa balas.

    Dan di Qatar 2022, Prancis hanya berjarak satu pertandingan dari mengukir sejarah, setelah mencapai final sebagai pemegang gelar 2018, tetapi mereka kalah dari Argentina melalui adu penalti usai salah satu final terhebat dalam sejarah turnamen.

    Adapun Argentina, yang menyandang gelar 2022, mengulang skenario serupa pada Piala Dunia 2026, dan mencapai final untuk kali kedua secara beruntun, tetapi mereka berbenturan dengan Spanyol dan kalah dengan satu gol tanpa balas.

    Dengan demikian, Brasil 1962 tetap menjadi tim nasional terakhir yang berhasil mempertahankan Piala Dunia, sehingga Spanyol memasuki Piala Dunia 2030 sambil mengejar pencapaian yang tak tergapai oleh seluruh juara selama lebih dari 60 tahun.

  • Iklan
  • Persaingan dengan Maroko bisa mengubah persamaan

    Namun, tantangan Spanyol tidak hanya sebatas menghadapi kutukan sang juara bertahan.

    Pada saat Maroko, Spanyol, dan Portugal menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030, FIFA hingga kini belum memutuskan identitas stadion yang akan menjadi tempat penyelenggaraan laga final. Berkas ini pun dalam beberapa bulan terakhir berubah menjadi ajang persaingan yang jelas antara Madrid dan Rabat.

    Spanyol berpegang teguh pada keinginan menggelar final di Stadion Santiago Bernabeu, sementara Maroko mendorong kuat berkas Stadion Hassan II yang baru di Casablanca, yang diperkirakan akan menjadi salah satu stadion terbesar di dunia dan dipandang sebagai salah satu elemen kekuatan paling menonjol dalam berkas Maroko.

    Meskipun berkas tersebut diajukan sebagai proyek bersama, persaingan memperebutkan final telah menjadi salah satu berkas paling sensitif di antara ketiga mitra, mengingat nilai simbolis dan historis dari laga terpenting pada edisi seratus tahun Piala Dunia.

  • Pesan Marah dari Presiden Federasi Sepakbola Spanyol

    Ketatnya persaingan tampak jelas dalam pernyataan Rafael Louzán, Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, yang membantah laporan-laporan yang menyebut meningkatnya peluang Maroko untuk menjadi tuan rumah pertandingan final.

    Louzán mengatakan dalam pernyataan terbarunya pada 15 Juli lalu: "Spanyol adalah pihak yang memimpin penyelenggaraan Piala Dunia 2030", seraya mengungkapkan kemarahannya atas keraguan terhadap peran tersebut, dan menambahkan bahwa memunculkan kabar-kabar ini melemahkan berkas bersama serta tidak menguntungkan negara-negara penyelenggara.

    Ia juga menyatakan keheranannya atas waktu meningkatnya pembicaraan seputar berkas Maroko, seraya menunjukkan bahwa hal itu bertepatan dengan keikutsertaan timnas Spanyol dan Maroko di Piala Dunia 2026, yang kembali memicu persaingan media terkait final 2030.

    Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol dalam pesannya menegaskan bahwa negaranya memimpin proyek penyelenggaraan turnamen tersebut, sebagai isyarat yang jelas mengenai keteguhan Madrid untuk menjadi tuan rumah pertandingan final.

  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Mengapa Final Ini Punya Arti Khusus bagi Spanyol?

    Jika Spanyol berhasil melaju ke final Piala Dunia 2030, penyelenggaraan pertandingan di Madrid bisa memberikan keuntungan tambahan bagi timnas dalam perjalanan mereka menuju pencapaian mempertahankan gelar dan mengikuti jejak Brasil pada 1962.

    Namun jika Maroko memenangi persaingan menjadi tuan rumah final, Spanyol akan kehilangan keistimewaan ini, dan harus - seandainya mencapai laga puncak - memainkan pertandingan terpenting dalam turnamen di luar wilayah mereka.

    Oleh karena itu, para pejabat Spanyol mungkin tidak memandang berkas penyelenggaraan final semata-mata sebagai persoalan organisasi, melainkan sebagai elemen yang bisa memiliki dimensi olahraga dan moral juga.

  • Maroko Bertahan pada Mimpi Bersejarahnya

    Di sisi lain, Maroko memandang bahwa menjadi tuan rumah final edisi seabad akan menjadi puncak dari upaya gigih yang berakhir dengan meraih hak menyelenggarakan Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarahnya.

    Berkas pencalonan Maroko mengandalkan Stadion Hassan II yang baru di Casablanca, yang dirancang untuk menjadi ikon arsitektur dan olahraga, serta memberikan kartu kuat bagi kerajaan tersebut dalam perlombaan menjadi tuan rumah final.

    Selain itu, kesuksesan bersejarah timnas Maroko dalam beberapa tahun terakhir, baik di level dunia maupun benua, semakin memperkuat ambisi Maroko agar kerajaan tersebut menjadi panggung bagi pertandingan terpenting dalam sejarah edisi seabad.

  • Antara Kutukan Sejarah dan Perebutan Hak Tuan Rumah

    Pada 2026, Spanyol adalah tim yang menggagalkan Argentina mempertahankan Piala Dunia. Namun pada 2030, mereka justru akan berada di sisi lain dari persamaan itu.

    Selain harus menghadapi kutukan yang tak pernah mampu dipatahkan seluruh juara dunia sejak Brasil pada 1962, Madrid juga akan menyaksikan salah satu pertarungan terpenting sebelum turnamen bergulir, yakni pertarungan menjadi tuan rumah laga final.

    Pertarungan itu boleh jadi tidak menentukan siapa yang akan menjadi juara dunia, tetapi bisa memberi Spanyol keunggulan moral dan dukungan suporter di laga terpenting seandainya mereka berhasil mencapainya.

    Karena itulah, persaingan antara Spanyol dan Maroko tidak lagi sekadar soal pemilihan stadion untuk menggelar malam penutupan, melainkan telah menjadi bagian dari lanskap umum Piala Dunia 2030, dan mungkin salah satu faktor yang bisa memengaruhi - meski secara tidak langsung - impian Spanyol untuk mematahkan salah satu kutukan yang paling melekat dalam sejarah Piala Dunia.

  • Baca juga:

    Messi, Rodri, dan 6 Bintang Arab: Bagaimana Mereka Mengembalikan Kilau di Piala Dunia 2026?
    Bola Perak dan Penghormatan untuk Korban Maroko: FIFA Umumkan Daftar Lengkap Penghargaan Piala Dunia
    Video: Di Jantung PBB, Diskusi Panas soal Integritas Laga Mesir dan Argentina