Kisah hidup Steve Finnan pasca-pensiun adalah sebuah peringatan keras tentang betapa kejamnya dunia bisnis, bahkan ketika melibatkan darah daging sendiri. Mantan bek kanan Liverpool yang menjadi bagian dari skuad legendaris "Miracle of Istanbul" 2005 ini kini menghadapi kenyataan pahit: ancaman kebangkrutan yang nyata. Ironisnya, badai finansial ini bukan disebabkan oleh gaya hidup mewah, melainkan sengketa bisnis properti dengan saudara kandungnya sendiri, Sean.
Finnan, yang dikenal sebagai satu-satunya pemain yang pernah bermain di Piala Dunia, Liga Champions, Piala UEFA, dan keempat divisi liga Inggris, menginvestasikan jutaan poundsterling hasil keringatnya selama berkarier di sepakbola ke dalam perusahaan properti bersama saudaranya. Namun, investasi yang diharapkan menjamin masa pensiun itu justru berubah menjadi mimpi buruk hukum yang telah berlangsung selama satu dekade.
Situasi semakin pelik ketika Finnan tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga harus berhadapan dengan sistem peradilan yang menolak bandingnya. Dalam upaya putus asa untuk menutupi biaya hukum yang membengkak dan utang yang menumpuk, Finnan bahkan terpaksa melepas kenangan paling berharganya sebagai pesepakbola. Medali juara Liga Champions 2005 dan jersey pertandingannya telah dilelang, sebuah simbol tragis dari kejatuhan finansial seorang pahlawan lapangan hijau.
Kini, Finnan berdiri sendiri di pengadilan, mewakili dirinya tanpa pengacara, mencoba melawan petisi kebangkrutan yang diajukan kepadanya. Bagaimana seorang bintang Liga Primer bisa jatuh ke titik ini?


