Jleb! Bak sebuah pukulan telak diterima Frank De Boer di satu waktu ketika Jose Mourinho membuat konferensi pers paling kejam dalam kariernya.
Mari kita runut momen kala itu. De Boer adalah seorang pandit, hanya beberapa bulan pascapemecatan tragis di Crystal Palace. Dikontrak Juni 2017 lalu, karier pria Belanda ini di Selhurst Park berakhir hanya sepuluh pekan kemudian, dengan tim mengalami kekalahan di empat laga pertamanya di musim itu tanpa mencetak satu pun gol.
Masih di sela-sela pekerjaannya pada Maret 2018, De Boer lalu merendahkan Mourinho - yang kala itu melatih Manchester United - di televisi dengan mengatakan bahwa sayang jika talenta menjanjikan Inggris seperti Marcus Rashford ditangani orang macam mantan pelatih Inter Milan dan Real Madrid itu.
Mourinho, yang telah lama punya reputasi tak bagus perihal pemain akademi, bereaksi terhadap komentar De Boer dengan sangat elegan.
"Saya membaca beberapa kutipan dari manajer terburuk dalam sejarah Liga Primer Inggris, Frank De Boer. Tujuh pertandingan, tujuh kekalahan, nol gol," seru Mourinho kepada reporter.
"Dia mengatakan bahwa tidak bagus bagi Marcus Rashford memiliki pelatih seperti saya, karena hal terpenting bagi saya adalah menang," lanjutnya.
"Jika dia dilatih oleh Frank, dia akan belajar bagaimana kalah, karena dia mengalami kekalahan di setiap pertandingan," tandas Mourinho.
Kini, lebih dari dua tahun sejak konferensi pers paling kejam dari Mourinho yang membuat De Boer malu setengah mati, mantan bek timnas Belanda itu pun berkesempatan kembali menjalani karier manajerial yang tak kalah memblenya di Atlanta United.
De Boer mungkin menang lebih banyak dibanding yang dilakukannya di Palace, tapi di klub terbarunya ini dia juga mengakhirinya dengan cara yang sama: dipecat. Dia dibebastugaskan Juli lalu tahun ini setelah lagi-lagi metode kepelatihannya yang dianggap menyengsarakan pemain.
Namun entah bagaimana ceritanya, dia lantas diminta mengambil tanggung jawab menukangi timnas Belanda dan dia akan memimpin negaranya ini untuk pertama kalinya pada Rabu sekarang, bentrok uji coba dengan Meksiko.
GettyPelatih flop di Inggris, Italia dan Amerika Serikat akhirnya akan melatih nama-nama besar seperti Virgil van Dijk, Frenkie de Jong dan Memphis Depay.
Bagaimana bisa De Boer mendapatkan job melatih Belanda?
Penunjukan De Boer dilakukan sebagai respons atas kepergian Ronald Koeman. Mantan bek Barcelona itu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pelatih kepala Belanda demi menjadi suksesor Quique Setien di Camp Nou.
Dengan Nations League sedang berlangsung dan Kejuaraan Eropa tinggal beberapa bulan lagi, federasi Belanda buru-buru mencari sosok yang familiar dengan tim Oranje. Beberapa nama melegenda seperti Frank Rijkaard dan Peter Bosz sempat digadang-gadang, namun pada akhirnya De Boer yang beruntung.
Petualangan De Boer di dunia kepelatihan dimulai pada Piala Dunia 2010, di mana dia adalah asisten pelatih Belanda, yang berhasil melaju hingga final kala itu.
Singkatnya, dia kemudian mengambil job mentereng dengan menangani Ajax, yang diantarkannya meraih gelar juara Eredivisie dalam empat musim. Namun, De Boer mundur pada 2016 setelah gagal kembali mempersembahkan gelar juara.
Namun di titik itu, De Boer adalah manajer yang cukup diminati sepakbola Eropa. Dia sempat dihubungkan dengan pintu Liverpool 2013, tapi kemudian memilih untuk menetap di Amsterdam. Inter menghubunginya setelah pengabdian di Ajax berakhir, lantas dia pun mengambil sikap untuk bertualang di Milan.
Meski begitu, kariernya di Giuseppe Meazza prematur, hanya tercatat dalam 14 pertandingan, 84 hari, setelah mengalami rentetan empat kekalahan dalam lima laga Serie A. Nasib lebih buruk menimpanya di Inggris, seperti komentar kejam Mourinho padanya. Namun beruntung De Boer masih dipercaya untuk mengarsiteki Atlanta United Desember 2018.
Di MLS, De Boer berharap bisa membangun kembali reputasinya di liga yang dikenal sabar terhadap para manajer. De Boer bertanggung jawab untuk melanjutkan "mesin jadi" yang telah dibangun mantan pelatih Argentina dan Barcelona Gerardo 'Tata' Martino, yang baru saja memenangkan MLS Cup hanya beberapa bulan sebelum kedatangan pria Belanda itu. Nahas, De Boer malah menghancurkan mesin itu.
Dipoles Martino, Atlanta bermain mengalir bebas, tim menyerang dengan dinamis. Di bawah komando De Boer, tim bak tidak bernyawa dan permainan mereka tak lagi sedap untuk ditonton sebagaimana sejarah awal klub ini.
Sejak De Boer berkuasa, sang pelatih menekankan pada pertahanan. Semua orang di tim harus melakukan bagian dari mereka, tak terkecuali penyerang klub yang paling berbakat.
Konsekuensinya, De Boer sering bertikai dengan bintang tim Josef Martinez dan Gonzalo 'Pity' Martinez. Atlanta bermain seperti tim yang mencoba untuk membendung insting menyerang mereka demi memenuhi instruksi sang pelatih.
"Segala sesuatunya telah banyak berubah, cara klub memainkan pertandingan, kami tidak menyukainya," tutur bek Leandro Gonzalez Pirez, jelang MLS All-Star Game 2019.
Menurut The Athletic, beberapa pemain Atlanta bersorak girang ketika mantan klub De Boer, Ajax, tumbang di kaki Tottenham Hotspur di semi-final Liga Champions 2019 lalu.
Josef Martinez dan Pity Martinez juga dalam beberapa kesempatan melakukan walk out saat sesi latihan lantaran frustrasi dengan metode pelatihan De Boer.
Tahun lalu, tim mampu memenangkan sepasang trofi. Gaya permainan berkelas ala Martino memang menguap, tapi karakter juara masih terasa, dengan De Boer memimpin Atlanta merengkuh U.S Open Cup dan Campeones Cup setelah mengalahkan Club America.
Carmen Mandato/Getty ImagesNamun di balik raihan dua piala ini, tampak jelas gaya bermain tim sudah berubah total.
Di pengujung turnamen MLS is Back, bensin pun telah habis. Josef Martinez absen karena mengalami robek pada ACL, membuat Atlanta bermain tanpa salah satu topskor liga.
Pity Martinez masih memainkan beberapa laga terakhirnya di MLS sebelum dijual ke Al-Nassr, klub Arab Saudi. De Boer memainkan beberapa laga pamungkasnya, sekaligus menandai pemecatan dirinya setelah kalah 1-0 di tiga laga berturut-turut. Petualangannya bersama Atlanta terhenti di pertandingan ke-55.
Meski hadir dua trofi, periode De Boer di klub tidak dikenang dengan manis. Atlanta diyakini akan kembali mengubek-ubek ranah sepakbola Amerika Latin untuk mencari pelatih kepala berikutnya, berusaha mengembalikan fondasi menyerang yang telah digarap Martino lalu dirusak De Boer.
Beberapa bulan kemudian, publik sepakbola dikejutkan dengan penunjukan De Boer untuk menangani kandidat kampiun Kejuaraan Eropa tahun depan, Belanda. Secara kebetulan, laga pertamanya adalah melawan Meksiko-nya Martino, tahapan awal menghadapi orang yang digantikan De Boer di karier kepelatihan terakhirnya.
Apabila De Boer sukses memimpin tim barunya ini meraih titel juara, bencana yang dialaminya di Inter, Crystal Palace dan Atlanta akan terkubur dengan sendirinya.
Namun jika sebaliknya, andai kata metode De Boer kembali gagal, dia akan mendapati dirinya berada di tepi jurang, yang di bawahnya adalah lautan api.
Kesempatan satu-satunya De Boer untuk bangkit dan membungkam mulut pedas Mourinho adalah dengan mempersembahkan kejayaan bagi Belanda.

