Jude Bellingham dan Vinicius Junior terlibat dalam pertengkaran sengit di lapangan saat Real Madrid tersingkir dari Liga Champions oleh Bayern Munich. Pemain internasional Inggris itu merasa sangat kesal dengan keputusan yang diambil rekan setimnya pada momen krusial di babak kedua, yang memicu pertukaran kata-kata tajam antara kedua bintang tersebut.
Ketegangan memuncak
Insiden tersebut terjadi pada menit ke-83 dalam leg kedua perempat final yang menegangkan di Allianz Arena, saat skor agregat masih imbang 4-4. Bellingham tampak jelas frustrasi setelah Vinicius gagal mengoper bola kepadanya, yang memicu balasan tajam dari pemain Brasil itu yang terekam dengan jelas oleh kamera. Menanggapi kemarahan rekan setimnya di tengah panasnya situasi, Vinicius berkata: "Apa yang kamu mau? Apa yang kamu mau? Diam dan tutup mulutmu.”
Iklan
Tonton klipnya
Bayern menang dalam laga seru yang diwarnai tujuh gol
Juara Jerman itu akhirnya memastikan tempat mereka di semifinal setelah menang dalam pertandingan seru yang menghasilkan tujuh gol pada malam itu. Meskipun Madrid tiga kali memimpin lewat Arda Guler dan Kylian Mbappe, Bayern selalu membalas setiap kali, sebelum gol-gol di menit-menit akhir dari Luis Diaz dan Michael Olise memastikan kemenangan agregat 6-4. Kemenangan ini membuat tim asuhan Vincent Kompany tetap berada di jalur untuk meraih treble bersejarah, sementara Harry Kane mencapai tonggak sejarah yang luar biasa dengan mencetak 50 gol klub musim ini.
SUKA CERITA INI?
Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami
Pelatih kepala Alvaro Arbeloa kini dihadapkan pada tugas yang rumit untuk memulihkan keharmonisan di antara dua penyerang paling berpengaruhnya sebelum kembali berlaga di kompetisi domestik melawan Deportivo Alaves. Dengan pupusnya impian Eropa, kekompakan internal tim kini menjadi sorotan saat mereka berupaya mengejar ketertinggalan sembilan poin dalam perebutan gelar juara. Menemukan solusi cepat atas perselisihan yang terungkap ke publik ini sangatlah penting jika klub ingin mempertahankan fokus dan mencegah musim yang mengecewakan ini berubah menjadi musim tanpa gelar.