Morgan Schneiderlin tak sungkan buka-bukaan mengenai borok mantan pelatihnya di Manchester United, Louis van Gaal.
Dia menyebut, juru taktik berkebangsaan Belanda itu punya gaya melatih yang super ketat dan cenderung memaksakan kehendak, sehingga para pemain merasa tertekan ketika bermain. Schneiderlin merasakan betul pengalaman ini. Dia mengaku tak bisa mengeluarkan insting dia.
Schneiderlin didatangkan ke Old Trafford dari Southampton pada bursa transfer musim panas 2015 setelah menjadi salah satu pemain paling konsisten di Liga Primer Inggris bersama kubu St Mary's kala itu.
Pemain internasional Prancis itu sayangnya tak mampu membangun reputasi bagus selama berbaju The Red Devils setelah mencatatkan 47 penampilan secara keseluruhan di berbagai kompetisi sebelum dijual ke Everton pada Januari 2017.
Di antaranya adalah 38 laga yang dijalani Schneiderlin di United ketika musim pertama dia di klub di bawah komando van Gaal, yang lantas digantikan dengan Jose Mourinho meski berhasil mempersembahkan Piala FA.
Mourinho lah yang pada akhirnya menjual Schneiderlin karena dia dinilai jadi pemain surplus di tubuh United, tetapi sang gelandang berpendapat, van Gaal adalah pihak yang telah merusak karier gemilang yang telah dibangunnya.
"[Dia memiliki] gaya melatih yang terlalu ketat," tutur pemain yang kini bermain di tanah kelahirannya sendiri, Prancis, bersama Nice.
"Kami diberitahu 'Ketika Anda mengendalikan bola, Anda harus melakukan ini', ketimbang bermain dengan naluri saya seperti yang saya dapatkan bersama Pochettino dan [Ronald] Koeman," jelasnya.
"Hal terburuk bagi pemain sepakbola adalah ketika Anda berpikir terlalu banyak. Saya mulai berpikir 'Ah, sang manajer ingin saya melakukan ini'. Anda kehilangan insting Anda, Anda mulai memaksakan sesuatu, Anda kehilangan umpan, Anda terlambat untuk melakukan tekel, kepercayaan diri Anda menguap," seru Schneiderlin.
"Saya akan memainkan pertandingan yang sangat bagus kemudian pertandingan yang sangat buruk. Saya tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Saya mulai mengeluh kepada istri saya. Itu menyakiti saya lantaran tidak bisa bermain bebas di United," bongkar Schneiderlin.
"Tekanan di klub ini tidak menjadi masalah bagi saya. Saya suka tekanan, saya perlu tekanan dan adrenalin. Fans sangat baik pada saya ketika di jalan," katanya lagi.
"Masalahnya adalah karena saya tahu saya memiliki begitu banyak untuk diberi, tapi tidak bisa memberikannya karena saya merasa terkurung. Melihat ke belakang, saya seharusnya tidak perlu terlalu marah, tapi demikianlah keadaannya," ungkapnya.
"Anda harus menunggu sampai sang manajer memberitahu Anda bahwa Anda sudah boleh makan. Hal-hal seperti ini akan berguna untuk pemain usia 19 dan 20, tapi tidak ketika Anda punya pemain yang lebih tua," ucap Schneiderlin.
"Van Gaal membuktikan bahwa dia adalah manajer top, tapi saya menilai, kami tidak perlu ide-ide seperti itu di masa sekarang ini," pungkasnya.





