Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) memutuskan untuk merevisi Pasal 27 dalam regulasi disiplinnya, setelah polemik luas yang dipicu oleh kasus pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Pemain tersebut diizinkan tampil dalam salah satu laga Piala Dunia meski telah diusir pada pertandingan sebelumnya, sebuah keputusan yang memicu protes dari Federasi Sepakbola Belgia dan mendorong mereka menuntut penjelasan resmi mengenai latar belakang kasus tersebut.
Menurut laporan jaringan RMC asal Prancis, Federasi Belgia kembali membuka berkas kasus ini dalam rapat Dewan FIFA yang digelar pada Kamis di Zurich, sekitar tiga bulan setelah pertandingan antara Belgia dan Amerika Serikat, negara yang turut menjadi tuan rumah turnamen tersebut.
Federasi Belgia menegaskan bahwa FIFA menyetujui revisi pasal kontroversial tersebut, dan usulan perubahan itu akan diajukan kepada Dewan FIFA pada rapat berikutnya untuk disahkan.
Krisis Balogun memunculkan keraguan soal penerapan regulasi
Krisis ini dimulai setelah Balogun diusir dalam pertandingan antara Amerika Serikat dan Bosnia-Herzegovina di babak 16 besar, yang berakhir dengan kemenangan timnas Amerika Serikat 2-0.
Meski kartu merah secara otomatis mengharuskan larangan bermain pada pertandingan berikutnya, dengan kemungkinan sanksi diperberat kemudian, hukuman larangan bermain itu dicabut sehingga ia bisa tampil melawan Belgia di babak 8 besar.
Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan timnas Belgia 4-1, namun penampilan Balogun meski telah diusir pada laga sebelumnya menimbulkan pertanyaan soal dasar hukum keputusan tersebut, terutama di tengah pembicaraan mengenai intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Gianni Infantino, Presiden FIFA, terkait kasus ini.
Trump sebelumnya secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam perkara tersebut, meskipun regulasi FIFA menegaskan independensi badan-badannya dan melarang intervensi politik dalam urusan federasi.
FIFA membenarkan keputusannya dengan merujuk pada Pasal 27 dalam regulasi disiplinnya, yang memberi kewenangan kepada Komite Disiplin untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi yang telah dijatuhkan sebelumnya.
Dalam pernyataan sebelumnya, Ketua Komite Disiplin berupaya menjelaskan dasar yang digunakan untuk mengubah larangan bermain otomatis Balogun menjadi hukuman dengan penangguhan pelaksanaan, namun penjelasan itu tidak mengakhiri pertanyaan mengenai kondisi luar biasa yang mengarah pada keputusan tersebut.
Federasi Belgia menuntut jawaban jelas dari FIFA
Dalam rapat Dewan FIFA pada Kamis, Pascale Van Damme, Presiden Federasi Sepakbola Belgia dan anggota Dewan FIFA, mengajukan tiga pertanyaan terkait kasus ini, menuntut penjelasan mengenai prosedur pengambilan keputusan serta jaminan agar kasus semacam ini tidak terulang.
Pertanyaan yang diajukan Federasi Belgia mencakup hal-hal berikut:
1- Apakah FIFA dapat menjamin tidak adanya intervensi, dari pihak mana pun, dalam proses disiplin terkait kasus ini, mengingat Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengakui keterlibatannya?
2- Apa kondisi luar biasa yang menyertai kasus Balogun, dan kriteria apa yang diterapkan saat mengaktifkan Pasal 27 dalam kasus-kasus serupa?
3- Apakah FIFA dapat menjamin hak federasi anggota untuk didengar pandangannya mengenai seluruh keputusan yang diambil badan-badan disiplin FIFA di masa mendatang?
Menurut pernyataan Federasi Belgia, FIFA menegaskan bahwa keputusan badan-badan disiplin diambil secara independen, serta mengakui adanya kebutuhan untuk merevisi Pasal 27 dan mengupayakan perumusan perubahan regulasi.
Revisi Pasal 27 akan diajukan ke Dewan FIFA berikutnya
Pernyataan Federasi Belgia menyebutkan: "FIFA menegaskan bahwa seluruh keputusan diambil secara independen oleh badan-badan disiplin. Sebagai tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan ini, FIFA juga menegaskan bahwa Pasal 27 akan direvisi, dan proses perubahan regulasi sedang berjalan."
Pernyataan itu menambahkan: "Usulan revisi akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan dalam rapat Dewan FIFA berikutnya. Tercatat pula bahwa administrasi FIFA akan kembali membahas kondisi khusus dalam kasus Balogun."
Pascale Van Damme menyambut baik langkah ini, dan menilai bahwa penegasan FIFA soal niatnya merevisi pasal tersebut merupakan kemajuan dalam perkara ini, terutama karena Federasi Belgia sebelumnya telah menuntut perubahan tersebut pada Juli lalu.
Van Damme mengatakan: "Penegasan FIFA bahwa Pasal 27 akan direvisi, sebagai tanggapan atas permintaan yang sudah kami ajukan pada Juli, merupakan langkah penting."
Ia menambahkan: "Usulan revisi, bersama penjelasan mengenai kondisi khusus dalam kasus Balogun, akan diajukan di Doha. Namun bagi kami, persoalan ini tidak berhenti di situ. Kami tidak hanya ingin regulasinya direvisi, tetapi juga ingin kejelasan mengenai cara penerapannya."
Presiden Federasi Belgia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa transparansi, kepastian hukum, dan tata kelola yang baik harus menjadi dasar setiap keputusan yang diambil dalam sepakbola internasional, serta menekankan bahwa federasinya akan terus memantau kasus ini secara saksama.





