Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Iklan
FBL-ITA-SERIEA-INTER MILAN-COMOGetty Images
Diterjemahkan oleh

Inter Milan vs Como: Papan taktik, transisi efektif mengatasi permainan penguasaan bola tim tamu

Iklan

Dari sisi taktik, laga ini mempertemukan kematangan struktur permainan dengan ambisi menerapkan permainan posisional. Inter Milan memasuki pertandingan dengan tujuan jelas: memancing Como keluar dari pertahanannya dan memanfaatkan ruang vertikal yang terbuka. Dengan membiarkan Como menguasai bola dalam sebagian besar pertandingan, Inter berupaya melancarkan serangan balik cepat. Mereka mengandalkan keselarasan pergerakan duet penyerang serta lebar permainan yang diberikan kedua bek sayap untuk melewati tekanan lini tengah Como.

Sebaliknya, Como datang ke San Siro dengan tekad menerapkan gaya bermain mereka melalui penguasaan bola yang berkelanjutan dan garis pertahanan tinggi. Pelatih Como mengutamakan keunggulan jumlah pemain di area tengah, menggunakan dua gelandang bertahan untuk mengalirkan bola dan mencari celah di antara lini-lini pertahanan Inter yang rapat. Meski berhasil mengendalikan tempo, kerentanan mereka saat beralih dari menyerang ke bertahan, terutama dalam 20 menit pertama, memperlihatkan risiko taktis dari pendekatan menyerang mereka saat menghadapi tim seefektif Inter.

Skema taktik Inter Milan

Inter Milan menggunakan formasi andalan 3-5-2, yang berjalan dengan presisi khas tim penghuni papan atas klasemen. Dalam membangun serangan, mereka kerap melewati lini tengah sepenuhnya, dengan Manuel Akanji dan Alessandro Bastoni mengirim umpan langsung kepada para penyerang. Inter mulai menekan ketika bek sayap Como, Valle atau Couto, menerima bola sambil membelakangi gawang lawan. Pada saat itu, bek sayap Inter, Federico Dimarco dan Djed Spence, langsung maju untuk menutup ruang.

Saat bertahan, Inter berubah menjadi blok pertahanan rendah 5-3-2. Dengan menjaga jarak antara lini belakang dan lini tengah tetap rapat, mereka memaksa Como mengalirkan bola ke samping tanpa menciptakan ancaman. Blok pertahanan rendah ini menjadi landasan bagi senjata paling berbahaya mereka: serangan balik cepat. Kedua gol berawal dari momen ketika Inter merebut kembali bola. Pada menit ke-12, serangan vertikal cepat menemukan Pio Esposito di kotak penalti untuk mencetak gol dari jarak dekat. Hanya tujuh menit kemudian, Marcus Thuram menggandakan keunggulan dengan memanfaatkan kurangnya perlindungan di lini belakang Como saat mereka beralih dari menyerang ke bertahan. Dengan penguasaan bola hanya 43 persen, rencana Inter bukanlah mendominasi bola, melainkan menguasai ruang-ruang penting. Hasilnya, mereka menciptakan tiga peluang emas, sementara Como tidak menciptakan satu pun.

Iklan
Iklan

Skema taktik Como

Como bermain dengan formasi 4-2-3-1 yang sangat mengutamakan keamanan penguasaan bola dan rotasi posisi. Duet gelandang bertahan Perrone dan Milla ditugaskan menarik para gelandang Inter keluar dari posisinya, sehingga membuka ruang bagi Nico Paz. Paz menjadi pusat serangan Como dan kerap bergerak di antara lini untuk menerima bola, sebagaimana terlihat dari tiga tembakannya dan keterlibatannya yang tinggi di sepertiga akhir lapangan. Struktur pertahanan Como juga ambisius: mereka mempertahankan garis pertahanan tinggi agar tim tetap rapat dan mendukung tekanan segera setelah kehilangan bola.

Topik Terkait

Namun, garis pertahanan tinggi itu justru menjadi kelemahan mereka. Meski menguasai bola 57 persen dan menyelesaikan 595 umpan dengan akurasi 91 persen, mereka kesulitan mengubah kendali tersebut menjadi serangan yang mampu menembus pertahanan Inter. Jacobo Ramón berperan penting dalam membangun serangan dengan mencatatkan 82 umpan akurat, tetapi Inter tidak memberi ruang di area tengah. Akibatnya, Como kerap terpaksa mengirim umpan silang dengan peluang keberhasilan kecil atau mengandalkan tembakan jarak jauh Paz. Tekanan mereka penuh energi, tetapi kurang intens di sepertiga akhir lapangan untuk mengusik trio bek Inter. Kiper Robert Sánchez pun terekspos setiap kali tekanan awal Como berhasil dilewati lewat umpan panjang ke depan.

Adu taktik

Pertarungan penentu terjadi dalam fase transisi. Identitas taktis Como dibangun di atas gagasan ‘mengendalikan permainan lewat penguasaan bola’, tetapi pelatih Inter Milan tepat melihat bahwa kendali juga bisa diraih dengan ‘menutup ruang’. Pertentangan pendekatan itu terlihat jelas: Como menginginkan permainan lambat dan berirama untuk membongkar pertahanan, sedangkan Inter menginginkan permainan cepat dan langsung ke depan untuk memanfaatkan garis pertahanan tinggi Como. Inter memenangkan pertarungan ini karena nyaman bermain tanpa banyak menguasai bola.

Iklan

Duet penyerang Inter, Thuram dan Esposito, bermain lebih merapat ke tengah daripada biasanya. Mereka menahan bek-bek tengah Como agar tidak maju ke lini tengah untuk mendukung serangan. Situasi ini menimbulkan masalah bagi struktur pertahanan Como saat menyerang: setiap kali kehilangan bola, jumlah pemain mereka di belakang seimbang dengan Inter atau bahkan kalah jumlah. Efisiensi Inter sangat mencolok. Mereka mencatatkan xG 1,86 meski melepaskan lebih sedikit tembakan daripada Como. Ini menunjukkan bahwa kualitas peluang yang mereka ciptakan jauh lebih baik dibandingkan hasil dari besarnya penguasaan bola Como.

Penyesuaian selama pertandingan

Cesc Fabregas berupaya mengatasi kesulitan Como menembus pertahanan lawan dengan memasukkan Samuele Ricci dan Ivan Smolcic saat turun minum. Perubahan ini ditujukan untuk memberikan stabilitas pertahanan yang lebih baik dalam menghadapi serangan balik, sekaligus menambah tenaga baru di lini tengah untuk mengganggu umpan-umpan Inter yang mengawali serangan. Penyesuaian tersebut memang membantu Como mempertahankan tekanan pada fase akhir pertandingan, tetapi kerusakan sudah terjadi pada babak pertama.

Iklan

Cristian Chivu merespons dengan serangkaian pergantian pemain yang pragmatis seiring berjalannya pertandingan. Masuknya Henrikh Mkhitaryan menggantikan Piotr Zielinski pada menit ke-72 menambah ketenangan pemain berpengalaman di lini tengah dan membantu meredam momentum pertandingan. Kemudian, masuknya Benjamin Pavard menggantikan Marcus Thuram pada menit ke-88 menandai peralihan ke pertahanan penuh, yang secara efektif membentuk formasi 5-4-1, demi memastikan Inter tidak kebobolan. Perubahan-perubahan ini bersifat reaktif tetapi efektif. Inter mampu meredam ancaman bola udara Como dari sepak pojok pada menit-menit akhir dan membatasi tim tamu pada upaya jarak jauh yang nyaris tidak menguji Josep Martínez.

Kesimpulan

Pada akhirnya, pertandingan ditentukan oleh pemahaman Inter Milan yang lebih baik dalam memanfaatkan ‘momen’. Meski permainan Como lebih enak ditonton dari segi kemampuan mempertahankan penguasaan bola, Inter lebih unggul secara taktis dalam mengenali dan memanfaatkan kelemahan struktur lawan. Keputusan untuk bermain reaktif dengan mengandalkan transisi memungkinkan Inter mencetak dua gol sebelum Como sempat menyesuaikan ketinggian garis pertahanannya. Efisiensi mengalahkan besarnya penguasaan bola. Penyelesaian akhir Inter yang tajam dan disiplin mereka dalam menerapkan blok pertahanan rendah membuat 595 umpan Como sekadar menjadi catatan statistik, bukan jalan menuju kemenangan.