GFX Franco Mastantuono Lamine YamalGetty/GOAL

"Berkorban 20 KALI LEBIH KERAS Dari Mbappe" - Ampas Di Real Madrid, Mastantuono Diminta Tiru Yamal

  • Kempes beri peringatan keras untuk Mastantuono

    Franco Mastantuono tiba di Real Madrid musim panas lalu dengan reputasi besar dan banderol sepadan. Los Blancos merogoh kocek lebih dari €60 juta untuk memboyongnya dari River Plate, dengan keyakinan sang gelandang akan menjadi fondasi dominasi klub di masa depan. Namun, setelah start yang menjanjikan di La Liga, cedera menghambat momentumnya. Performa Mastantuono menurun dalam beberapa bulan terakhir, menimbulkan kekhawatiran bahwa ia kesulitan beradaptasi dengan beratnya tuntutan di klub yang kerap disebut sebagai klub terbesar di dunia.

    Mario Kempes, juara Piala Dunia dan salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah Argentina, memberikan penilaian blak-blakan soal situasi kompatriotnya itu. Dalam wawancara yang membahas penurunan performa Mastantuono, pria berusia 71 tahun tersebut menegaskan bahwa kesabaran yang biasa diberikan kepada talenta muda di Amerika Selatan tidak berlaku di Real Madrid.

    “Ini tidak mudah, ini bukan River, bukan Boca… ini Real Madrid,” ujar mantan pemain dan pelatih Pelita Jaya tersebut. “Di Real Madrid, Anda harus menang bahkan saat latihan. Mastantuono perlu sedikit lebih berani, dia harus menunjukkan nyali yang lebih besar.”

    Kempes juga memperingatkan bahwa jika sang pemain muda tak mulai memaksimalkan bakat yang membawanya ke Bernabeu, kariernya di Eropa bisa berumur pendek. “Kalau mereka membawanya dari River ke Real Madrid, itu karena mereka melihat potensi. Tapi hari ini, potensi itu belum bekerja untuknya. Jika dia tidak memanfaatkan potensi tersebut, dia tidak akan bertahan lama.”

  • Iklan
  • Elche CF v FC Barcelona - LaLiga EA SportsGetty Images Sport

    Meniru Yamal dan melebihi Mbappe

    Kempes meminta Mastantuono untuk meniru rival abadi Real Madrid. Ia menyebut wonderkid Barcelona Lamine Yamal sebagai cetak biru tentang bagaimana seorang bintang remaja menghadapi tekanan sepakbola elite di Spanyol, menilai Yamal sebagai contoh sempurna dari "keberanian" yang saat ini kurang dimiliki oleh Mastantuono. Wonderkid Argentina itu juga dituntut untuk bekerja jauh lebih keras dibanding para megabintang yang sudah mapan di skuad Los Blancos.

    Kempes meminta Mastantuono menemukan kembali aura percaya diri yang ia perlihatkan di River Plate. Selama ia belum memiliki deretan gol dan trofi setara Mbappe atau Vinicius Junior, nilai dirinya harus datang dari kerja keras bagai kuda dan keberanian mengambil risiko.

    “Dia harus lebih berani, melakukan apa yang dia lakukan di River, seperti menembak dari luar kotak penalti, berani melewati lawan,” kata Kempes. “Lamine Yamal kurang lebih seperti itu. Lihat, dia memang kadang kehilangan bola—tidak sering, tapi tetap terjadi—tapi dia terus meminta bola. Dia berani menggiring, berani menembak, dan terus bermain. Itu yang harus dilakukan Mastantuono: berkorban 20 kali lipat lebih keras daripada Mbappe, atau Vini, atau siapa pun. Termasuk Rodrygo.”

  • Etos kerja harus melampaui Mbappe dan Vinicius

    Kempes juga menyinggung sisi psikologis dari transfer Mastantuono. Meninggalkan peran protagonis di River Plate menjadi sekadar satu prospek di antara galaksi para megabintang bisa menjadi guncangan besar. Ia menepis anggapan bahwa “ketajaman mental” di atas kertas sudah cukup; semuanya harus terwujud di lapangan.

    Ia memperingatkan Mastantuono agar tidak menjadi penumpang yang hanya mengandalkan kerja keras tanpa kontribusi nyata. “Secara mental? Itu harus dibuktikan di lapangan, bukan sekadar klaim bahwa Anda memiliki ketajaman mental,” tegas Kempes. “Orang akan menyukai Anda, ya, mereka menghargai usaha dan kemauan Anda. Tapi Anda harus menjadi protagonis, bukan hanya di beberapa momen. Percaya bahwa ANda bisa jadi bintang, tapi jangan sampai itu membuat Anda besar kepala.”

  • SL Benfica v Real Madrid C.F. - UEFA Champions League 2025/26 League Phase MD8Getty Images Sport

    Menghadapi tekanan di Real Madrid

    Keputusan Real Madrid mendatangkan Mastantuono jelas berorientasi jangka panjang, tapi penurunan performa dalam beberapa bulan terakhir memicu alarm. Mastantuono sendiri baru-baru ini merespons kekhawatiran tersebut dengan jujur: “Sejak kecil, orang-orang membicarakan sepakbola saya; ada yang bilang saya Lionel Messi baru, di saat yang sama ada yang menyebut saya bencana, pembelian terburuk Real Madrid. Saya tidak percaya saya Messi, dan saya juga tidak percaya saya adalah rekrutan terburuk Real Madrid. Saya bekerja untuk versi terbaik diri saya, yang saya tahu bisa saya capai.”

    Memasuki fase krusial musim ini, pelatih Alvaro Arbeloa membutuhkan seluruh skuadnya berada di level tertinggi. Mastantuono yang bangkit, lebih berani, siap mengambil risiko, dan bekerja lebih keras daripada para bintang di sekelilingnya, masih bisa menjadi pembeda, sepadan dengan harga mahal yang telah dibayarkan Real Madrid.

0