Besiktas v Liverpool - UEFA Champions LeagueGetty Images Sport

Tragis! Legenda Liverpool Terancam Bangkrut Akibat Ditipu Saudara Kandung Hingga Jual Medali Liga Champions

Kisah hidup Steve Finnan pasca-pensiun adalah sebuah peringatan keras tentang betapa kejamnya dunia bisnis, bahkan ketika melibatkan darah daging sendiri. Mantan bek kanan Liverpool yang menjadi bagian dari skuad legendaris "Miracle of Istanbul" 2005 ini kini menghadapi kenyataan pahit: ancaman kebangkrutan yang nyata. Ironisnya, badai finansial ini bukan disebabkan oleh gaya hidup mewah, melainkan sengketa bisnis properti dengan saudara kandungnya sendiri, Sean.

Finnan, yang dikenal sebagai satu-satunya pemain yang pernah bermain di Piala Dunia, Liga Champions, Piala UEFA, dan keempat divisi liga Inggris, menginvestasikan jutaan poundsterling hasil keringatnya selama berkarier di sepakbola ke dalam perusahaan properti bersama saudaranya. Namun, investasi yang diharapkan menjamin masa pensiun itu justru berubah menjadi mimpi buruk hukum yang telah berlangsung selama satu dekade.

Situasi semakin pelik ketika Finnan tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga harus berhadapan dengan sistem peradilan yang menolak bandingnya. Dalam upaya putus asa untuk menutupi biaya hukum yang membengkak dan utang yang menumpuk, Finnan bahkan terpaksa melepas kenangan paling berharganya sebagai pesepakbola. Medali juara Liga Champions 2005 dan jersey pertandingannya telah dilelang, sebuah simbol tragis dari kejatuhan finansial seorang pahlawan lapangan hijau.

Kini, Finnan berdiri sendiri di pengadilan, mewakili dirinya tanpa pengacara, mencoba melawan petisi kebangkrutan yang diajukan kepadanya. Bagaimana seorang bintang Liga Primer bisa jatuh ke titik ini?

  • Awal Mula Bencana: Investasi Keluarga yang Berujung Petaka

    Setelah gantung sepatu pada 2010, Finnan memilih jalur yang dianggap aman oleh banyak pesepakbola: bisnis properti. Ia menyediakan modal besar untuk sebuah usaha properti yang berbasis di London barat daya, termasuk aset rumah mewah di Wimbledon. Perusahaan ini dijalankan bersama dan dikelola oleh saudaranya, Sean.

    Namun, pada 2016, kecurigaan mulai muncul. Finnan menemukan, meski ia telah menyuntikkan dana pinjaman yang signifikan, perusahaan tersebut tampaknya tidak memiliki uang. Ia menuduh Sean menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi dan memboroskan uang untuk masalah hukum serta kesepakatan kontraktor yang seharusnya tidak perlu mahal. Rasa saling percaya yang menjadi fondasi bisnis keluarga ini pun hancur berantakan.

  • Iklan
  • Kemenangan Semu di Pengadilan dan Janji Kosong £4 Juta

    Merasa dirugikan, Finnan mengambil langkah hukum terhadap saudaranya. Setelah proses yang panjang, mereka akhirnya mencapai penyelesaian di luar pengadilan pada 2018. Sean setuju untuk mentransfer saham perusahaan dan membayar Finnan sebesar £4 juta (sekitar Rp 80 miliar). Di atas kertas, ini adalah kemenangan bagi Steve.

    Namun, realitas berkata lain. Uang £4 juta tersebut tidak pernah dibayarkan. Sean justru dinyatakan bangkrut pada Juli 2019, meninggalkan Steve dengan tangan hampa. Dari total kerugian yang ia klaim mencapai lebih dari £6 juta (termasuk pinjaman ke perusahaan dan biaya pengacara), Finnan hanya berhasil mendapatkan kembali kurang dari £300.000 dari penjualan aset yang tersisa. Kemenangan hukum itu ternyata hanya di atas kertas tanpa hasil nyata.

  • Upaya Hukum yang Gagal dan Kritik Hakim

    Frustrasi karena kehilangan jutaan poundsterling, Finnan kemudian mencoba menggugat mantan pengacaranya sendiri, Charles Russell Speechlys. Ia mengklaim bahwa ia menerima nasihat hukum yang buruk. Namun, gugatan ini pun kandas. Hakim Master McQuail memutuskan bahwa pengacara telah melakukan tugasnya dan tidak ada bukti hasil yang lebih baik bisa dicapai, mengingat perusahaan memang sudah tidak memiliki uang.

    Situasi memburuk pada sidang terbaru di Pengadilan Tinggi, Senin lalu. Finnan, yang kini mewakili dirinya sendiri, mencoba mengajukan banding atas perintah dalam kasus kebangkrutannya sendiri. Hakim Mr Justice Mellor dengan tegas menolak banding tersebut, menyebutnya "tidak ada harapan" dan "sama sekali tidak berdasar." Hakim menilai langkah Finnan hanyalah taktik untuk menunda-nunda proses kebangkrutan yang tak terelakkan.

  • Harga Sebuah Kenangan: Medali Istanbul Dilelang

    Dampak finansial dari sengketa ini begitu menghancurkan hingga menyentuh aspek paling sentimental dari karier Finnan. Untuk menutupi biaya pengadilan yang terus membengkak dan utang-utang yang ada, Finnan terpaksa menjual barang-barang paling berharga dari masa kejayaannya.

    Pada 2020, medali juara Liga Champions 2005 miliknya — simbol dari malam ajaib di Istanbul saat Liverpool mengalahkan AC Milan — dijual seharga setidaknya £12.000. Ia juga menjual jersey pertandingan yang ia kenakan. Fakta bahwa seorang legenda klub harus menjual bukti prestasi tertingginya demi bertahan dari jeratan utang akibat konflik keluarga menambah sisi tragis dari kisah ini.

  • Karier Unik yang Berakhir dengan Ironi

    Nasib yang menimpa Steve Finnan sangat kontras dengan rekam jejak kariernya yang unik dan sukses. Ia adalah satu-satunya pemain dalam sejarah yang pernah bermain di Piala Dunia, Liga Champions, Piala UEFA, Piala Intertoto, serta keempat divisi liga sepakbola Inggris plus Conference. Ia adalah definisi dari kesuksesan yang dibangun dari bawah melalui kerja keras.

    Namun, keberhasilannya menaklukkan setiap level piramida sepakbola tidak menjamin kesuksesan di dunia bisnis. Kisah Finnan menjadi pelajaran berharga tentang risiko mencampuradukkan bisnis dengan keluarga, serta pentingnya manajemen finansial pasca-karier. Dari puncak Eropa di Istanbul hingga ruang sidang kebangkrutan di London, perjalanan Finnan adalah pengingat bahwa pahlawan di lapangan pun tidak kebal terhadap tragedi kehidupan.

0