Jose Mourinho: Semoga Arsene Wenger Tidak Pensiun

Komentar()
Getty Images
Mourinho mengaku punya respek yang tinggi terhadap Wenger, kendati sering mengaluarkan banyak komentar pedas.

Jose Mourinho menegaskan bahwa perseteruan panjangnya dengan Arsene Wenger merupakan bentuk respeknya kepada sang manajer Arsenal yang akan pergi pada akhir musim 2017/18 ini.

The Gunners, Jumat (20/4) kemarin, mengonfirmasi bahwa Wenger akan meninggalkan Emirates Stadium selepas musim ini berakhir, yang sekaligus menutup lembar 22 tahun kisah pengabdian sang manajer.

Mourinho memang dikenal sebagai rival panas Wenger, sejak merapat ke Liga Primer Inggris pada 2004, dan sempat menjuluki juru taktik Arsenal itu dengan sebutan 'spesialis gagal' pada 2014 lalu.

Hanya saja, manajer Manchester United tersebut tak setuju apabila komentarnya dianggap melecehkan dan justru menyebut pihak yang tak sepakat dengan ucapannya adalah orang-orang yang tak sejati bergelut di dunia sepakbola.

"Jika ia [Wenger] senang, maka saya senang. Jika ia sedih, maka saya sedih," tutur Mourinho kepada reporter.

"Saya selalu mendoakan yang terbaik bagi para lawan, jadi bagi saya poinnya adalah: jika ia senang dengan keputusannya, jika ia menantikan babak baru dalam karier dan hidupnya, saya turut merasa senang, dan jka ia sedih, maka saya pun demikian."

"Tuan Wenger dan Arsenal merupakan rival terbesar dari era Sir Alex [Ferguson] selama bertahun-tahun. Saya yakin kami akan menunjukkan respek yang memang layak didapatkan tuan Wenger."

Jose Mourinho Arsene Wenger Arsenal Manchester United

Soal komentar pedas yang kerap dilontarkan kepada Wenger, Mourinho menekankan dirinya sama sekali tak pernah menyesalinya.

"Bukan soal menyesal. Saya pikir pertanyaan ini semacam dari seseorang yang tak ada pada sisi ini: bukan seorang manajer atau pun pemain. Anda tak tahu cara menghormati satu sama lain, meski terkadang dalam beberapa momen kami tidka terlihat saling respek," tegasnya.

"Para pemain yang mendapatkan kartu kuning atau kartu merah karena agresi, aksi satu sama lain, kata-kata buruk sepanjang karier, bagi manajer itu hal yang sama: pada akhirnya ada yang saling respek satu sama lain."

"Jadi ada kekuatan lawa kekuatan, kualitas lawan kualitas, ambisi lawan ambisi, tapi pada akhirnya ada orang-orang dari bisnis yang sama akan saling respek satu sama lain. Bukan soal menyesali apa yang sudah terjadi."

"Yang terpenting bagi saya adalah cara saya menghargai seseorang, secara profesional dan karier. Saya selalu katakan, untuk beberapa orang, ingatan itu pendek, tapi bagi kita yang menekuni sepakbola, yang berada di garis sebagai pemain, manajer atau wasit, kami adalah sosok sepakbola sebenarnya."

"Orang-orang sepakbola sejati tak punya ingatan pendek. Saya tahu apa artinya: tiga gelar Liga Primer, tujuh Piala FA, tapi bukan hanya itu - apa yang dilakukannya di Jepang, Prancis dan sepakbola negaranya, pun juga kepada Arsenal meski dalam periode tanpa trofi Liga Primer, transisi dari stadion ke stadion."

"Jika ia senang dengan keputusannya, maka saya akan merasa sangat senang dan semoga ia tidak pensiun dari dunia sepakbola," tukasnya.

 

Artikel dilanjutkan di bawah ini

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Insiden Di Kanjuruhan, Mario Gomez Ingin Komdis PSSI Tegas
2. Balada Sepekan Man United: Dari Heroik Jadi Memalukan
3. Hindari Penyusup, Tiket Persija Kontra Persib Cuma Dijual Untuk Jakmania
4. Sandro Wagner: Bayern Munich Tak Perlu Sembunyi Lawan Cristiano Ronaldo!
5. Tur Signal Iduna Park, Simbol Cinta Abadi Borussia Dortmund

 

Tutup