Jack Wilshere Estonia EnglandGetty Images

FOKUS: Lima Pelajaran Inggris Dari Kualifikasi Euro 2016


GOALOLEH    ADHE MAKAYASAIkuti di twitter

Pasukan Inggris arahan Roy Hodgson mencatatkan sejumlah hasil baik untuk menempatkan mereka di posisi teratas klasemen Grup B babak kualifikasi Euro 2016.

Dari tiga pertandingan yang telah dijalani seperti melawan Swiss, San Marino dan Estonia, The Three Lions mendulang sembilan angka absolut dengan gawang mereka yang tidak pernah kemasukan satu gol pun.

Di laga semalam, Inggris yang dikapteni Wayne Rooney sukses menaklukkan tuan rumah Estonia untuk menjaga torehan 100 persen kemenangan selagi sang kapten yang muncul sebagai pahlawan dengan lesakan gol tunggal lewat tendangan bebas.

"Kami sudah tahu bagaimana laga ini akan berjalan. Kami tahu ini adalah laga sulit dengan pemain-pemain lawan di belakang bola dan sulit untuk menerobos mereka," ujar striker Manchester United itu usai pertandingan kepada BBC Sport.

"Ini kemenangan bagus. Untuk proses gol, itu sangat dekat jadi saya fokus menendang bola melewati pagar betis. Kami juga bermain baik, hal yang menyenangkan adalah kami memiliki tim muda dan kami bertahan di sana," tandas Wazza.

Terlepas awalan baik yang dicatatkan tim muda tersebut, Goal Indonesia mencatat setidaknya ada lima pelajaran penting yang bisa dipetik dari perjalanan Inggris di babak kualifikasi Euro 2016. Selamat menyimak!

Wayne Rooney Semakin Dewasa


Dibebani kepercayaan sebagai kapten menyusul pensiunnya Steven Gerrard, seorang Wayne Rooney tak canggung untuk langsung membuktikan diri sebagai pemain sentral di timnya dengan memikul tanggung jawab penuh di lini depan.

Dari tiga laga perdana, sang pemain, yang pada 25 Oktober nanti genap berusia 29 tahun, sukses memberi sumbangsih nyata dengan gelontoran dua gol dan dua assists sebagaimana eksekusinya dari tendangan bebas mampu memberi Inggris kemenangan 1-0 atas Estonia di pertandingan semalam.

Meski pada waktu muda emosinya sering meluap, Rooney terlihat sudah mampu mengendalikan diri bahkan gelandang seperti Jack Wilshere menilai pria gempal tersebut kini bagaikan sosok ayah di timnas.

“Dia adalah pemimpin alami. Bahkan ketika Steven Gerrard masih menjabat kapten, suara Rooney begitu dominan di ruang ganti. Dia selalu memberi semangat dan tak pernah ragu menegur jika seorang pemain melakukan kesalahan,” ujar Wilhsere kepada The Sunday People.

“Dia satu-satunya pemain di skuat yang sudah bermain bagi Inggris selama sepuluh tahun. Kini, dia seperti seorang figur ayah. Dia merangkul kami semua. Sikapnya selalu sama sejak saya masuk ke skuat ini. Dia selalu menjadi pemain pertama yang datang saat latihan. Rasa laparnya tidak pernah berubah,” ujarnya.

Perlunya Mencoba Opsi Lain Di Lini Depan


Inggris saat ini bermaterikan sejumlah pemain muda yang sarat pengalaman bermain di level sepakbola tertinggi, Dari sekian banyak pilihan yang tersedia, manajer Roy Hodgson memilih untuk memercayakan lini depan kepada Danny Welbeck yang ditunjang oleh Rooney.

Welbz - julukan untuk Welbeck - memang sukses mengemas tiga gol di babak kualifikasi ini, namun ia terlihat kesulitan untuk menembus barisan pertahanan Estonia yang bermain begitu ketat di laga semalam.

Posisi penyerang Arsenal itu lantas digantikan oleh seorang pemain cadangan senior Liverpool, Rickie Lambert, di menit ke-80, dengan mantan juru gedor Southampton itu yang gagal memberikan pengaruhnya untuk tim di sepuluh menit tersisa.

Berkaca dari hal itu, alangkah baiknya jika Hodgson mulai melirik pada opsi lainnya yang jauh lebih cemerlang seperti pemain muda West Bromwich Albion Saido Berahino, yang di musim ini berhasil mengemas enam gol dan satu assist dari sembilan penampilan di semua kompetisi.

Habis Lampard & Gerrard, Terbitkan Wilshere


Pasca ditinggal gelandang jempolan seperti Frank Lampard dan Steven Gerrard yang sama-sama telah memutuskan pensiun, Inggris praktis – dan sepatutnya – menggantungkan harapan pada seorang Jack Wilshere.

Sebelum ini, sang juru taktik kerap merotasi lini tengahnya dalam pola diamond, namun Wilshere harus ditempatkan sebagai pemain utama yang mengatur permainan mengingat ia memiliki bakat dan akan masuk akal untuk memainkannya dalam peran tersebut.

Di pertandingan semalam, Wilshere begitu luwes dalam mengorganisir penyerangan dan terlibat di hampir setiap jengkal lapangan dengan ia yang mencatatkan 66 sentuhan di area lawan dan 36 sentuhan di areanya sendiri.

Dengan catatan seperti itu, Hodgson kiranya tidak perlu pusing mengingat ia sudah memiliki calon jenderal lini tengah yang bisa diandalkan setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.

Lini Belakang Mulai Bertransformasi


Setelah bertahun-tahun dihuni sejumlah penggawa senior seperti John Terry, Rio Ferdinand hingga Ashley Cole, Inggris kini memiliki wajah yang tergolong fresh di lini belakang dengan mulai dipatenkannya sosok macam Gary Cahill, Phil Jagielka dan juga Leighton Baines.

Di pertandingan melawan Estonia, barisan pertahanan itu kembali sukses membantu kiper Joe Hart untuk mencatatkan clean sheet ketiga secara beruntun selagi sosok Calum Chambers yang melengkapi backfour The Three Lions di sektor kanan.

Manajer Hodgson sepertinya sudah memiliki rencana untuk mulai membangun skuat yang baru, salah satunya adalah memanggil full-back muda Southampton Nathaniel Clyne, meski yang bersangkutan harus puas menyaksikan rekan-rekannya dari bangku cadangan.

Untuk saat ini, opsi di lini pertahanan begitu melimpah mengingat mereka yang masih memiliki seorang Luke Shaw di tim U-21 dan juga Phil Jones serta Chris Smalling yang tengah absen karena cedera.

Pengaturan Akomodasi Harus Diperhatikan


Menyusul kegagalan mereka di Piala Dunia 2014 kemarin, tim nasional Inggris kini mulai memisah rombongan pemain Roy Hodgson beserta sejumlah asisten olahraga dari rombongan FA yang lain di laga tandang yang ditujukan untuk menjaga fokus tim.

Sebagai hasilnya, pihak FA harus memesan dua hotel di Tallinn sebelum kualifikasi hari Minggu melawan Estonia guna memastikan staf administratif berada di hotel terpisah dari pasukan Hodgson – bahkan ketika The Three Lions menginap untuk satu malam.

Kebijakan dua hotel ini, yang mana juga digunakan di Basel jelang laga menghadapi Swiss, merupakan buah dari sejumlah bencana yang mereka alami sewaktu di Brasil.

Hodgson sekali waktu menekankan bahwa terlalu banyak personel FA dan staf asosiasi yang berada di sekitar pemain selama Piala Dunia, terutama saat acara makan dan hari pertandingan – sehingga ia merasa perlu untuk memisah hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan timnya.

Meski kini masih dalam perjuangan untuk lolos ke Prancis pada 2016 mendatang, pihak FA juga harus mencari tempat terbaik agar kejadian perjalanan jauh dari penginapan menuju stadion seperti Piala Dunia kemarin tidak terulang.


Get Adobe Flash player


Liga Primer Inggris>> Halaman Khusus Sepakbola Inggris
>> Berita Sepakbola Inggris Lainnya
>> Semua Klub EPL & Panduan 2014/15
>> Klasemen Liga Primer Inggris
>> Jadwal & Hasil Liga Primer Inggris
>> Daftar Transfer Liga Primer Inggris
>> Rapor Pemain Liga Primer Inggris


Iklan
0