Tottenham baru saja melewati musim yang kontroversial, yang diakhiri dengan kemenangan di Liga Europa (trofi pertama sejak 2008), namun juga dengan peringkat ke-17 yang mengecewakan, posisi kedua dari bawah yang memastikan kelangsungan mereka di Liga Premier. Pihak manajemen (termasuk Paratici, yang kini berada di Fiorentina) telah memilih Thomas Frank, pelatih dengan rekam jejak gemilang di Brentford.
Bursa transfer musim panas cukup menarik, dengan kedatangan pemain sekelas Xavi Simons, Kudus, Palhinha, dan Kolo Muani. Namun, Frank sejak awal tidak bisa beradaptasi, dan tim memasuki awal 2026 dengan sedikit kepastian. Dalam beberapa tahun terakhir, pelatih seperti Conte, Mourinho, Espirito Santo, dan Postecoglou sendiri mengalami kesulitan besar. Tanpa kemenangan di tahun baru, Spurs memilih Igor Tudor, yang bebas setelah dipecat oleh Juventus. Hasilnya? Hampir seluruhnya kekalahan, insiden mengejutkan saat Kinsky digantikan oleh Vicario setelah 17 menit, serta dua kesalahan fatal dalam kekalahan 5-2 dari Atletico Madrid pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions, serta kekalahan telak 3-0 dari Nottingham Forest dalam laga head-to-head pada pekan terakhir sebelum jeda.
Seolah belum cukup, Tudor harus menghadapi duka mendalam akibat kehilangan ayahnya. West Ham yang berada di peringkat ketiga dari bawah hanya terpaut satu poin, 30 berbanding 29, dan ketakutan di kubu Spurs semakin memuncak. Masa depan Tudor sudah berada di ujung tanduk, dengan Sean Dyche—seorang pelatih yang mirip dengan Ballardini dari Inggris—konon sudah dihubungi.