AC Milan v Parma Calcio 1913 - Serie AGetty Images Sport

Ambisi Scudetto AC Milan Hancur Usai Rekor Tak Terkalahkan Diputus Parma Di San Siro

  • Badai Cedera dan Rasa Frustrasi yang Memuncak

    Laga ini sejatinya sudah diawali dengan berbagai kendala berat bagi kubu tuan rumah sebelum sepak mula dilakukan. Skuad Rossoneri harus tampil tanpa didampingi oleh sang pelatih kepala, Massimiliano Allegri, yang tengah menjalani masa hukuman larangan mendampingi tim akibat kartu merah yang diterimanya pada laga tengah pekan melawan Como. Kesialan mereka berlanjut pada sesi pemanasan ketika bek tengah Matteo Gabbia tiba-tiba mengalami cedera, sehingga posisinya terpaksa digantikan secara mendadak oleh Koni De Winter.

    Situasi di atas lapangan memburuk saat pertandingan baru berjalan sebelas menit. Gelandang andalan mereka, Ruben Loftus-Cheek, harus ditandu keluar lapangan setelah terlibat benturan kepala yang mengerikan dengan penjaga gawang Parma Edoardo Corvi. Meski terus mendominasi jalannya penguasaan bola hingga mencapai angka 66 persen, Milan kehilangan ketajaman serta efisiensi di sepertiga akhir lapangan. Christian Pulisic sempat memberikan ancaman serius lewat tembakan dari sudut sempit sebelum akhirnya membuang sebuah peluang emas dari jarak dekat menjelang turun minum. Ketidakberuntungan tuan rumah mencapai puncaknya pada menit ke-64, saat tendangan voli akrobatik Rafael Leao sukses menaklukkan kiper namun hanya membentur bagian dalam tiang gawang, bergulir menyusuri garis, dan keluar tanpa membuahkan hasil.

  • Iklan
  • AC Milan v Parma Calcio 1913 - Serie AGetty Images Sport

    Malam Penuh Kesialan di Mata Landucci

    Kebuntuan dalam pertandingan yang berjalan alot tersebut akhirnya pecah pada menit ke-80 melalui sebuah insiden yang memicu drama dan kontroversi panjang. Berawal dari skema tendangan sudut, Mariano Troilo melompat lebih tinggi dari penjagaannya, Davide Bartesaghi, di tiang jauh untuk menanduk bola dengan keras ke dalam gawang. Meski wasit di lapangan awalnya meniup peluit atas dugaan pelanggaran terhadap kiper Mike Maignan, intervensi dan tinjauan Video Assistant Referee (VAR) yang memakan waktu lama akhirnya menganulir keputusan tersebut. Teknologi VAR menilai bahwa, meski Lautaro Valenti menghalangi pergerakan sang kiper, sama sekali tidak ada kontak fisik ilegal yang terjadi.

    Asisten pelatih Marco Landucci, yang mengambil alih peran Allegri di pinggir lapangan, tampak sangat terpukul seusai peluit panjang dibunyikan. Ia menyoroti rentetan insiden buruk yang terus merusak ritme permainan timnya. "Kami jelas merasa tidak bahagia," ungkap Landucci. "Parma bermain dengan sangat baik dan bola seolah memang enggan masuk ke gawang kami malam ini. Kami sangat menginginkan tiga poin tersebut, jadi tentu saja kami merasa sangat kecewa." Lebih lanjut, ia juga mengonfirmasi kondisi Loftus-Cheek yang mengalami luka robek di wajah dan kerusakan pada beberapa giginya akibat benturan keras di awal laga, seraya menyebut malam tersebut sebagai malam yang benar-benar sial bagi timnya.

  • Gelar Juara yang Menjauh dari Genggaman

    Kekalahan menyakitkan ini terasa semakin krusial mengingat Milan sebelumnya memiliki rekor yang sangat mentereng di kancah domestik. Mereka selalu sukses mencetak gol dalam 19 laga beruntun dan tidak pernah tersentuh kekalahan sejak tumbang dari Cremonese pada pekan perdana kompetisi. Dominasi statistik di atas kertas pada akhirnya harus tunduk di hadapan kedisiplinan taktis luar biasa yang ditunjukkan oleh lini belakang Parma. Hasil minor ini sekaligus mempertegas tren mengkhawatirkan Milan yang belakangan ini kerap kesulitan menundukkan tim-tim papan tengah dan bawah, menyusul hasil imbang sebelumnya kala bersua Pisa, Sassuolo, Genoa, dan Como.

    Dengan Inter yang kini memimpin dengan keunggulan 10 poin di posisi puncak, target utama di markas latihan Milanello tampaknya harus segera direvisi. Landucci mengakui bahwa seisi ruang ganti tim sangat terpukul dan merasakan beban berat dari hasil tersebut, namun ia menuntut para pemainnya untuk tetap rasional dan segera bangkit. "Target kami saat ini adalah mengamankan tiket kembali ke Liga Champions, dan kami harus memusatkan fokus pada perjalanan kami sendiri untuk mengumpulkan poin sebanyak mungkin tanpa memikirkan tim lain," tegasnya, menyadari tingginya ancaman dari tim-tim pesaing di bawah mereka seperti Atalanta.

  • AC Milan v Parma Calcio 1913 - Serie AGetty Images Sport

    Kemenangan Sempurna Sang Tim Tamu

    Di sisi lain lapangan, kemenangan berharga ini menjadi bukti nyata dari daya juang, soliditas pertahanan, dan eksekusi rencana permainan yang nyaris sempurna dari kubu Parma. Walaupun harus menghadapi gempuran badai 25 tembakan dari lini serang tuan rumah, barisan pertahanan mereka tampil begitu disiplin sehingga hanya membiarkan enam tembakan yang benar-benar mengarah ke gawang. Corvi membuktikan kualitasnya dan pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik laga berkat serangkaian penyelamatan gemilangnya di bawah mistar.

    Tim tamu juga menunjukkan efisiensi penyelesaian akhir tingkat tinggi, sukses mencetak gol kemenangan yang krusial hanya dari satu di antara tiga tembakan tepat sasaran yang mereka ciptakan sepanjang pertandingan. Hasil impresif ini menandai dua kemenangan berturut-turut bagi skuad Gialloblu, yang secara signifikan mendongkrak posisi mereka di papan klasemen Serie A sembari sukses menghancurkan ambisi salah satu raksasa sepakbola Italia. Saat para pemain Milan melangkah lesu keluar lapangan diiringi siulan kekecewaan dari pendukungnya sendiri, realitas pahit mulai menyadarkan mereka bahwa musim ini bisa berakhir lebih cepat jika mereka gagal menemukan kembali performa terbaiknya di sisa kompetisi.

  • Cuplikan Pertandingan: AC Milan 0-1 Parma

0