Gerard Pique pernah melontarkan ide radikal dalam sebuah diskusi dengan Iker Casillas: jika pertandingan berakhir 0-0, kedua tim sebaiknya tidak berhak mendapatkan poin sama sekali. Ide ini mungkin terdengar ekstrem dan mustahil diterapkan, namun hal tersebut mencerminkan keresahan mendalam banyak penggemar sepakbola yang membayar tiket mahal demi melihat hiburan berupa gol, bukan pertahanan gerendel yang membosankan.
Di Liga Primer musim 2025/26, keresahan Pique seolah menjadi kenyataan yang pahit. Hingga pertengahan musim, kompetisi kasta tertinggi Inggris ini telah mencatatkan 17 kali hasil imbang 0-0. Jumlah ini sudah melampaui total skor kacamata yang terjadi di sepanjang musim lalu (16 kali) dan jauh di atas catatan dua musim sebelumnya (11 kali). Fenomena ini merata, melibatkan tim papan atas seperti Arsenal hingga tim yang berjuang di zona degradasi.
Data statistik menunjukkan adanya anomali yang signifikan dibandingkan tren beberapa tahun terakhir. Setelah publik dimanjakan dengan rekor gol terbanyak dalam sejarah kompetisi pada musim 2023/24 (rata-rata 3,3 gol per laga), musim ini keran gol seolah macet dengan rata-rata turun menjadi 2,7 per laga. Angka ini menandakan pergeseran taktik yang nyata di mana pragmatisme mulai mengambil alih panggung hiburan.
Apakah ini tanda kemunduran kualitas para penyerang atau justru evolusi taktik pertahanan yang kian solid? Analisis mendalam terhadap data tembakan, lokasi peluang, dan gaya bermain tim-tim Liga Primer mengungkapkan fakta menarik di balik layar yang menjelaskan mengapa gawang-gawang di Inggris kini semakin sulit ditembus oleh para striker kelas dunia.
