Kisah Piranvand sungguh luar biasa; ia lahir sebagai anak sulung dari sebuah keluarga Badui dari suku Lor, dan bekerja sebagai penggembala domba sejak kecil; di sana, ia sering bermain “Dal Baran”, permainan tradisional Iran yang melibatkan lemparan batu... Lemparan-lemparan itulah yang kemudian membentuk legenda dirinya.
Pada usia dua belas tahun, ia beralih ke sepak bola. Awalnya ia bermain sebagai penyerang, lalu beralih menjadi penjaga gawang, dan ayahnya merobek sarung tangannya serta mengusirnya dari rumah; Biranvand berkata dalam wawancara sebelumnya dengan kantor berita Spanyol: “Saya tidak punya tempat untuk tidur, saya jauh dari keluarga. Itulah rintangan terbesar.”
Pada usia 15 tahun, ia berangkat ke Teheran dengan uang pinjaman. Sebuah klub meminta 30 euro untuk pendaftaran, namun ia tidak memilikinya, sehingga ia bekerja sebagai petugas kebersihan, pencuci mobil, dan penjual makanan. Ia tidur di jalanan hingga klub tersebut memberinya kesempatan. Ia membagi waktunya antara latihan dan bekerja di pabrik demi memenuhi kebutuhan makan.
Hasilnya? Seorang kiper yang memiliki lemparan tangan terkuat di dunia. 61 meter, jarak yang masuk ke dalam Guinness World Records. Lemparan-lemparan Piranvand berubah menjadi serangan balik yang cepat, dan menjadi senjata rahasia Iran.