FIFA akan kembali meninjau aturan jeda minum yang menjadi perbincangan hangat di Piala Dunia kali ini. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Arsène Wenger, kepala pengembangan sepak bola global, dalam sebuah konferensi pers. Kebijakan tersebut memicu perdebatan sepanjang turnamen.
Sebelum Piala Dunia dimulai, sudah ada seruan untuk menyisipkan jeda minum saat suhu tinggi, demi melindungi kesehatan para pemain. Namun, pada akhirnya FIFA memutuskan untuk menerapkan apa yang disebut “hydration breaks” secara standar di setiap pertandingan.
Hal ini segera menuai kritik. Banyak penonton dan analis menganggapnya tidak perlu pada pertandingan di stadion tertutup atau saat suhu lebih rendah, di mana kondisi di lapangan sebenarnya tidak mengharuskannya.
Selain itu, muncul kekesalan karena stasiun TV memanfaatkan jeda tersebut untuk menayangkan blok iklan. Juga sering disarankan bahwa para pelatih memanfaatkan jeda tersebut untuk memberikan instruksi tambahan, yang berpotensi memengaruhi jalannya pertandingan.
Wenger mengakui bahwa langkah tersebut tidak diterima dengan baik di semua tempat. “Dalam banyak pertandingan di stadion tertutup, orang-orang tidak senang dengan hal itu. Namun, menjelang dimulainya Piala Dunia, diputuskan untuk melakukannya di setiap pertandingan,” jelasnya.
Menurut pelatih asal Prancis itu, dampaknya terhadap hasil pertandingan tetap terbatas. “Saya tidak merasa hal itu memengaruhi hasil, tetapi kami di sini melayani para penonton sepak bola dan kami akan menarik kesimpulan setelah Piala Dunia.”
Dengan evaluasi tersebut, FIFA tampaknya sudah memberikan ruang untuk penyesuaian menjelang turnamen-turnamen mendatang. UEFA sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak ingin menerapkan jeda minum dalam turnamen-turnamen besar seperti Kejuaraan Eropa dan Liga Champions.

