HD Roy Hodgson England FriendlyGetty Images

Sang Hipokrit Abadi - Inggris 10 Tahun Di Belakang Jerman


GOAL OLEH KRIS VOAKES PENYUSUN AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Untuk kesekian kalinya Inggris hadir sebagai unggulan kuat dalam turnamen besar sepakbola internasional, yang akan segera dihelat di Prancis. Namun mari akui saja, sejatinya masa depan Negeri Ratu Elizabeth di Euro 2016 besar kemungkinan akan sama saja dengan prestasi mereka di turnamen-turnamen akbar sebelumnya.

Harus digarisbawahi jika duel hadapi Jerman di Berlin, Sabtu (26/3) malam, akan jadi penegasan realitas jurang kualitas di antara kedua tim, terlepas bagaimana nanti hasil akhirnya. Pelatih Inggris, Roy Hodgson , bahkan mengakui hal tersebut jika timnya masih jauh di bawah sang juara dunia pimpinan Joachim Low.

"Menimbang pengalaman, kami harus menerima bahwa tipe pemain yang kami gunakan, dan jumlah caps di tim kami yang dibandingkan dengan Jerman, kami terlalu jauh, jauh di bawah," ungkap Hodgson dalam konferensi pers jelang pertandingan.

"Namun, kami mungkin berada di posisi Jerman pada 2006, saat mereka mempunyai sekumpulan pemain muda luar biasa yang mereka amat percayai dan dipromosikan. Itulah di mana kami menemukan diri kami, saya pikir beberapa tahun lalu.

“Kami lebih dekat dengan petualangan kami ketimbang Jerman, meski mereka sudah melengkapi perjalanannya. Anda tak bisa lebih jauh dari memenangkan Piala Dunia."

Pernyataan itu menjadi pesan menonjol, sebagaimana para pelatih Inggris dan pengikutnya terus menangis selama bertahun-tahun. Dalam satu hal dan lainnya, Inggris memang selalu berada di belakang bola untuk waktu yang sangat, sangat lama.

Tentu saja, selalu ada alasan untuk berharap. Performa luar biasa dari pemain-pemain macam Harry Kane, Jamie Vardy, Delle Ali, dan Eric Dier membuat banyak pihak percaya bahwa Inggris bisa melangkah jauh di turnamen yang digelar pada musim panas esok. Namun jangan pula terlalu berlebihan, karena faktanya keempat nama tersebut hanya mengoleksi satu dijit caps bermain untuk Inggris.

Dengan Wayne Rooney dan Joe Hart yang absen, Hodgson jelas memiliki masalah soal kepemimpinan di dalam skuatnya. Gary Cahill kemudian dipilih sebagai kapten timnas untuk kali kedua sepanjang kariernya, plus kurang dari enam pekan usai dirinya 'dikukuhkan' sebagai pemain cadangan Chelsea. Pemain kelahiran Sheffield cuma mengoleksi 40 caps, dengan 37 di antaranya sebagai starter, di mana 10 pemain yang dipanggil Jerman memiliki jumlah caps yang lebih banyak dari itu.


SIMAK JUGA
PREVIEW: Jerman - Inggris
Low Kagumi Vardy
Ini Alasan Inggris Selalu Gagal

Jika ditotal, maka skuat Jerman memiliki 407 caps lebih banyak dari Inggris, dengan rata-rata 31 caps per pemain melawan Inggris yang reratanya 16 caps. Secara usia, Jerman kembali unggul, karena pemain tertuanya, Lukas Podolski, berjarak dua bulan jelang 31 tahun. Kondisi tersebut merupakan kombinasi dari skuat fantastis yang muda, berpengalaman, berkualitas dan punya pemimpin. Sesuatu yang jelas hanya bisa diimpikan Hodgson.

“Harus diakui, kami belum bisa memiliki tim seperti itu," tutur Hodgson, menyinggung subjek soal timnya yang kurang pengalaman. "Akan ada banyak pemain kurang berpengalaman yang bakal bermain esok. Tapi, satu-satunya cara untuk membuat mereka berpengalaman adalah dengan bermain di partai seperti ini, layaknya laga-laga kami sebelumnya kontra Spanyol dan Prancis. Sekarang giliran Jerman dan Belanda. Ini adalah cara terbaik kami, sebagai federasi dan sebagai tim, untuk memberi kesempatan mendapatkan pengalaman."

Apa yang dikatakan selanjutnya, lantas menjelaskan segalanya. "Saya cukup nyaman dengan tim yang saya pilih. Ini adalah tim yang bagus untuk hadapi Jerman yang perkasa."

Sementara tak ada satu pun kamp Inggris bakal mengartikulasikan hal tersebut, dan dari segala pernyataan Hodgson, Euro 2016 tampaknya tetap jadi turnamen besar di mana lagi-lagi The Three Lions tak berharap untuk menang. Terdapat tim yang lebih besar, tim yang lebih kuat, dan Inggris tinggal menunggu waktu untuk dilahap serta disingkirkan.

Sama seja seperti 'Generasi Emas' yang diharapkan merintis kejayaan pada Piala Dunia 2002 dan Euro 2004, dan memuncak di Piala Dunia 2006. Tim Inggris saat ini kembali diharapkan bisa meledak di Rusia pada Piala Dunia 2022.

Banyak suporter Inggris yang mengambil Yunani sang kampiun Euro 2004, sebagai negara yang tampak punya jalan singkat dari apa yang sejatinya dibutuhkan untuk menghadirkan kejutan. Pada kenyataannya, meskipun, tim asuhan Otto Rehhagel merupakan pengecualian atas segala 'aturan' untuk jadi juara, bahkan Jerman, Spanyol, atau Belgia, patut takut akan ancaman Hodgson dan anak buahnya. Karena sebagai bos besar, Hodgson menunjukkan bahwa timnya adalah oposisi 'perkasa' untuk jadi calon kuat juara.

Kemenangan di Berlin pasti bisa memberi Inggris perangsang yang hebat. Namun mereka juga wajib membumi mengingat tragedi kemenangan di tempat yang sama pada 2008 silam, dengan tersingkir dari babak 16 besar Piala Dunia 2010 oleh Jerman. Bahkan kemenangan telak 5-1 pada 2002 silam, juga diikuti oleh kegagalan di babak perempat-final pada Piala Dunia Korea-Jepang.

Terdapat banyak potensi di skuat Inggris, tapi sudah berkali-kali mereka terpuruk dalam 50 tahun terakhir sejak sanggup meraih Piala Dunia tunggalnya. Ketika segalanya mulai menjadi sulit, yang tentu hadir di ajang akbar, sosok pemimpin dan pemain berkualitas sudah berulang kali dibuktikan amat diperlukan kehadirannya. Itulah yang tak dimiliki Inggris dari Jerman.

Bagi pengguna news app Goal dapat menyimak cuplikan pertandingan Liga Primer Inggris, Serie A Italia, dan Ligue 1 Prancis di sini.

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google