Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Banner ID - EPL ManagerGoal

Arsenal, Spesialis Lari Jarak Pendek


OLEH    YUDHA DANUJATMIKAIkuti di twitter

Liga Primer Inggris ibarat maraton atau lari jarak jauh. Dengan adanya 38 pertandingan dalam satu musim, klub paling konsisten dan mampu menjaga performa yang pada akhirnya menggendong trofi juara. Chelsea, dengan mengantongi 87 poin dalam 36 laga, telah resmi menjadi pelari pertama yang mencapai garis finis.

Kepemilikan The Blues atas tangga juara pertama maraton memang tak bisa diganggu gugat, namun maraton itu sendiri belum usai. Masih ada deretan klub yang berlomba-lomba untuk merebut hadiah menarik lain atau sekadar memenuhi ambisi pribadi. Secara khusus, persaingan paling menarik bisa disimak di peringkat tiga hingga enam – perebutan zona Liga Champions.

Selebrasi Juara ChelseaGetty Images

Chelsea lebih dulu sampai ke garis finis.

Secara hitam di atas putih, Tottenham Hotspur sudah mengklaim zona Liga Champions sehingga hanya dua tempat lagi yang tersisa. Ada empat klub yang masih berjuang untuk mengamankan dua kursi tersebut, yakni Liverpool, Manchester City, Arsenal, dan Manchester United. Melihat klasemen, tentu Liverpool (peringkat tiga) dan Man City (peringkat empat) sejauh ini jadi unggulan.

SIMAK JUGA - Chelsea Juara, Henry Sindir Arsenal

Adapun dalam periode akhir maraton ini, dua raksasa itu wajib waspada. Posisi mereka sama sekali belum aman karena secara matematis, Gunners dan Red Devils masih mampu mengejar. Namun bukan cuma hitung-menghitung yang akan membuat waspada, melainkan track record Arsenal. Klub asuhan Arsene Wenger itu punya catatan menakutkan di lima laga terakhir – spesialis lari jangka pendek yang siap menyalip pesaing-pesaing di depannya.

GFXID - Arsenal Sprint

Tidaklah berlebihan jika menyebut Arsenal sebagai spesialis lari jangka pendek. Catatan sejak empat musim lalu memang menunjukkan hal itu. Dari 20 laga yang melibatkan lima pertandingan terakhir sejak empat musim lalu, Wenger memetik 41 poin dengan rata-rata 2,05 poin per laga. Hanya satu kekalahan yang mereka raih dalam periode tersebut.

Pekan ke-34 musim 2012/13, empat tahun lalu, Arsenal duduk di peringkat keempat dan Spurs yang memiliki satu simpanan pertandingan berpeluang mendahului. Adapun Gunners memamerkan keahlian di menit akhir. Empat kemenangan dan satu hasil imbang (13 poin) diraih di lima laga sisa dan finis keempat diamankan.

SIMAK JUGA - Welbeck Masuk Radar Galatasaray

Musim selanjutnya, Wenger lebih menggila. Mungkin karena posisi Arsenal lebih terdesak. Di lima laga tersisa, mereka terdampar di peringkat lima dan Everton unggul dua poin di atasnya. Ternyata keunggulan mental Arsenal itu kembali didemonstrasikan. Lima laga tersisa disapu bersih dan Arsenal sukses mengkudeta Everton yang lengah.

Pencapaian ini tidak berlanjut di tahun berikutnya. Arsenal justru melewati periode lima laga terburuk di musim 2014/15. Mereka hanya meraih delapan poin dari lima laga dengan satu kekalahan. Sempat duduk di posisi runner-up, pasukan Wenger akhirnya tergelincir ke peringkat ketiga.

SIMAK JUGA - Wenger Bingung Pilih Striker

Situasi yang sama nyaris terulang di musim lalu, ketika Leicester City secara mengejutkan menggendong trofi juara Liga Primer. Arsenal duduk di tempat ketiga ketika laga tersisa lima, tapi Manchester City dan Manchester United mengekor dengan selisih poin tipis. Seolah-olah enggan kehilangan tempat keempat, Arsenal tampil apik dan mengantongi 11 poin untuk finis runner-up.

Musim ini, situasi yang tercipta kurang lebih serupa dengan 2014/15. Arsenal duduk di tempat kelima dan persaingan masih ketat hingga peringkat keenam. Posisi Gunners sangat terancam, tapi kekuatan mental mereka berhasil mengamankan tiket Liga Champions. Ada sedikit aroma déjà vu yang tercium di musim ini – apalagi dua klub di atas kepala Arsenal sama-sama inkonsisten.

Arsene Wenger Arsenal FA Cup

Sang Profesor punya mentalitas menit akhir yang luar biasa.

Mentalitas Arsenal jadi sorotan dalam momen ini. Walau tak punya cukup konsistensi untuk juara, Wenger selalu gigih menekankan status Arsenal sebagai bagian dari big four. Sang Profesor selalu mampu memacu anak asuhnya untuk berlari sekencang mungkin di 100 meter terakhir maraton Liga Primer. Aura positif pun selalu memenuhi ruang ganti di akhir musim.

Skenario yang sama bisa Anda bayangkan kembali terjadi musim ini. Arsenal memang sempoyongan di tengah musim dan tergelincir beberapa kali di sepertiga akhir. Namun di tengah situasi tertekan itu, Wenger mampu membawa timnya menang atas sesama pesaing empat besar, Manchester United, dan Southampton hanya dalam kurun waktu tiga hari.

SIMAK JUGA - Arsenal Ikut Buru Zaha

Klasemen menunjukkan bahwa Arsenal ada dalam posisi tidak menguntungkan. Namun Liga Primer seringkali bicara lebih dari sekadar angka. Wenger punya pengalaman dan mental baja yang terjamin di saat sulit. Mereka bisa menyingkirkan segala rintangan yang ada di depan, tanpa pandang bulu. Hal ini yang kiranya belum dimiliki oleh Liverpool, dan catatan ini menjadikan mereka paling tidak favorit untuk finis di empat besar.

Tampaknya Arsenal memang diciptakan untuk menang di akhir musim. Pencapaian mereka di periode akhir maraton Liga Primer memang istimewa. Tak peduli sekacau apa pun enam bulan terakhir, Gunners selalu bisa mengakhirinya dengan elegan – tak terkecuali di musim yang sesengit ini, mereka tetap jadi favorit finis di empat besar.

Menengok catatan spesial ini, mungkin Arsenal bisa meraih treblewinner jika (dan hanya jika) Liga Champions, Liga Primer, dan Piala FA hanya digelar di lima pekan terakhir. Mungkin …

Banner ID - EPL ManagerGoal
Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google