Kendati memetik kemenangan 2-1 atas PS TIRA di Stadion Sultan Agung, Bantul, Rabu (19/9) malam WIB, pelatih PSM MakassarRobert Rene Alberts merasa gusar dengan pelarangan tampilnya kiper Imam Arief Fadillah.
Menurut Rene Alberts, ini merupakan kali kedua PSM mendapatkan perlakukan tidak mengenakan di saat menghadapi PS TIRA. Satu hari sebelum laga, PSM tak bisa memakai lapangan Stadion Sultan Agung untuk latihan resmi, karena pada malam harinya ada pertandingan Persija Jakarta kontra PSIS Semarang.
Di hari pertandingan, PSM tidak bisa memasukkan nama Imam ke dalam daftar susunan pemain. Praktis PSM hanya memakai tidak memiliki kiper di bangku cadangan.
“Tak mau banyak omong, karena kami datang, dan ditekan [mengikuti] aturan fair play. Kemarin kami ditolak berlatih di stadion, dan kini saya marah, bingung, kecewa. Saat memberikan daftar pemain sebelum kick-off, kami ditolak dalam registrasi salah satu pemain, Imam Fadillah,” tutur Rene Alberts.
“Sebelumnya kami cuma mendapat surat Imam hanya dihukum dua laga. Tapi tiba-tiba sebelum laga, Imam tak boleh bermain, karena ada tambahan larangan satu laga. Kami tidak pernah mendapat surat ini di kantor.”
“Saya harus membuat keputusan tanpa ada bukti, karena sampai sekarang tidak ada surat resmi tentang itu. Sebagai pelatih, saya tetap bersikeras memainkan Imam. Tapi saya akhirnya tidak memasukkan Imam, karena berisiko kehilangan tiga poin. Jika menang, tiga poin bisa percuma.”
Sementara gelandang Wiljan Pluim mengutarakan, PSM sempat mengawali pertandingan dengan buruk, sehingga mereka tertinggal lebih dulu. Namun Juku Eja mampu bangkit di babak kedua, sehingga bisa membalikkan keadaan.
“Kami tampil buruk di babak pertama, 45 menit terburuk sejauh ini. Tapi di babak kedua kami main lebih baik, kami menekan, layak mencetak gol. Di laga sebelumnya, kami juga bermain sepert ini, tapi tidak berjalan dengan baik. Jadi ini hasil positif,” imbuh Pluim.
Goal Indonesia