PROFIL: Sepuluh Hal Menarik Tentang Ferry Rotinsulu

Berikut sepuluh hal menarik tentang kiper Ferry Rotinsulu:
Oleh Yuslan Kisra

Wajah tampan dan prestasi lumayan membuat ia menjadi salah satu pesepakbola nasional yang memiliki banyak penggemar. Hal itu pula yang membuat beberapa perusahaan appareal (penyedia perlengkapan olahraga) tertarik untuk menjadikannya sebagai ikon. Salah satunya Umbro, perusahaan alat olahraga terkenal asal Inggris.   

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, kiper kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 28 Desember 1982, ini terus menjadi bintang iklannya, bersama beberapa pemain sepakbola nasional lainnya. Terlebih setelah ia sukses mengatar Sriwijaya Football Club (SFC) meraih juara Liga dan Copa Indonesia musim 2007 lalu.

Hanya saja, hal itu tidak dibarengi dengan penampilan cemerlang. Ia justru sering melakukan blunder yang membuatnya menjadi kiper kedua setelah Markus Horison Ririhina. Akibatnya, kiper bertinggi badan 182 cm dan berat 69 kg ini selalu menduduki bangku cadangan di timnas. Kecuali di klubnya SFC.

Posisinya sebagai kiper utama di Laskar Wong Kita sepertinya masih sulit untuk digusur, setidaknya hingga putaran kedua Superliga 2008/09, kompetisi paling bergengsi di tanah air musim ini. Tapi sebetulnya, masih banyak hal menarik tentang diri penjaga gawang bernomor punggung 22 ini, sepuluh di antaranya:

10. Mengawali karir bermain sepakbola di level profesional dengan bergabung di Persipal, Palu, sejak 1999. Empat musim tampil bersama klub di tanah kelahirannya itu, ia hengkang ke Persijatim Solo FC pada musim 2003 yang seterusnya hingga klub tersebut berubah nama menjadi Sriwijaya Football Club (SFC) dan musim ini tampil di Superliga 2008/09.

9. Menjadi penjaga gawang sebetunya bukan keinginannya sejak awal. Sebab, saat pertama kali memasuki diklat sepakbola, ia adalah seorang striker. Tapi dengan postur tubuhnya yang ideal sebagai kiper, ia pun mencoba menjajal posisi itu. Dan akhirnya, ia menekuninya yang membuat karirnya melejit.

8. Pilihannya untuk menjadi kiper rupanya sangat tepat. Dengan keberanian dan pergerakannya yang lincah serta ditunjang postur tubuh, ia mampu tampil dengan baik. Tak heran, jika ia mendapat kepercayaan untuk mengawal gawang timnas Indonesia, sejak masih junior dan tampil bersama timnas U-23.

7. Kesempatan untuk menambah kemampuannya menjadi penjaga gawang ia peroleh setelah terpilih dalam proyek pemusatan latihan (Pelatnas) timnas junior ke Belanda. Hanya saja, karena umurnya telah lewat, sehingga dia tidak bisa seterusnya berlatih di Negeri Kincir Angin tersebut.

6. Tampil luar biasa saat mengantar SFC meraih double winner (juara Liga dan Copa) Indonesia musim lalu membuat ia dibandingkan dengan kiper timnas Italia  Buffon, yang tak lain adalah idolanya sendiri. Apalagi karena kemenangan yang diraih SFC merupakan kerja kerasnya menahan dua tendangan penalti pemain Persipura Jayapura, ketika bentrok di final Liga Indonesia dalam drama adu penalti.

5. Walau tidak terpilih sebagai pemain terbaik Copa Indonesia 2007 yang jatuh ke tangan Bambang Pamungkas, ia tidak kecewa dan tetap bangga bisa membawa klubnya SFC untuk pertama kalinya merebut salah satu gelar bergengsi di tanah air. Terlebih karena mampu menyadingkan gelar Liga Indonesia.

4. Ketangguhannya di bawah mistar gawang SFC pada musim 2007 silam membuat para striker tim lawan frustrasi. Sebab tak jarang aksi cemerlang yang mestinya berujung gol berhasil di gagalkannya. Ia pun hanya  kebobolan 12 gol pada putaran kedua musim itu, dan hanya terpaut dua gol dengan kiper PSMS Medan Markus Horison yang baru kebobolan sepuluh gol.

3. Cemerlang di klub tidak membuatnya bisa menjadi kiper nomor wahid di tanah air. Ia bahkan sulit untuk menaningingi keperkasaan kiper utama Markus Horison. Parahnya, karena hal itu sudah berlangsung beberapa musim. Di mana dia selalu menjadi kiper cadangan Markus

2. Meski menjadi bintang di SFC, tapi perlakuan kasar dan caci maki dari pendukung setia tim tersebut beberapa kali dialaminya. Salah satunya ketika ia bersama rekan-rekannya baru saja tiba di Palembang, usai menjalani laga away, ia diejak dengan kata-kata kotor oleh salah seorang warga Palembang. Kontan hal itu membuatnya marah, dan hampir saja ia menyerang pengejek tersebut.

1. Emosinya yang terkadang masih labil memang membuat dia kerap kehilangan kontrol. Hal itu pula yang menyebabkan penampilannya di lapangan belum bisa konsisten. Padahal hal tersebut berlawanan dengan karakter sesungguhnya. Ia merupakan salah satu pesepakbola nasional yang penyabar dan tidak banyak tingkah.