FBL-AFC-QUALIFIERS-MAS-VIEAFP

Skandal Memalukan FAM Terbongkar! 7 Pemain 'Warisan' Tak Bisa Bahasa Melayu Tapi Lulus Tes, Dokumen Lahir Dipalsukan Dari Spanyol Jadi 'Malaka'

Dunia sepakbola Malaysia diguncang oleh pengungkapan fakta yang sangat mengejutkan dan memalukan dari FIFA. Badan sepakbola dunia tersebut secara resmi menolak banding yang diajukan oleh Persatuan Bola Sepak Malaysia (FAM) terkait sanksi atas penggunaan dokumen palsu dalam proses naturalisasi tujuh pemain 'warisan'. Penolakan ini disertai dengan rincian bukti yang telanjang dan memberatkan.

Dokumen keputusan Komite Banding FIFA mengungkap serangkaian kebohongan sistematis yang dilakukan dalam proses administrasi. Salah satu temuan yang paling menggelikan sekaligus fatal adalah klaim bahwa para pemain tersebut telah lulus tes Bahasa Malaysia sebagai syarat kewarganegaraan, padahal di hadapan panel FIFA, mereka mengakui sama sekali tidak bisa berbicara bahasa tersebut.

Kasus ini tidak hanya menyeret nama baik federasi, tetapi juga melibatkan manipulasi dokumen negara yang sangat serius. FIFA menemukan bukti fisik bagaimana akta kelahiran diubah secara kasar, lokasi kelahiran diganti, hingga kesalahan ejaan nama kota yang fatal.

Sekretaris Jenderal FAM bahkan telah membuat pengakuan tertulis mengenai adanya "penyesuaian administratif" yang dilakukan oleh stafnya. Skandal ini kini memasuki babak baru yang lebih gelap dengan FIFA meluncurkan investigasi independen terhadap individu-individu yang terlibat.

  • Ironi Tes Bahasa: Lulus Ujian Tanpa Bisa Bicara

    Temuan pertama yang diungkap FIFA adalah sebuah ironi besar dalam proses naturalisasi. FAM mengklaim dalam dokumen resminya bahwa ketujuh pemain warisan tersebut telah melalui prosedur yang sah, termasuk lulus tes kemahiran Bahasa Malaysia pada 17 Maret, sehari sebelum menerima paspor. Menteri Dalam Negeri bahkan sempat mengonfirmasi di Parlemen bahwa para pemain memenuhi syarat bahasa tersebut.

    Namun, fakta yang terungkap di sidang FIFA sangat bertolak belakang. Para pemain secara jujur mengakui bahwa mereka sama sekali tidak bisa berbicara Bahasa Malaysia. Mereka bahkan menyatakan tidak membaca dokumen aplikasi kewarganegaraan yang mereka tanda tangani karena dokumen tersebut ditulis dalam bahasa yang tidak mereka pahami, dan tidak ada penerjemah yang disediakan.

    Pengakuan ini menghancurkan narasi legalitas proses naturalisasi yang dibangun FAM. Bagaimana mungkin seseorang bisa lulus tes bahasa dan mengambil sumpah setia dalam bahasa yang tidak mereka mengerti? FIFA mencatat kontradiksi ini sebagai salah satu bukti utama ketidakberesan proses tersebut.

    Lebih parah lagi, para pemain menandatangani pernyataan bahwa mereka telah tinggal di Malaysia selama 10 tahun — sebuah kebohongan yang jelas — di bawah ancaman hukuman penjara jika memberikan keterangan palsu. Pengacara mereka berdalih bahwa kewarganegaraan diberikan bukan karena residensi, melainkan diskresi menteri, namun hal ini tidak menghapus fakta bahwa formulir resmi berisi data yang tidak benar.

  • Iklan
  • Jejak Spanyol yang Berubah Jadi 'Malaka' & Keseleo Lidah

    Bukti paling memberatkan terkait pemalsuan dokumen datang dari kasus Gabriel Felipe Arrocha. FIFA berhasil mendapatkan salinan resmi akta kelahiran nenek Arrocha yang asli, yang dengan jelas mencantumkan tempat kelahirannya di Spanyol. Namun, dokumen yang diserahkan oleh FAM kepada FIFA hampir identik dengan aslinya, kecuali satu detail fatal: tempat lahirnya telah diubah menjadi "Malaka".

    Dokumen palsu tersebut juga tidak memiliki kode alfanumerik verifikasi yang seharusnya ada pada dokumen resmi Spanyol. Hal ini menegaskan bahwa dokumen yang diajukan FAM adalah hasil manipulasi digital yang tidak canggih dan tidak dapat diverifikasi keabsahannya.

    Kocaknya, kebohongan ini hampir terbongkar oleh mulut pemain itu sendiri. Dalam sebuah momen yang dicatat FIFA, Arrocha mengalami "keseleo lidah" saat memberikan kesaksian. Ia berkata: "Kakek saya lahir di Venezuela dan nenek saya di Spanyol... maksud saya Malaysia, maaf." Koreksi panik ini menjadi indikator kuat bahwa narasi "warisan" Malaysia adalah sebuah rekayasa.

    Kesalahan fatal ini menunjukkan betapa rapuhnya dasar klaim keturunan yang diajukan. Pemain bahkan lupa dengan "skenario" asal-usul neneknya sendiri di depan panel disiplin, yang semakin meyakinkan FIFA bahwa tidak ada hubungan darah yang nyata dengan Malaysia.

  • Misteri Kota 'Luching' & Jejak Manipulasi Kasar

    Tidak hanya kasus Arrocha, FIFA juga membongkar manipulasi amatir dalam dokumen pemain lain, Jon Irazabal Iraurgui. Dalam dokumen kelahiran yang diserahkan FAM, terdapat kesalahan penulisan yang sangat memalukan. Nama ibu kota Sarawak, Kuching, ditulis dengan ejaan yang salah menjadi "Luching".

    Kesalahan ejaan nama kota besar di Malaysia dalam sebuah dokumen resmi negara adalah tanda merah yang sangat mencolok. FIFA kemudian melakukan pemeriksaan forensik terhadap dokumen tersebut dan menemukan jejak-jejak fisik manipulasi yang tak terbantahkan.

    Laporan FIFA menyebutkan bahwa "pada pemeriksaan lebih dekat, tampak bahwa beberapa kolom telah diputihkan (whitened) atau diburamkan." Ini mengindikasikan adanya upaya manual untuk menghapus atau menimpa informasi asli pada dokumen tersebut agar sesuai dengan narasi yang diinginkan.

    Temuan "Luching" dan bekas pemutih ini menjadi bukti telanjang betapa cerobohnya proses pemalsuan yang dilakukan. Ini bukan lagi sekadar kesalahan administrasi, melainkan tindakan forgery (pemalsuan) yang dilakukan dengan kualitas rendah namun berdampak hukum sangat berat.

  • Pengakuan 'Penyesuaian Administratif' Sekjen FAM

    Menghadapi bukti-bukti yang tak terbantahkan, FAM akhirnya membuat pengakuan yang mengejutkan. Dalam pengajuannya, mereka mengakui bahwa anggota sekretariatnya telah melakukan apa yang mereka sebut sebagai "penyesuaian administratif" terhadap akta kelahiran asing milik para pemain.

    Sekretaris jenderal FAM, Noor Azman Rahman, memberikan pernyataan tertulis yang mengakui bahwa staf administrasi terlibat dalam "memformat ulang" dan "mengubah konten" akta kelahiran yang diterima dari agen pemain. Alasan yang diberikan adalah keterbatasan waktu dan antisipasi konfirmasi resmi.

    Meski Azman mengklaim langkah ini "dimotivasi secara administratif" dan bukan untuk menipu, FIFA melihatnya berbeda. Komite Banding FIFA menilai pernyataan Azman tersebut sama saja dengan pengakuan bersalah atas tindakan perusakan atau manipulasi dokumen (tampering).

    FAM berusaha melokalisir kesalahan ini pada staf sekretariat dan mengklaim bahwa hal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Komite Eksekutif maupun Azman sendiri pada awalnya. Azman kini telah ditangguhkan dari tugasnya, namun pengakuan ini meruntuhkan kredibilitas integritas FAM sebagai institusi.

  • Sanksi Ditolak, Investigasi Baru Dimulai

    Keputusan akhir FIFA sangat tegas: banding ditolak mentah-mentah. Sanksi denda dan larangan bermain bagi tujuh pemain tetap berlaku. Namun, mimpi buruk bagi sepakbola Malaysia belum berakhir di sini. FIFA menyatakan "tidak terkesan" dengan langkah penangguhan internal yang dilakukan FAM terhadap Sekjen mereka.

    Alih-alih menerima penyelesaian internal FAM, FIFA memutuskan untuk meluncurkan investigasi independen mereka sendiri. Target penyelidikan ini bukan lagi sekadar kesalahan prosedur, melainkan mengarah pada individu-individu kunci yang terlibat dalam orkestrasi skandal ini.

    Investigasi baru ini akan membidik secara spesifik Noor Azman Rahman serta dua agen pemain berlisensi FIFA, Nicolas Puppo dan Frederico Moraes. Keterlibatan agen dalam menyuplai dokumen yang kemudian dimanipulasi oleh FAM menjadi fokus serius bagi integritas transfer internasional.

    Langkah FIFA ini menandakan bahwa kasus ini bisa berujung pada sanksi yang jauh lebih berat bagi individu yang terlibat, termasuk potensi larangan beraktivitas di sepakbola seumur hidup. Sepakbola Malaysia kini berada di bawah mikroskop dunia dengan reputasi yang tercoreng hebat akibat skandal pemalsuan yang sistematis ini.

0