Arsenal FC v Atletico de Madrid - UEFA Champions League 2025/26 Semi Final Second LegGetty Images Sport

Diterjemahkan oleh

Bintang Arsenal dan Timnas Inggris, Declan Rice, menanggapi meme ‘pengendali suasana’

  • Mengelola tag 'vibe controller'

    Dikenal karena etos kerjanya yang tak kenal lelah di lapangan, yang membuatnya dijuluki "the horse" oleh rekan-rekan setimnya di Arsenal, Rice juga terkenal karena kehadirannya yang ceria di ruang ganti. Media sosial menjulukinya sebagai "pengatur suasana" berkat kemampuannya mencairkan suasana dan menjalin kedekatan dengan rekan-rekan setim, sebuah peran yang ia jalani dengan senyum khasnya.

    Ketika ditanya tentang meme viral tersebut, Rice menanggapi dengan tertawa atas anggapan bahwa ia adalah satu-satunya arsitek semangat tim. "Kami sangat muda dan energik sehingga semua orang [di tim] secara alami bersemangat bersama," katanya dalam wawancara dengan Vogue. "Jadi, saya tidak akan mengatakan bahwa itu hanya saya, tetapi ya, orang-orang melihat saya sebagai orang yang menyenangkan." Mantan bintang Arsenal, Alex Scott, menggemakan pendapat ini dengan menyatakan, "Declan adalah pemimpin terbaik. Orang-orang meresponsnya. Orang-orang mendengarkannya. Dalam situasi apa pun, dia akan mendukung Anda."

  • Iklan
  • Labrum London - Runway - LFW Sept 2024Getty Images Entertainment

    Dari lapangan sepak bola hingga catwalk

    Meskipun fokus utamanya tetap pada upaya meraih gelar juara bersama The Gunners, Rice semakin merambah dunia mode kelas atas, dan pria berusia 27 tahun ini mulai diakui sebagai ikon gaya yang sesungguhnya. Ia mengaku ketertarikannya pada dunia mode sudah muncul sejak ia menjadi pemain profesional: "Sebenarnya saya tidak ingat barang pertama yang saya beli. Yang saya ingat hanyalah menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian yang menurut saya keren saat itu. Saya tidak tahu kapan harus berhenti. Itulah satu-satunya masalah."

    Direktur kreatif Burberry, Daniel Lee, menggambarkan gelandang ini sebagai "teman rumah" yang mewakili perpaduan modern antara sepak bola dan budaya Inggris, dengan mengatakan: “Declan mewakili hal itu dengan cara yang sangat modern. Dia adalah salah satu pemain terbaik di generasinya, dengan selera gaya pribadi yang luar biasa.”

  • Mengatasi kebisingan dan sorotan

    Menjadi salah satu atlet paling terkenal di negara ini tentu memiliki sisi negatif yang signifikan, termasuk sorotan publik yang intens dan hujatan beracun di media sosial yang ditujukan kepada orang-orang terdekatnya. Rice telah mengembangkan ketangguhan mental untuk menghadapi tekanan yang tak terhindarkan sebagai pemain Inggris dengan rekor transfer tertinggi. "Jangan perhatikan dan jangan pikirkan sama sekali," tegasnya saat membahas taktiknya untuk mengabaikan gangguan dari luar. "Orang-orang selalu punya komentar tentang karier saya: apakah saya cukup bagus, apakah saya mencetak gol, apakah saya cukup konsisten, apakah saya siap untuk pindah ke klub besar… Ada begitu banyak pendapat, yang penting hanyalah pendapat orang-orang terdekat Anda. Suatu saat Anda akan dibenci, suatu saat Anda akan dicintai. Hal itu selalu berubah dalam sepak bola."

  • England v Greece - UEFA Nations League 2024/25 League B Group B2Getty Images Sport

    Persaudaraan di kubu Inggris

    Menatap ke depan menuju turnamen internasional besar di bawah kepemimpinan baru, Rice yakin skuad Inggris saat ini berada dalam posisi yang unik berkat persahabatan sejati di antara mereka. Berbeda dengan "Generasi Emas" sebelumnya yang konon terpecah belah akibat persaingan antar klub, kelompok saat ini—termasuk Bukayo Saka, Cole Palmer, dan Phil Foden—tetap sangat akrab. "Baik melalui media sosial maupun di kehidupan nyata, Anda bisa melihat bahwa ada ikatan yang nyata di antara kami," jelas Rice.

    Dia mencatat bahwa sepak bola modern telah melewati era permusuhan antar tim yang intens. “Tentu saja Anda mendengar generasi sebelumnya berbicara tentang bagaimana mereka tidak akur dan tidak bisa terhubung serta bermain bersama. Tapi menurut saya, itulah sebabnya, dalam beberapa tahun terakhir bersama Inggris, kami tampil begitu baik, karena kami dekat baik di dalam maupun di luar lapangan.

    "Kita memang saling berhadapan di lapangan, tapi sepak bola tidak seperti itu lagi. Banyak orang memiliki teman baik dari tim lawan, menghabiskan banyak waktu bersama pemain dari tim lawan. Dengan tim Inggris, kita semua akur. Kita selalu menantikan untuk bertemu satu sama lain. Ini seperti liburan yang menyenangkan."