1. FSV Mainz 05 v Eintracht Frankfurt - BundesligaGetty Images Sport

Beli Murah Jual Mahal! Bagaimana 'Pabrik Uang' Eintracht Frankfurt Cetak Keuntungan €169 Juta Dari Transfer

Eintracht Frankfurt telah menjelma menjadi salah satu klub paling cerdas dan menguntungkan di bursa transfer sepakbola Eropa. Di bawah kepemimpinan direktur olahraga Markus Kroesche, klub Bundesliga ini berhasil membangun sebuah model bisnis yang sangat sukses: menemukan bakat mentah, memolesnya menjadi bintang, dan menjualnya dengan keuntungan fantastis.

Keberhasilan mereka tidak main-main. Dalam empat tahun terakhir, Frankfurt mencatatkan keuntungan perdagangan pemain sebesar €169 juta, angka yang menempatkan mereka di peringkat kelima klub paling untung di dunia. Nama-nama besar seperti Randal Kolo Muani, Omar Marmoush, dan Hugo Ekitike adalah bukti nyata dari kesuksesan strategi ini.

Ketiga pemain tersebut dibeli dengan total biaya hanya €30 juta, namun kemudian dijual dengan harga akumulatif mencapai €255 juta. Sebuah margin keuntungan yang luar biasa. Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat sebuah proses yang sangat teliti, mulai dari identifikasi bakat, pengembangan fisik dan mental, hingga pemilihan waktu penjualan yang tepat.

Dalam wawancara eksklusif dengan The Athletic, Kroesche membongkar dapur rahasia Frankfurt. Bagaimana mereka bisa konsisten menemukan "permata" yang terlewatkan oleh klub lain? Dan apa peran ahli tidur hingga nutrisi dalam mencetak pemain bernilai ratusan juta Euro? GOAL coba menjelaskannya di sini!

  • Eintracht Frankfurt v FC Augsburg - BundesligaGetty Images Sport

    Filosofi dan Kolaborasi: Kunci Utama Rekrutmen

    Rahasia pertama kesuksesan Frankfurt bukanlah pada mata elang satu orang pemandu bakat, melainkan pada kejelasan filosofi klub. Kroesche menegaskan bahwa langkah awal yang paling krusial adalah mendefinisikan identitas permainan tim. "Jika Anda tidak memiliki filosofi yang jelas, Anda tidak akan pernah bisa merekrut dengan baik," tegasnya.

    Dengan pemahaman yang mendalam tentang apa yang dibutuhkan tim, proses rekrutmen menjadi lebih terarah. Frankfurt tidak mencari pemain yang sempurna, karena mereka sadar akan keterbatasan finansial dibandingkan raksasa seperti Bayern Munich. Sebaliknya, mereka mencari pemain dengan "kekuatan spesifik" yang tidak bisa diajarkan (seperti kecepatan atau tinggi badan), sambil menoleransi kelemahan yang bisa diperbaiki melalui pelatihan.

    Kroesche menekankan pentingnya kolaborasi antardepartemen. Analis data, pelatih, dan pemandu bakat bekerja sama untuk menjawab pertanyaan kunci: Apakah kelemahan pemain ini bisa diperbaiki? Apakah karakternya cocok dengan tim? Pendekatan holistik inilah yang memungkinkan mereka melihat potensi yang seringkali diabaikan oleh klub lain.

  • Iklan
  • VfB Stuttgart v Eintracht Frankfurt - BundesligaGetty Images Sport

    Investasi pada 'Mesin' Pemain: Ahli Tidur dan Nutrisi

    Bagi Frankfurt, membeli pemain berbakat hanyalah langkah awal. Tantangan sebenarnya adalah mempercepat proses pengembangan mereka agar bisa mencapai nilai jual maksimal dalam waktu singkat (idealnya tiga tahun). Untuk mencapai hal ini, Kroesche melakukan investasi besar-besaran di sektor pendukung performa, yang awalnya sempat dipertanyakan.

    Klub mempekerjakan ahli nutrisi dan bahkan dua orang "ahli tidur" (satu full-time, satu freelance) untuk memastikan kondisi fisik pemain selalu berada di puncak. "Jika Anda ingin pemain berkembang, mereka harus berada pada batasnya setiap hari. Seratus persen, selalu," kata Kroesche. Tanpa kondisi fisik yang prima, latihan intensif tidak akan efektif.

    Hasilnya nyata. Pemain seperti Hugo Ekitike dan Omar Marmoush memiliki catatan cedera yang sangat minim selama di Frankfurt. Kolo Muani bahkan lebih sering cedera di Tottenham daripada saat ia digembleng di Jerman. Ketahanan fisik ini memungkinkan mereka untuk terus bermain, belajar, dan meningkatkan nilai pasar mereka tanpa gangguan.

  • FBL-GER-BUNDESLIGA-FRANKFURT-DORTMUNDAFP

    Studi Kasus Omar Marmoush: Dari Gratisan Jadi €75 Juta

    Kisah Marmoush adalah contoh sempurna dari kejeniusan sistem Frankfurt. Didatangkan secara gratis dari Wolfsburg, Marmoush saat itu hanyalah pemain biasa yang sering kehilangan bola dan jarang menjadi starter. Data menunjukkan pengambilan keputusannya buruk. Namun, Frankfurt melihat potensi lain: kecepatan, kekuatan, dan etos kerja.

    Analisis Frankfurt menyimpulkan bahwa kelemahan Marmoush disebabkan oleh kurangnya jam terbang. "Striker butuh waktu bermain... jika Anda tidak punya waktu untuk belajar dari kesalahan, Anda tidak bisa berkembang," jelas Kroesche. Frankfurt memberinya panggung tersebut, ditambah dengan sesi video dan latihan individu yang intensif.

    Keberuntungan juga berpihak saat Kolo Muani dijual mendadak, memberikan Marmoush peran utama. Hasilnya? Dalam satu tahun, ia bertransformasi menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di Bundesliga dan dijual ke Manchester City seharga €75 juta. Sebuah transformasi nilai dari nol menjadi puluhan juta euro berkat identifikasi masalah yang tepat.

  • Eintracht Frankfurt Season OpeningGetty Images Sport

    Seni Menjual di Waktu yang Tepat

    Menjual pemain bintang seperti Marmoush di tengah musim saat tim sedang berjuang ke Liga Champions adalah keputusan berisiko tinggi. Namun, bagi Kroesche, itu adalah tentang momentum dan nilai maksimal. "Secara uang, itu adalah situasi terbaik yang akan kami capai," akunya saat melepas pemainnya ke Manchester City.

    Frankfurt berani melepas bintangnya karena mereka selalu berpikir satu langkah ke depan. Penjualan Kolo Muani mengajarkan mereka untuk menyiapkan pengganti jauh-jauh hari. Contohnya, mereka merekrut Jean-Matteo Bahoya setahun lebih awal dengan harga €8 juta sebagai antisipasi kepergian Marmoush di masa depan.

    Filosofi ini menciptakan siklus regenerasi yang sehat. Kepergian Marmoush membuka jalan bagi Ekitike untuk bersinar, sama seperti kepergian Kolo Muani sebelumnya memberi ruang bagi Marmoush. "Setiap situasi berdampak berbeda pada skuad. Tapi jika Anda menyeimbangkan skuad Anda dengan baik... Anda bisa memiliki keberanian untuk membiarkan mereka pergi," ujar Kroesche.

  • 1. FC Heidenheim 1846 v Eintracht Frankfurt - BundesligaGetty Images Sport

    Kredibilitas sebagai Mata Uang: Janji pada Pemain

    Salah satu aspek paling menarik dari manajemen Kroesche adalah kejujurannya kepada pemain. Sejak pertemuan pertama, ia memaparkan rencana pengembangan yang jelas, termasuk kelemahan yang harus diperbaiki. Namun, janji terpentingnya adalah soal pintu keluar.

    Kroesche berjanji tidak akan menghalangi pemain untuk pindah jika mereka berkembang lebih cepat dari klub dan ada tawaran yang sesuai. "Saya tidak akan khawatir tentang beberapa juta Euro. Jika itu saat yang tepat... kami akan menemukan solusi," tegasnya. Sikap ini sangat penting untuk menjaga reputasi klub di mata agen dan pemain.

    Sikap ini membangun kredibilitas Frankfurt di mata talenta muda Eropa. Pemain tahu bahwa bergabung dengan Frankfurt bukan hanya bagus untuk perkembangan skill, tapi juga merupakan batu loncatan yang nyata menuju klub elite dunia. Dengan bakat-bakat baru seperti Hugo Larsson dan Can Uzun yang sudah antre untuk bersinar, pabrik uang Frankfurt tampaknya akan terus berproduksi.

0