Semestinya, Chelsea arahan Mauricio Pochettino berbeda dari musim lalu. Semestinya, Chelsea arahan Pochettino bisa menciptakan banyak peluang, mengonversinya menjadi gol, dan melupakan penyakit kronis yang telah menjangkiti mereka selama bertahun-tahun.
Namun faktanya, The Blues tak banyak berbeda. Mereka masih mandul dan sulit menang seperti era Graham Potter dan Frank Lampard, bahkan setelah belanja gila-gilaan (lagi!) di bursa transfer.
Performa mereka sebenarnya nampak menjanjikan saat menahan Liverpool 1-1 di pekan perdana, tetapi segala poin positif dan harapan akan era baru yang lebih cerah seolah menguap tanpa jejak saat mereka bertamu ke London Stadium, Minggu (20/8) kemarin.
Menghadapi West Ham yang lebih disiplin dari pasukan Jurgen Klopp, The Blues nirkreativitas dan akhirnya dipermalukan 3-1 oleh 10 pemain tim tuan rumah. Enzo Fernandez yang tampil perkasa menghadapi Alexis Mac Allister dan Dominik Szoboszlai loyo dibungkam Tomas Soucek dan Lucas Paqueta, meski sesekali masih melepaskan operan-operan progresif yang luar biasa. Tapi umpan-umpan itu mubazir tanpa ada kepaduan dalam pergerakan para penyerang Chelsea. Ditambah miskomunikasi lini belakang, maka tanak sudah resep bencana Pochettino.
Beruntung bagi Chelsea, jadwal Liga Primer Inggris sedang baik hati. Mereka akan menjamu Luton Town pada Sabtu (26/8) dini hari WIB, dengan harapan mereka bisa menang melawan tim yang katanya calon degradasi itu.
Jadwal mereka cenderung ringan setelahnya, sebelum digempur lawan-lawan kuat pada akhir Oktober sampai awal Desember. Oleh karena itu, laga kandang versus tim debutan Liga Primer akhir pekan ini menjadi laga yang wajib dimenangkan; demi memupuk kepercayaan diri, menabung poin, serta mendaki klasemen.




