Sergio Ramos Real Madrid Barcelona 281018Getty

Pernyataan Resmi Sergio Ramos Terkait Tuduhan Gagal Tes Doping

Sergio Ramos melancarkan pembelaan diri bernada keras yang membantah telah gagal melalui tes anti-doping beberapa saat sebelum final Liga Champions 2017 digelar.

Informasi itu dibocorkan Football Leaks yang dimuat Der Spiegel, Jumat (23/11) kemarin, setelah sampel urine bek Real Madrid itu positif mengandung dexamethasone, substansi terlarang. Tes anti-doping diselenggarakan sebelum pertandingan final Liga Champions melawan Juventus. Meski hasil tes diketahui sebulan berselang, UEFA tidak mengambil tindakan apa pun terhadap Ramos maupun Madrid. Los Blancos memenangkan pertandingan 4-1.

Atas tuduhan itu, Madrid telah melancarkan pernyataan resmi.

"Sergio Ramos tidak pernah melanggar peraturan pengendalian anti-doping," bunyinya.

"UEFA dengan segera telah meminta informasi dan menutup kasus ini, seperti lazimnya dalam kasus seperti ini, setelah verifikasi yang dilakukan para pakar World Anti-Doping Agency (WADA), AMA, dan UEFA sendiri."

"Berkaitan dengan konten di dalam publikasi yang dimaksud, kami takkan memberikan tanggapan terhadap masalah yang tidak substansial."

Usai kekalahan 3-0 di markas Eibar, Sabtu petang, Ramos mengatakan, "Hal ini merupakan masalah yang sangat pelik, rumit. Saya harus datang dan membela diri, bersama tim legal saya, melawan tuduhan ini. Saya sudah melalui 250 atau 300 tes doping sepanjang karier dan tidak pernah gagal, tidak pernah ada ketidakberesan."

"Kami tahu seperti apa tipe publikasi seperti ini. Mereka mengancam kami dengan berita satu setengah bulan yang lalu. Kalau Anda tahu kebenaran, Anda tidak perlu takut bohong. Tuduhan ini merupakan upaya menodai citra saya dan reputasi profesional saya."

Dalam pernyataan resmi tertulis, Ramos menambahkan, "Sehubungan dengan informasi yang diterbitkan tentang saya di sejumlah media yang berbeda-beda, saya ingin memberikan klarifikasi bahwa saya bersuara keras menentang doping. Saya tidak pernah melakukannya, saya juga tidak akan pernah melakukannya, begitu juga untuk menyetujui doping dalam bentuk apa pun."

"Dua kasus spesifik yang dirujuk dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Malaga, April 2018: Saat pertandingan berakhir, saya diminta melengkapi tes anti-doping. Mengingat sempitnya waktu tim untuk perjalanan pulang, petugas mengizinkan saya untuk mandi, dengan di bawah pengawasannya sepanjang waktu, sebelum menuntaskan tes yang saya luluskan, sebagaimana semua kasus lain."

"2. Cardiff, Juni 2017: Saya menerima perawatan medis standar yang diberikan oleh petugas medis profesional klub. Masalah itu sudah diklarifikasi dan diselesaikan secara formal dalam bentuk tertulis antarorganisasi."

"Sepanjang karier olahraga saya yang panjang saya selalu melakukan, dan lulus dengan memuaskan, sejumlah tes anti-doping yang tak terhitung jumlahnya. Tidak pernah terjadi, seperti yang sudah diterangkan UEFA, WADA, dan Real Madrid, maupun kejadian di masa lalu, saya melanggar peraturan anti-doping."

"Sejalan dengan hak atas informasi, saya juga harus menjunjung hak saya untuk menghormati. Tim legal saya akan mempertimbangkan melakukan tindakan lebih lanjut yang tidak merepresentasikan kejadian yang sebenarnya yang merendahkan reputasi saya dan melanggar hak-hak saya."

ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1.Man City Menangkan Perburuan Frenkie De Jong
2.PSSI Investigasi Pertandingan Yang Diduga Tidak Wajar
3.AC Milan Harapkan Transfer Gratis Diego Godin
4.Nicklas Bendtner Terima Hukuman Penjara
5.25 Pemain Remaja Termahal Dunia
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia
Footer Banner La LigaGetty, Goal
Iklan