Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
FBL-EUR-C1-PSG-BARCELONAAFP
Diterjemahkan oleh

Perjudian yang Mengancam Wibawa Barcelona: Flick Bayar Mahal Kalkulasi El Clasico di Parc des Princes

Kekalahan Barcelona dari Paris Saint-Germain dengan skor 2-4 pada Selasa mengungkap celah di tubuh tim asuhan pelatih Flick dalam menguasai lini tengah, menghadapi tekanan, dan melindungi ruang-ruang pertahanan.

Kendati tim Catalan itu dua kali berhasil menyamakan kedudukan, mereka tidak mampu menjaga keseimbangan, sementara Paris terus memberikan ancaman hingga akhirnya memastikan kemenangan dengan penuh keyakinan.

Perbedaannya terlihat jelas pada kemampuan Paris untuk segera mengambil kembali inisiatif setelah setiap gol Barcelona. Ini merupakan poin krusial dalam persaingan Liga Champions Eropa, yang diharapkan Barca untuk merebut kembali gelarnya, di mana bakat individu tidak cukup apabila keseimbangan yang melindungi tim pada momen-momen tersulit pertandingan tidak hadir, sebagaimana yang terjadi hari ini.


  • Pertempuran lini tengah: Pedri saja tidak cukup

    Barcelona kesulitan menguasai lini tengah, karena para pemain Paris selalu menemukan opsi umpan yang tersedia, sementara Pedri tampak seolah memikul sendiri beban menghubungkan antarlini.

    Masalahnya bukan sekadar keunggulan jumlah, melainkan pergerakan trio Paris, Vitinha, Joao Neves, dan Fabian Ruiz, yang memberikan pembawa bola solusi untuk melewati tekanan.

    Ketika Paris berhasil melewati tekanan, lini pertahanan Barcelona mendapati dirinya terpaksa mundur dan melindungi ruang, alih-alih merebut bola di area yang lebih maju. Di sinilah tampak perbedaan antara penguasaan secara angka dan dominasi yang sesungguhnya; sebab menguasai bola tidak berarti mendikte tempo jika tim gagal mencegah lawannya menjangkau sepertiga akhir dengan mudah.

    Menurut statistik situs Flashscore, meski Barcelona unggul dalam penguasaan bola dengan persentase 53% berbanding 47% milik Paris, serta dalam akurasi umpan, angka-angka justru menunjukkan dominasi Paris yang lebih jelas atas jalannya permainan menyerang; Paris melepaskan 22 tembakan berbanding 18 milik Barcelona, di antaranya 15 tembakan tepat sasaran berbanding hanya 5, dan mencatatkan gol yang diharapkan (xG) sebesar 3,73 berbanding 2,19, dengan 6 peluang emas berbanding 5, yang menegaskan bahwa trio lini tengah Paris (Vitinha, Neves, dan Ruiz) berhasil mengubah penguasaan bola yang relatif lebih sedikit menjadi ancaman yang nyata dan berkesinambungan.

    Baca juga: Separuh golnya di Barcelona, Lucas Hernandez memperbarui mimpi buruk Blaugrana

  • Tekanan Membongkar Harga Pertahanan Tinggi

    Barcelona mengandalkan tekanan tinggi dan menaikkan lini pertahanannya, sebuah strategi yang memberi mereka keunggulan ofensif ketika berhasil, tetapi menjadi berbahaya menghadapi tim yang piawai dalam umpan cepat dan memanfaatkan ruang di belakang para bek, serta tahu betul di mana harus menyerang untuk menyakiti lawannya.

    Di sinilah peran bintang Maroko Achraf Hakimi menonjol dalam menyuplai umpan silang secara terus-menerus, hingga ia menciptakan gol keempat untuk Ruiz, sehingga ia kini tinggal selangkah lagi dari menyamai rekor Samuel Eto'o (20) sebagai pencetak gol Afrika terbaik di Liga Champions, sementara hari ini ia menyamai catatan Mohamed Salah, mantan bintang Liverpool dan kini bintang Trabzonspor, dalam jumlah umpan kunci (19).

     Désiré Doué juga memanfaatkan ruang di belakang lini yang maju untuk mencetak gol pertama dan menciptakan gol kedua dari tendangan sudut, sehingga ia meraih penghargaan pemain terbaik dalam pertandingan.

    Dengan demikian, masalahnya bukan hanya pada majunya lini belakang, melainkan pada tidak adanya tekanan yang cukup terhadap pembawa bola, dan sulitnya menutup sudut-sudut umpan.

    Baca juga: Peristiwa yang Absen 19 Tahun: Keputusan Darurat Membalikkan Perhitungan Paris dan Barcelona

  • Pajak El Clasico: Apakah absennya Rodri menjadi penyebab kekalahan?

    Keputusan Hans Flick untuk menyimpan Rodri Hernandez di bangku cadangan sangat berpengaruh, tetapi itu tidak bisa menjelaskan kekalahan dengan sendirinya. Sang pelatih menjelaskan bahwa ia ingin mengistirahatkan pemain tersebut setelah ia bermain penuh dalam tiga pertandingan sebelumnya, seraya menegaskan kepercayaannya pada Marc Bernal, menjelang laga El Clasico melawan Real Madrid.

    Namun Rodri bukan sekadar pemain tengah yang bisa digantikan oleh unsur lain; sebab tim membutuhkan seorang pemain yang membantu mereka keluar dari tekanan dengan bola, mengatur tempo, menghadirkan keseimbangan antara lini tengah dan pertahanan, serta menguasai bola di saat-saat lain untuk meredam badai transisi cepat dan serangan ganas lawan.

    Barcelona tidak berhasil menggantikan peran-peran ini sebagaimana mestinya, sementara Pedri mendapati dirinya dituntut untuk memikul beragam tanggung jawab. Kesalahan tidak selalu terletak pada mengistirahatkan Rodri, melainkan pada tidak tersedianya sebuah sistem yang mampu bertahan menghadapi Paris tanpa kehadirannya, dan ini adalah pertanyaan yang akan terus muncul setiap kali Rodri absen: bagaimana cara menggantikannya?

    Manajemen beban memang penting, tetapi itu tidak seharusnya datang dengan mengorbankan keseimbangan dalam laga sebesar ini. 

    Baca juga: Tidak ada yang lebih buruk darinya: Barcelona sendirian di zona hitam Liga Champions


  • SUKA CERITA INI?

    Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

    Ikuti GOAL di Google
  • Pergantian Pemain: Keputusan yang Memunculkan Tanda Tanya

    Penarikan Pedri dan Raphinha pada menit ke-60 memunculkan tanda tanya, terlebih Barcelona membutuhkan kemampuan untuk mengatur permainan dan menahan tekanan Paris. Masuknya Rodri pun tidak sepenuhnya mengatasi masalah. Demikian pula, mengganti Espart setelah penampilannya yang positif, serta mempertahankan Gordon meski kontribusinya lemah sepanjang pertandingan, membuka pintu perdebatan tentang sejauh mana pergantian pemain sesuai dengan apa yang ditampilkan para pemain, dengan apa yang dibutuhkan tim, dan tentang menit-menit ini yang mengungkap ketidakmampuan tim menjaga keseimbangannya setelah bangkit.

    Dalam laga melawan Paris Saint-Germain malam ini, Txavi Espart mencetak gol penyama kedudukan setelah 74 menit bermain, dengan satu tembakan mengarah ke gawang dan xG mencapai 0,29, serta menyelesaikan 43 umpan dengan akurasi 84%, memenangkan 4 tekel dan 5 kali merebut bola.

    Menurut statistik ESPN, Anthony Gordon menuntaskan 90 menit penuh melawan Paris Saint-Germain dengan hanya mencatatkan 48 sentuhan, tanpa gol atau assist, dengan xG nol dan xA mencapai 0,16, serta tanpa satu pun tembakan mengarah ke gawang maupun tembakan secara keseluruhan, sementara ia hanya memenangkan satu duel dan menghalau satu bola.

    Apakah waktu masih berpihak padanya untuk mengancam Salah? Guirassy menembus sejarah Liga Champions


  • Pelajaran dari dominasi Paris: apakah jarak antara Barcelona dan impian si Kuping Besar masih jauh?

    Paris menunjukkan kemampuan untuk terus menyerang dan merebut kembali inisiatif setiap kali skor berubah. Sebaliknya, Barcelona lebih mengandalkan pemanfaatan ruang dan momen-momen individu, tetapi mereka tidak mampu mengubah peluang-peluang itu menjadi dominasi yang berkelanjutan. Di sinilah perbedaannya tampak jelas: Barcelona menciptakan momen-momen berbahaya, sementara sang juara bertahan mampu memaksakan gayanya dan menerapkan pola ancaman yang berulang, sehingga mengarahkan jalannya pertandingan sesuai keinginan mereka.

    Dari sisi lain, pertandingan ini mengungkap bahwa Barcelona masih membutuhkan lebih banyak keseimbangan agar bisa bersaing secara serius di Liga Champions. Tim ini memiliki pemain-pemain yang mampu membuat perbedaan, dan mereka menunjukkan tekad dengan bangkit dua kali, tetapi bakat dan kemampuan menyerang mereka tidak cukup untuk menutupi masalah di lini tengah dan pertahanan. Sebaliknya, Paris memiliki beragam solusi; mereka menekan secara efektif, memanfaatkan ruang, terus menyerang, dan tidak kehilangan ketenangan setelah kebobolan. Inilah sifat-sifat yang dibutuhkan setiap tim yang bercita-cita meraih gelar.

    Baca juga: Souness: Arsenal menekan wasit, dan bintangnya seorang penipu