PSIMJaga Fisik Pemain, PSIM Sesuaikan Jadwal Latihan Selama Ramadan Dan Tak Ada Libur Awal Puasa
Tantangan Ganda: Cuaca Ekstrem dan Bulan Puasa
Februari 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi klub-klub yang berlaga di kasta tertinggi sepakbola Indonesia, tak terkecuali PSIM. Selain harus menghadapi rival-rival berat di papan klasemen Super League, faktor non-teknis seperti cuaca dan datangnya bulan Ramadan menuntut manajemen untuk bersikap adaptif.
Sebelumnya, Laskar Mataram menerapkan pola latihan pagi hari secara intensif. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan; curah hujan yang tinggi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada sore hari seringkali mengganggu ritme latihan taktik di lapangan. Lapangan yang becek dan risiko sakit akibat hujan deras membuat tim pelatih lebih memilih memeras keringat pemain di bawah matahari pagi.
Namun, kedatangan bulan suci Ramadan mengubah prioritas tersebut. Aspek fisiologis pemain yang berpuasa menjadi perhatian utama. Latihan intensitas tinggi di pagi hari saat pemain baru saja memulai puasa dinilai kurang efektif dan berisiko menyebabkan dehidrasi dini. Oleh karena itu, manajemen PSIM memutuskan untuk merombak total jadwal harian mereka.
Adhe MakayasaGeser Jam Latihan Demi Kondusivitas Ibadah
Manajer PSIM Razzi Taruna memberikan penjelasan mendetail mengenai perubahan strategis ini. Ia menyadari bahwa kenyamanan pemain dalam beribadah akan berkorelasi langsung dengan ketenangan mental mereka saat bertanding.
“Kemarin kami banyak latihan pagi dikarenakan sore biasanya hujan di Jogja. Jadi untuk mengantisipasi kita latihan di kondisi hujan deras, makanya banyak dipindahkan ke pagi,” ujar Razzi membuka penjelasan mengenai situasi tim dalam beberapa pekan terakhir.
Ia kemudian melanjutkan mengenai kebijakan baru yang akan diterapkan mulai pekan ini. “Namun, khusus untuk memasuki bulan puasa ini, jadwal latihan resmi kami kembalikan lagi ke sore hari agar lebih kondusif bagi seluruh tim,” tegasnya.
Pergeseran waktu ini dihitung secara cermat. Tim pelatih tidak ingin sesi latihan selesai terlalu jauh dari waktu berbuka, yang bisa menyiksa pemain yang kehausan, namun juga tidak ingin waktu latihan terlalu singkat sehingga materi taktik tidak tersampaikan.
“Jika biasanya kami sudah mulai berlatih pada pukul 15:30 WIB, sekarang kami geser sedikit menjadi pukul 16:00 WIB untuk mengakomodasi teman-teman yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sehingga saat sesi latihan berakhir, waktunya bisa langsung bertepatan dengan jam buka puasa,” jelas Razzi. Dengan skema ini, pemain bisa langsung mendapatkan asupan nutrisi dan hidrasi segera setelah pendinginan selesai.
Profesionalisme Diuji: Tak Ada Libur Awal Puasa
Seringkali, awal Ramadan dijadikan momen bagi klub-klub di Indonesia untuk meliburkan pemainnya barang satu atau dua hari agar bisa berkumpul dengan keluarga. Namun, kemewahan tersebut tidak bisa dinikmati oleh penggawa PSIM tahun ini.
Jadwal kompetisi yang tidak kenal ampun memaksa seluruh elemen tim untuk tetap berada di training ground. PSIM dihadapkan pada pekan neraka. Pada 23 Februari nanti, mereka harus meladeni perlawanan salah satu tim kuat, Bali United. Hanya berselang empat hari kemudian, pada 27 Februari, mereka sudah ditunggu oleh PSBS Biak. Dua laga ini sangat krusial bagi posisi PSIM di klasemen sementara.
“Tim tidak ada libur di awal puasa ini karena memang harus menghadapi jadwal pertandingan yang sangat padat, termasuk laga melawan Bali United (23/2) disusul Biak (27/2) besok,” ungkap Razzi dengan nada serius.
Keputusan "tanpa libur" ini menegaskan ambisi manajemen PSIM untuk tidak kehilangan poin krusial hanya karena alasan transisi bulan puasa. Profesionalisme pemain benar-benar diuji untuk tetap fokus pada taktik di saat tubuh sedang beradaptasi dengan pola makan yang baru.
PSIMHarapan Manajemen: Ibadah Lancar, Poin Aman
Penyesuaian jadwal ini diharapkan menjadi win-win solution. Di satu sisi, kewajiban agama para pemain muslim—yang merupakan mayoritas di skuad—tetap terjaga. Di sisi lain, target poin penuh di laga kandang maupun tandang tidak terabaikan.
Manajemen menyadari bahwa performa fisik mungkin akan sedikit mengalami penyesuaian di hari-hari pertama puasa, namun dengan menggeser latihan ke sore hari, diharapkan peak performance pemain tetap terjaga saat pertandingan yang rata-rata digelar malam hari selama Ramadan.
“Kami hanya melakukan penyesuaian pada jam latihan agar teman-teman yang berpuasa tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan baik, tapi tetap mampu mengikuti porsi latihan secara maksimal di lapangan,” tutup Razzi.
Kini, publik pecinta sepakbola Yogyakarta menanti pembuktian strategi ini di lapangan. Apakah Laskar Mataram mampu menumbangkan Bali United dan PSBS Biak? Jawabannya akan tersaji di pekan kompetisi mendatang.
Iklan



