Perbandingan yang terus bermunculan soal Madjo adalah dengan mantan striker Chelsea dan Inter, Lukaku, tetapi terlalu berlama-lama pada hal itu justru meremehkan ragam talenta yang dimiliki pemain muda tersebut.
"Profilnya mirip," aku direktur FA Luksemburg, Cardoni. "Namun, meski kami tetap berpijak di bumi, Brian punya profil yang lebih komplet [daripada Lukaku], karena dia bagus di ruang sempit, sangat bagus dalam hal permainan posisi. Dia juga bagus dalam melakukan pergerakan di belakang lini lawan, dan dia juga bisa menyuplai bola dengan kedua kaki. Dia punya ruang berkembang yang sangat besar."
Pemolesan teknis itu mungkin merupakan hasil dari keputusan Cardoni yang memaksanya bermain di lini tengah sentral.
Saat ditanya apakah dia benar-benar menikmati periode bermain di lini tengah pada level U14 itu, Madjo tertawa. "Tidak juga, tapi bagaimanapun... saya harus mempersiapkan diri untuk bermain melawan pemain senior yang ukurannya sama seperti saya. Di level itu, Anda tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan alami. Anda harus punya kelebihan lain."
Hal itu membantu membentuknya menjadi penyerang yang komplet. Alih-alih memburu gol, Madjo bangga pada pergerakannya tanpa bola dan pressing-nya.
"Pertama, saat membelakangi gawang, saya fokus pada bola-bola pantul, tetapi juga pada bermain ke depan," katanya soal kekuatannya. "Saya berusaha punya visi dan kecerdasan bermain. Saya lebih suka tampil bagus dan tidak mencetak gol daripada mencetak gol lalu terus kehilangan penguasaan bola. Tim adalah yang utama."
Kemampuannya mempertahankan bola meninggalkan kesan mendalam pada legenda Luksemburg dan mantan striker Metz, Nico Braun, yang dibuat takjub saat remaja itu tiba di Prancis.
"Saya melihat rekamannya, saya melihat dia melindungi bola, saya melihat kontrol bolanya, yang dia lakukan tidak seperti siapa pun di Metz," kata Braun. "Saya melihat betapa cepat Anda harus bangun untuk merebut bola itu darinya, dan saya tidak bisa membayangkan hal lain selain ini: dia akan punya karier yang hebat!"
Sementara Madjo menerima perbandingan dengan Lukaku dengan sering menonton cuplikan pemain Belgia itu sebelum pertandingan, ia membentuk permainannya berdasarkan pemain lain. Dia mengatakan menganalisis pergerakan Brian Brobbey, Robert Lewandowski, dan Karim Benzema, terus mencari untuk menambahkan dimensi baru pada permainannya yang sudah membuat bek-bek senior ketakutan.