GettyPerjalanan ke puncak tak lepas dari kritik
Virgil van Dijk menempuh jalur panjang nan berliku-liku sebelum mencapai puncak sepakbola dunia. Dari Groningen, Celtic, hingga Southampton, ia akhirnya berlabuh di Liverpool pada Januari 2018 dengan nilai transfer fantastis £75 juta. Sejak itu, ia telah meraih gelar Liga Inggris dan Liga Champions bersama The Reds.
Musim ini, Liverpool mengalami sedikit goyangan meski berbelanja gila-gilaan pada musim panas 2025. Situasi itu memicu kritik dari berbagai pihak, dan Van Dijk bahkan sempat terlibat adu argumen verbal dengan legenda Manchester United, Wayne Rooney.
Getty/GOALVan Dijk minta eks pemain lebih bijak
Berbicara kepada legenda Manchester United lainnya, Gary Neville, Van Dijk menyampaikan pandangannya kepada Sky Sports tentang peran mantan pemain dalam menyampaikan kritik: “Secara pribadi, saya bisa menghadapinya. Tapi saya agak khawatir dengan generasi berikutnya. Saya merasa para mantan pemain top punya tanggung jawab terhadap generasi baru."
“Kritik itu wajar dan bagian dari permainan, dan seharusnya tetap ada. Tapi kadang kritik berubah jadi clickbait, sekadar provokasi, tanpa memikirkan dampaknya terhadap kondisi mental pemain, terutama pemain muda yang terus hidup di media sosial. Orang bisa saja bilang, ‘ya jangan main media sosial’, itu sudah sering saya sampaikan pada mereka."
“Masalahnya, ketika bermain bagus, pemain muda akan melihat semua pujian. Tapi saat tampil buruk dan di-bully habis-habisan di media sosial atau menerima kritik keras, itu bisa sangat memengaruhi mereka. Saya pernah melihat hal itu terjadi pada beberapa pemain di masa lalu dan sekarang, karena memang tidak mudah."
“Ke depan, situasinya bisa semakin buruk. Platform sekarang penuh clickbait dan judul sensasional, semua orang terus terpapar. Saya rasa, khususnya mantan pemain profesional yang sudah melalui segalanya, punya tanggung jawab untuk sedikit melindungi sisi itu juga. Itu hal yang perlu dipikirkan.”
Usai pensiun, Van Dijk mau jadi pandit atau pelatih?
Saat ditanya apakah ia tertarik menjadi pandit atau pelatih setelah pensiun, Van Dijk menjawab dengan jujur: “Saya tidak akan pernah bilang tidak mungkin, karena saya merasa punya platform untuk mengatakan atau melakukan hal yang benar. Tapi saya tidak melihat diri saya sebagai pandit."
“Saya juga tidak merasa akan menjadi pelatih. Rasanya seperti keluar dari satu dunia yang penuh tekanan—bukan berarti saya tidak suka, karena itu bagian dari pilihan saya—lalu berhenti sebentar, kemudian masuk lagi ke dunia itu tanpa benar-benar punya kontrol atas apa yang terjadi di lapangan."
“Saya sangat menikmati menginspirasi generasi berikutnya. Saya cukup sering datang ke akademi karena saya merasa merekalah yang nantinya akan menjaga Liverpool tetap di level atas. Saya punya turnamen usia muda sendiri dan ingin menjadikannya turnamen U-13 terbesar di dunia. Saya tahu dampaknya bagi anak-anak itu, dan saya sangat menyukainya. Tapi kita lihat saja nanti, masih banyak waktu.”
GettyMampukah Liverpool lolos Liga Champions?
Untuk saat ini, Van Dijk sepenuhnya fokus membantu Liverpool menutup musim 2025/26 dengan sebaik mungkin. The Reds masih bersaing di Liga Champions dan Piala FA, sekaligus berjuang mengamankan posisi empat atau lima besar Liga Inggris.
Saat ditanya pentingnya tampil di Liga Champions musim depan, Van Dijk menegaskan: “Seratus persen, karena saya ingin bermain di Liga Champions dan semua orang juga ingin. Memasuki musim terakhir kontrak saya, saya harus bermain di Liga Champions. Jadi kami bekerja sangat keras untuk memastikan itu terjadi."
“Saya masih merasa musim ini bisa tetap spesial, meskipun ada banyak kesulitan di musim panas, di awal musim, dan dengan cedera. Kami masih di Liga Champions, masih di Piala FA, jadi kita lihat saja apa yang terjadi. Tapi kami butuh konsistensi, kerja keras, dan juga menikmatinya, karena kami sangat beruntung bisa terus mewakili klub dan bermain sepakbola dengan level tinggi.”
Sayangnya langkah Liverpool untuk mewujudkan hal itu mengalami pukulan telak, usai kalah dari Manchester City di Anfield dengan skor 2-1, Minggu (8/2). Dengan hasil itu, tim asuhan Arne Slot memang tak bergeming dari peringkat enam, tapi mereka tertinggal lima poin dari Manchester United di posisi empat, dan disamai Brentford yang kini menempel di peringkat tujuh.
Iklan



