Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Manchester-City-VS-Fluminense-Final-FIFA-Club-World-Cup-Saudi-ArAFP
Diterjemahkan oleh

Lebih dari satu miliar pound sterling dan 76 transfer: pengeluaran besar Manchester City di periode kontroversial

Manchester City menghabiskan dana raksasa mencapai 1,243 miliar pound sterling untuk mendatangkan 76 pemain selama 9 musim, terhitung dari 2009/2010 hingga 2017/2018, periode yang berkaitan dengan rentetan tuduhan pelanggaran keuangan yang diarahkan kepada klub Inggris tersebut.

Menurut laporan yang dimuat surat kabar "The Athletic", Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir seluruh 115 pelanggaran keuangan, kecuali satu pelanggaran, sementara komisi hingga kini belum menentukan sanksi yang tepat dan sepadan dengan besarnya pelanggaran tersebut.

Selama sembilan musim yang menjadi objek penyelidikan, Manchester City merampungkan 76 transaksi, sementara nilai kesepakatan termahal pada periode ini hanya mencapai 55 juta pound sterling, sebelum wajah tim berubah secara bertahap seiring kedatangan sejumlah bintang paling menonjol dalam sejarah klub.

Meski sebagian pemain yang datang berubah menjadi legenda di Stadion "Etihad", ada pula yang meninggalkan panggung dengan cepat dan tidak meninggalkan jejak yang sama, menurut laporan surat kabar "The Sun".

Namun, awal sesungguhnya dari era ini datang bersama pemain Argentina, Carlos Tevez.

Tevez Membuka Pintu bagi Era Baru

Tevez pindah ke Manchester City dengan mahar 25,5 juta pound sterling pada musim 2009/10, menandai dimulainya babak baru bagi klub, setelah ia menghabiskan dua musim sebelumnya dengan status pinjaman di Manchester United.

Penyerang Argentina itu tampil dalam 42 pertandingan pada musim pertamanya bersama City, mencetak 29 gol dan menyumbang 7 assist, membantu tim mengakhiri musim di peringkat kelima setelah sebelumnya menempati posisi kesepuluh pada musim sebelumnya, sehingga memastikan tampil di Liga Europa.

Setelah itu, Manchester City mulai membangun tim yang mampu bersaing memperebutkan gelar, dengan kedatangan pemain Pantai Gading Yaya Toure dan pemain Spanyol David Silva dalam dua kesepakatan yang masing-masing bernilai 24 juta pound sterling.

Tagihan Tahunan Manchester City

2009/10: 126,78 juta pound sterling

2010/11: 158,03 juta pound sterling

2011/12: 78,37 juta pound sterling

2012/13: 53,32 juta pound sterling

2013/14: 99,41 juta pound sterling

2014/15: 88,48 juta pound sterling

2015/16: 179,43 juta pound sterling

2016/17: 186,13 juta pound sterling

2017/18: 273,27 juta pound sterling

Total pengeluaran: 1,243 miliar pound sterling

Duet Toure dan Silva pun dengan cepat mulai mengukir sejarah baru bagi klub, di mana Toure mencetak gol kemenangan atas Manchester United di semifinal Piala FA pada 2011, sebelum kembali mencetak gol menghadapi Stoke City di Stadion Wembley, mengantarkan Manchester City meraih gelar besar pertamanya dalam 35 tahun.

Selama perjalanan mereka bersama klub, Toure dan Silva berkontribusi meraih 3 gelar Liga Primer Inggris, 3 gelar Piala Liga, dan Piala FA, ditambah Community Shield.

Aguero: Transfer yang Mengubah Segalanya

Kemudian datanglah tahun 2011, dan tibalah nama yang mengubah sejarah Manchester City untuk selamanya: Sergio Aguero.

Klub mengeluarkan sekitar 38 juta pound sterling kepada Atletico Madrid untuk mendatangkan penyerang Argentina berusia 23 tahun itu, yang saat itu menjadikannya transfer termahal dalam sejarah klub.

Aguero berkata segera setelah kedatangannya: "Kami adalah tim yang di masa depan akan berjuang setiap tahun untuk memenangi gelar-gelar besar".

Ucapan penyerang Argentina itu bukan sekadar pernyataan, karena ia kemudian menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Manchester City. Namun, seandainya pun ia tidak meraih apa pun lagi dengan seragam klub, golnya yang terkenal pada menit 93:20 sudah cukup untuk mengabadikannya dalam sejarah tim, setelah memberikan gelar Liga Primer Inggris kepada City pada musim 2011/12.

Musim yang Kurang Bersinar dan Gelar yang Lari ke United

Namun, bursa transfer Manchester City tidak selalu menampilkan nama-nama besar sekelas Aguero, dan musim 2012/13 datang lebih tenang dari sisi kesepakatan.

Javi Garcia adalah rekrutan paling menonjol, datang dari Benfica dengan mahar sekitar 16 juta pound sterling.

Pada musim itu, Manchester City terpaksa menyaksikan tetangganya, Manchester United, mengamankan gelar Liga Primer Inggris, setelah mengakhiri musim dengan keunggulan 11 poin, sehingga Roberto Mancini pun pergi dari jabatannya.

Fernandinho: Jembatan antara Dua Era

Manchester City kembali dengan kuat pada musim panas 2013, setelah Manuel Pellegrini memimpin proses pembangunan ulang tim yang berakhir dengan raihan ganda.

Pemain Brasil Fernandinho menjadi salah satu rekrutan paling menonjol, setelah datang dari Shakhtar Donetsk dengan mahar 30 juta pound sterling, sebuah nilai yang awalnya terlihat tinggi untuk pemain berusia 28 tahun.

Namun, Fernandinho dengan cepat membuktikan nilainya, menjadi salah satu elemen paling menonjol di tim, dan memainkan peran penting dalam transisi dari era Pellegrini menuju era Pep Guardiola.

Pada jendela transfer berikutnya, Manchester City mengeluarkan 62,42 juta pound sterling lebih banyak daripada dana yang mereka peroleh dari penjualan pemainnya.

Eliaquim Mangala menjadi kesepakatan termahal pada periode itu, setelah menelan biaya 38,75 juta pound sterling bagi klub.

Bek Prancis itu tiba di Inggris di tengah harapan menjadi partner jangka panjang bagi kapten Vincent Kompany, tetapi ia hanya menghabiskan dua musim di Liga Primer Inggris sebelum memulai perjalanan pinjaman yang membawanya berpindah-pindah di sejumlah klub Eropa.

De Bruyne dan Sterling: Awal Gebrakan Besar

Kemudian Manchester City mulai mengeksekusi kesepakatan-kesepakatan besar.

Klub memecahkan rekor mereka di bursa transfer dengan mendatangkan pemain Belgia Kevin De Bruyne dari Wolfsburg seharga 55 juta pound sterling, membuat pemain itu kembali ke Inggris setelah pengalaman sebelumnya bersama Chelsea.

Sejalan dengan itu, City merekrut winger Inggris Raheem Sterling dari Liverpool seharga 44 juta pound sterling, menjadikannya saat itu salah satu pemain Inggris termahal dalam sejarah sepak bola.

Kedatangan Guardiola dan Proyek Memasuki Fase Berbeda

Dengan datangnya Pep Guardiola ke Manchester City, pelatih Spanyol itu tidak butuh banyak waktu untuk mulai membangun tim yang mampu mendominasi selama bertahun-tahun.

Pemain Jerman Ilkay Gundogan menjadi rekrutan pertama Guardiola, setelah bergabung dari Borussia Dortmund dengan mahar sekitar 21 juta pound sterling.

Meski menderita cedera parah pada awal petualangannya, Gundogan kemudian berubah menjadi kapten, pemain yang berulang kali diganjar gelar, dan salah satu gelandang paling berpengaruh dalam sejarah klub.

City juga mendatangkan John Stones dari Everton dengan mahar sekitar 47,5 juta pound sterling, menjadikannya saat itu salah satu bek termahal di dunia.

Kemudian menyusul kesepakatan pemain Jerman Leroy Sane yang datang dari Schalke seharga 37 juta pound sterling, dan winger itu tampil apik di musim pertamanya, di mana ia dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Liga Primer Inggris yang diberikan oleh asosiasi pemain profesional "PFA", pada musim lain yang berakhir dengan Manchester City meraih gelar pada 2017/18.

Kesepakatan Jutaan Pound dan Tim yang Memecahkan Rekor

Namun, Guardiola dan Manchester City tidak berhenti sampai di situ.

Klub terus berbelanja secara agresif di bursa transfer, dan mendatangkan Kyle Walker seharga 45 juta pound sterling, Bernardo Silva seharga 43 juta, serta kiper Ederson seharga 35 juta.

Klub juga mengeluarkan 49,5 juta pound sterling untuk mendatangkan bek kiri Prancis Benjamin Mendy, dan 25,8 juta untuk merekrut pemain Brasil Danilo dari Real Madrid, sebelum Aymeric Laporte tiba pada Januari 2018 seharga 55,9 juta pound sterling.

Hasilnya di atas lapangan pun jelas, di mana Manchester City mengakhiri musim 2017/18 dengan raihan 100 poin, menjadikannya tim pertama dalam sejarah Liga Primer Inggris yang mencapai angka tersebut.

Tim itu tidak berpuas diri sampai di situ, tetapi mengakhiri musim dengan keunggulan penuh 19 poin atas peringkat kedua, sehingga meletakkan fondasi bagi periode dominasi yang akan menjadikan Manchester City salah satu tim tersukses dalam sejarah sepak bola Inggris.

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google